[Medan | 13 Maret 2026] Presiden Donald Trump kembali mendesak Federal Reserve untuk segera menurunkan suku bunga di tengah lonjakan harga minyak akibat meningkatnya konflik dengan Iran.
Dalam unggahannya di platform Truth Social pada Kamis (12/3/2026), Trump secara langsung menekan Ketua The Fed Jerome Powell agar segera melonggarkan kebijakan moneter. Ia menyatakan bahwa bank sentral AS harus segera menurunkan suku bunga.
Ekspektasi Pasar Berbalik
Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, sentimen pasar berubah drastis. Investor kini memperkirakan lonjakan harga energi akan meningkatkan tekanan inflasi sehingga menyulitkan Federal Reserve untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Sebelum konflik meningkat, kontrak berjangka suku bunga memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun. Namun saat ini, pasar bahkan hampir tidak lagi memperhitungkan satu kali pemangkasan suku bunga pun pada tahun ini.
Pergantian Kepemimpinan The Fed
Perubahan ekspektasi pasar terjadi meskipun Trump telah menunjuk Kevin Warsh, mantan gubernur The Fed yang dikenal lebih mendukung kebijakan suku bunga rendah, untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve. Warsh diperkirakan mulai memimpin bank sentral pada pertengahan Mei, ketika masa jabatan Powell berakhir.
Selat Hormuz Jadi Titik Risiko Energi
Ketegangan geopolitik meningkat setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan komitmennya untuk tetap menutup Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan rute penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak global, sehingga gangguan di kawasan ini langsung memicu lonjakan harga energi dunia.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman April 2026 melonjak hingga US$95,7 per barel. Kenaikan harga minyak tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga bensin, biaya transportasi, serta harga pangan secara global.
Selain minyak, Selat Hormuz juga menjadi jalur utama pengiriman pupuk dunia, yang berarti gangguan distribusi dapat memperbesar tekanan inflasi pada sektor pangan.
Proyeksi Inflasi Naik
Analis dari Goldman Sachs memperkirakan inflasi Personal Consumption Expenditures Price Index (PCE)—indikator inflasi utama yang digunakan Federal Reserve—dapat meningkat hingga 2,9% pada Desember.
Revisi proyeksi tersebut juga mendorong bank investasi tersebut menggeser perkiraan pemangkasan suku bunga The Fed menjadi September, dari sebelumnya diperkirakan terjadi pada Juni tahun ini. Lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik dinilai berpotensi memperumit upaya bank sentral AS dalam menurunkan inflasi menuju target 2%.

