[Medan | 6 April 2026] Harga minyak kembali melonjak tajam setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran untuk segera membuka Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, Trump mengancam akan menghantam pembangkit listrik dan infrastruktur sipil Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Sentimen ini langsung mendorong harga minyak Brent menembus US$110 per barel, sementara WTI bergerak mendekati US$113 per barel, mencerminkan peningkatan risk premium yang signifikan di pasar energi global.
Disrupsi Pasokan dan Krisis Energi Global
Konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan ini mulai menciptakan guncangan pasokan yang serius. Penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, membuat distribusi energi global terganggu. Dampaknya, harga energi melonjak dan berpotensi memicu tekanan inflasi global serta memperlambat pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi negara importir energi.
Sinyal Ketatnya Pasokan dari Struktur Pasar
Indikasi kelangkaan pasokan semakin terlihat dari struktur pasar minyak. Spread Brent mengalami backwardation ekstrem, dengan selisih kontrak terdekat melonjak di atas US$10 per barel, terlebar sejak konflik dimulai. Bahkan, harga Dated Brent di pasar fisik sempat menembus US$140 per barel, level tertinggi sejak krisis energi 2008, menandakan tekanan nyata pada pasokan jangka pendek.
Respons Produsen dan Ketidakpastian Pasar
Kelompok OPEC+ telah memberikan sinyal peningkatan kuota produksi. Namun, langkah ini dinilai belum cukup efektif karena distribusi dari kawasan Teluk masih terhambat. Di sisi lain, inkonsistensi komunikasi Trump, antara sinyal de-eskalasi dan ancaman eskalasi, membuat volatilitas pasar semakin tinggi dan meningkatkan ketidakpastian arah harga ke depan.
Selat Hormuz Jadi Kunci Utama Konflik
Kontrol Iran atas Selat Hormuz tetap menjadi faktor penentu utama. Jalur ini masih dibatasi dengan hanya sebagian kecil kapal yang diizinkan melintas. Meski terdapat upaya diplomasi dari Oman untuk menjaga kelancaran arus minyak, realisasi di lapangan masih bergantung pada kondisi keamanan dan willingness pelaku pasar untuk mengambil risiko.
Dampak ke Market
Eskalasi terbaru ini mempertegas bahwa pasar saat ini berada dalam fase geopolitical-driven volatility. Lonjakan harga minyak akan mendorong inflasi global kembali naik, yang berpotensi menahan penurunan suku bunga oleh bank sentral.

