[Medan | 13 Februari 2026] Pasar saham Asia diperkirakan melemah pada perdagangan Jumat (13/2/2026) menyusul koreksi tajam di Wall Street yang dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi dan dampak ekonomi sektor kecerdasan buatan (AI). Indeks S&P 500 terkoreksi 1,6%, sementara Nasdaq 100 anjlok 2% pada Kamis waktu setempat, mencerminkan aksi jual agresif pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.
AI Sell-Off Menyebar ke Sektor Lain
Tekanan tidak hanya terbatas pada teknologi, tetapi juga merembet ke sektor logistik dan properti komersial—menandakan kekhawatiran investor terhadap efek lanjutan dari koreksi AI ke perekonomian riil. Saham Cisco Systems Inc terperosok 12% setelah proyeksi margin yang lemah mengindikasikan kenaikan biaya chip memori. Sementara itu, ETF sektor perangkat lunak jatuh 2,7%, mempertegas sentimen risk-off di sektor berbasis teknologi.
Pelarian ke Safe Haven
Di pasar obligasi, investor berbondong-bondong masuk ke Treasury AS. Yield obligasi tenor dua tahun turun 5 basis poin, sedangkan yield 10 tahun melemah 7 basis poin ke sekitar 4,1%. Aset berisiko lain seperti Bitcoin kembali tertekan ke kisaran US$65.700, sementara emas dan perak juga melemah seiring penguatan permintaan likuiditas.
Implikasi ke Bursa Asia
Sentimen negatif ini membayangi kontrak berjangka indeks saham Jepang, Australia, dan Hong Kong. Indeks saham perusahaan China yang tercatat di AS bahkan ditutup melemah hingga 3%. Kondisi ini membuka ruang koreksi lanjutan di Asia, terutama mengingat tingginya korelasi pergerakan pasar regional dengan Wall Street dalam fase volatilitas global.
Pandangan Analis: Risiko Korelasi Global
Chief Investment Officer Vantage Point Asset Management, Nick Ferres, menilai saham perangkat lunak saat ini diperdagangkan menyerupai saham perbankan menjelang krisis 2008. Ia mengingatkan bahwa meski Asia relatif berkinerja baik sepanjang tahun, risiko aksi lepas aset secara taktis (tactical unwind) tetap besar jika koreksi global berlanjut.
Fokus Inflasi AS dan Arah The Fed
Perhatian investor kini tertuju pada rilis data inflasi AS Januari yang diperkirakan menunjukkan inflasi inti 2,5% (yoy). Pasar masih skeptis terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Maret, dengan ekspektasi lebih condong ke Juli. Analis Citigroup Inc, Benjamin Wiltshire, menilai pasar terlalu optimistis terhadap disinflasi dan berisiko merevisi ekspektasi inflasi lebih tinggi, seiring ketahanan konsumsi AS.
Komoditas Tertekan, Geopolitik Membayangi
Harga minyak melemah di tengah sentimen penghindaran risiko global, sementara pasar masih mencermati ketegangan AS–Iran yang berpotensi memengaruhi pasokan energi. Tekanan ini memperkuat sikap defensif investor menjelang data ekonomi utama.
Titik Terang di Tengah Volatilitas
Meski pasar tertekan, sejumlah sinyal positif tetap muncul. Saham Applied Materials melonjak pasca-jam perdagangan berkat proyeksi penjualan yang kuat, menandakan permintaan peralatan semikonduktor berbasis AI masih solid. Selain itu, Anthropic dilaporkan merampungkan pendanaan besar, sementara OpenAI menyoroti meningkatnya persaingan global di industri AI, khususnya dari China.

