PT Fawz Finansial Indonesia
Newsletter Bonds Market
1 Januari 2025
Benchmark Series
| Series | Maturity Date | Coupon | Price 15/12/2025 | Price 2/1/2026 | Price Changes |
| FR0106 | 15 Aug 2040 | 7,125% | 106.95 | 107.90 | 0.9% |
| FR0103 | 15 Jul 2035 | 6,750% | 104.65 | 105.70 | 1.0% |
| FR0104 | 15 Jul 2030 | 6,500% | 103.85 | 104.25 | 0.4% |
| FR0098 | 15 Jun 2038 | 7,125% | 107.00 | 107.30 | 0.3% |
| FR0097 | 15 Jun 2043 | 7,125% | 106.40 | 107.15 | 0.7% |
Obligasi Terlaris Berdasarkan Volume
| Series | Avg Price | Volume (bio) | Freq |
| FR0104 | 104.09 | 2,624.86 | 67.00 |
| FR0108 | 103.16 | 1,498.63 | 39.00 |
| FR0106 | 107.27 | 1,465.66 | 49.00 |
| FR0096 | 105.78 | 1,155.32 | 33.00 |
| FR0103 | 105.18 | 1,144.67 | 57.00 |
Benchmark All Time High (ATH) & All Time Low (ATL)
| Series | Yield | Bid | Offer | |||
| ATL | ATH | ATL | ATH | ATL | ATH | |
| FR0106 | 6,90% | 7,34% | 98,04 | 107,05 | 97,71 | 107,35 |
| FR0103 | 6,28% | 7,21% | 96,65 | 105,55 | 96,65 | 106,15 |
| FR0104 | 6,05% | 7,06% | 97,50 | 104,00 | 96,50 | 104,60 |
| FR0098 | 6,21% | 7,24% | 99,15 | 108,80 | 98,05 | 107,80 |
| FR0097 | 6,34% | 7,49% | 96,20 | 108,80 | 94,99 | 108,05 |

2026: Tahun Game Changer untuk Obligasi Indonesia?
Jika 2025 adalah tahun ketika pasar menunggu arah suku bunga global, maka 2026 adalah tahun ketika pasar harus beradaptasi dengan realitas baru. Suku bunga memang cenderung turun, tetapi dunia tidak kembali ke era uang murah.
Yang berubah bukan hanya tingkat suku bunga, melainkan struktur likuiditas global. Investor masih memiliki dana, tetapi menjadi jauh lebih selektif dan lebih sensitif terhadap risiko. Perubahan ini akan menjadi faktor penentu arah pasar obligasi Indonesia ke depan, bahkan lebih besar dampaknya dibanding sekadar seberapa cepat Bank Indonesia atau The Fed memangkas suku bunga.
Likuiditas Global Berubah Arah
Selama lebih dari satu dekade, Jepang menjadi sumber utama uang murah global. Suku bunga yang sangat rendah mendorong bank, perusahaan asuransi, dan dana pensiun Jepang menempatkan dana ke luar negeri. Aliran inilah yang menekan yield obligasi global, termasuk obligasi pemerintah Indonesia.
Memasuki 2026, kondisi tersebut mulai berubah. Inflasi dan kenaikan upah mendorong Bank of Japan menormalisasi kebijakan moneternya. Yield obligasi Jepang, yang selama bertahun-tahun berada di level sangat rendah, kini bergerak naik.
Ketika imbal hasil domestik Jepang meningkat, kebutuhan investor Jepang untuk mencari yield ke luar negeri berkurang. Sebagian likuiditas global mulai kembali ke Jepang, dan strategi pendanaan murah berbasis yen menjadi kurang menarik. Akibatnya, aliran dana ke pasar obligasi emerging market, termasuk Indonesia, menjadi lebih selektif dan mudah berubah arah saat sentimen global memburuk.
Amerika Serikat: Suku Bunga Turun, Tapi Tekanan Fiskal Naik
Di tengah perubahan likuiditas global, AS tetap menjadi referensi utama pasar obligasi dunia. Memasuki 2026, The Fed diperkirakan masih akan memangkas suku bunga, tetapi dengan skala lebih kecil (50–60 basis poin). Namun, fokus investor kini tidak lagi hanya pada suku bunga, melainkan pada kondisi fiskal AS. Defisit anggaran tetap besar, sementara kebutuhan penerbitan obligasi pemerintah meningkat. Kebijakan pajak dan belanja pemerintahan Trump berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperbesar pasokan obligasi di pasar.
