[Medan | 15 April 2026] Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell dengan menyatakan siap memecatnya jika tidak mengundurkan diri pada Mei mendatang.
Tekanan Terbuka ke Ketua The Fed
Dalam wawancara dengan Fox Business, Trump secara tegas menyatakan bahwa ia akan mengambil langkah pemecatan jika Powell tidak mundur setelah masa jabatannya sebagai Ketua The Fed berakhir pada 15 Mei 2026.
Meski demikian, Powell secara hukum masih memiliki masa jabatan sebagai anggota Dewan Gubernur hingga Januari 2028, sehingga potensi pemecatan ini memunculkan perdebatan hukum terkait independensi bank sentral.
Kontroversi Independensi Bank Sentral
Langkah Trump memicu kekhawatiran serius terkait independensi Federal Reserve, yang selama ini menjadi pilar utama kredibilitas kebijakan moneter AS.
Powell sebelumnya mengindikasikan tidak akan mundur di tengah investigasi yang sedang berlangsung terkait proyek renovasi gedung The Fed, yang kini turut menjadi alat tekanan politik dari Gedung Putih.
Situasi ini membuka risiko konflik institusional antara pemerintah dan bank sentral—sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah modern AS.
Kevin Warsh Muncul sebagai Kandidat Pengganti
Trump disebut mendorong Kevin Warsh sebagai kandidat pengganti Powell. Warsh dijadwalkan menjalani sidang konfirmasi di Senat pada 21 April.
Namun, proses ini berpotensi tidak berjalan mulus. Sejumlah senator dari kedua partai mulai menunjukkan penolakan, bahkan mengancam memblokir seluruh nominasi The Fed hingga investigasi hukum terhadap institusi tersebut selesai.
Investigasi DOJ Perumit Transisi
Tekanan terhadap The Fed semakin meningkat setelah Department of Justice melakukan investigasi terkait proyek renovasi gedung pusat bank sentral.
Proses hukum yang belum selesai ini berpotensi menghambat transisi kepemimpinan dan memperpanjang ketidakpastian di dalam tubuh otoritas moneter AS.
Dampak ke Pasar Keuangan
Konfrontasi antara Gedung Putih dan The Fed terjadi di tengah fase krusial kebijakan moneter, di mana pasar mulai mengantisipasi potensi pemangkasan suku bunga pada paruh kedua 2026.
Risiko utama bagi pasar:
- Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga
- Gangguan terhadap kredibilitas The Fed
- Potensi volatilitas di pasar saham dan obligasi
Secara historis, intervensi politik terhadap bank sentral cenderung memicu tekanan jangka pendek di pasar. Hal ini mulai tercermin dari pelemahan indeks saham AS setelah pernyataan Trump.