Kombinasi ini membuat yield US Treasury tenor panjang bertahan di level tinggi, meski suku bunga kebijakan menurun. Artinya, dorongan eksternal untuk penurunan yield obligasi emerging market menjadi lebih terbatas.
Selain itu, isu pergantian Ketua The Fed menambah ketidakpastian. Pasar akan mencermati sinyal independensi bank sentral, dan setiap indikasi tekanan politik berpotensi meningkatkan volatilitas pasar obligasi global. Risiko eskalasi tarif perdagangan AS juga tetap relevan, yang dapat menekan aset emerging, termasuk obligasi Indonesia.
Likuiditas Global: Dari Penopang Jadi Sumber Volatilitas
Normalisasi kebijakan Jepang, dikombinasikan dengan tekanan fiskal AS, membentuk lanskap likuiditas global yang berbeda. Likuiditas tidak menghilang, tetapi lebih selektif, lebih sensitif, dan lebih cepat berpindah arah.
Investor global menjadi lebih reaktif terhadap data inflasi, kebijakan fiskal, dan risiko geopolitik. Arus modal tidak lagi stabil dan berjangka panjang, melainkan lebih oportunistik. Dalam kondisi ini, pasar obligasi emerging lebih rentan terhadap volatilitas, meskipun fundamental domestik nya tetap solid.
Indonesia di 2026: Fundamental Domestik Jadi Penentu
Dalam lingkungan global seperti ini, pasar obligasi Indonesia tidak lagi bisa mengandalkan sentimen global semata. Fundamental domestik menjadi penentu utama
- inflasi yang terjaga,
- kebijakan Bank Indonesia yang kredibel,
- stabilitas nilai tukar rupiah,
- serta disiplin fiskal pemerintah.
Selama faktor-faktor domestik ini tetap solid, tekanan global cenderung bersifat episodik, bukan struktural. Namun, volatilitas akan lebih sering terjadi, dan respons pasar terhadap sentimen eksternal menjadi lebih cepat dibanding era likuiditas longgar. Peran investor domestik, khususnya perbankan dan institusi jangka panjang, memberikan bantalan penting terhadap arus dana asing, meski pasar obligasi Indonesia tetap sensitif terhadap perubahan dolar AS dan yield US Treasury.
Kesimpulan
Tahun 2026 menandai perubahan penting bagi pasar obligasi Indonesia. Meskipun suku bunga global, terutama AS, masih turun, aliran dana asing tidak lagi melimpah seperti sebelumnya. Investor luar negeri menjadi lebih selektif dan cepat menarik dana saat sentimen global memburuk. Dengan kondisi ini, pergerakan obligasi Indonesia tidak lagi sangat bergantung pada aliran dana asing, melainkan pada kekuatan domestik: inflasi yang terkendali, kredibilitas kebijakan Bank Indonesia, stabilitas rupiah, dan disiplin fiskal pemerintah.
Pasar obligasi cenderung bergerak dalam kisaran terbatas dengan fluktuasi sesekali yang dipicu faktor global seperti normalisasi suku bunga Jepang, tekanan fiskal AS, atau risiko geopolitik. Strategi yang tepat adalah memanfaatkan momen volatilitas untuk akumulasi secara selektif. Tenor menengah direkomendasikan sebagai tulang punggung portofolio karena memberikan keseimbangan antara imbal hasil dan risiko, sementara tenor panjang tetap bisa diakumulasi secara bertahap saat yield menarik, sehingga portofolio tetap tahan terhadap ketidakpastian global.
Obligasi IDR
Tenor Pendek (3-5 tahun) FR40, FR84, FR59, FR104, FR82, PBS03, PBS32
Tenor Menengah (5-10 Tahun) FR87, FR91, FR96, FR100, FR103
Tenor Panjang (>10 Tahun) FR98, FR106, FR92, FR97, FR107, FR76, FR89, FR102, FR108 PBS37, PBS38
Obligasi USD
Tenor Pendek (3-5 tahun) Indon26, Indon27, Indon27N
Tenor Menengah (5-10 Tahun) Indon32, Indon33
Tenor Panjang (>10 Tahun) Indon47N, Indon47, Indon53, Indon52
Disclaimer:
Buletin ini dimaksudkan untuk tujuan informasi dan bukan sebagai dasar untuk membeli dan menjual keputusan. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Klien harus mengetahui dan memahami risiko di Pasar Modal dan memahami isi buletin sebelum mengambil tindakan terkait. Oleh karena itu, PT Fawz Finansial Indonesia tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung yang diderita oleh klien sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam buletin ini.
By Aurel Fawz Finansial Indonesia

