Pemerintah menandai babak baru industri tekstil nasional dengan mengalokasikan anggaran sekitar USD 6 miliar atau setara Rp101 triliun untuk mempercepat modernisasi teknologi. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan sektor padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja, sekaligus memperkuat posisi industri tekstil Indonesia di tengah persaingan global yang kian ketat dan tekanan produk impor berharga murah.
Dorongan modernisasi tersebut diharapkan mempercepat peremajaan mesin dan peningkatan produktivitas pabrik, sehingga pelaku industri dapat menekan biaya produksi, memperbaiki kualitas, dan meningkatkan efisiensi. Jika berjalan efektif, transformasi ini berpotensi mengangkat utilisasi pabrik, memperluas peluang ekspor, serta memperkuat ketahanan industri domestik dengan produk yang lebih kompetitif dan bernilai tambah lebih tinggi.
Dari sisi regulasi, keyakinan pasar juga menguat seiring ketegasan pemerintah dalam melarang impor baju bekas ilegal dan memperketat pengawasan perdagangan. Kombinasi antara stimulus besar dan penegakan aturan yang jelas membuat investor melihat adanya upaya serius menciptakan iklim persaingan yang lebih sehat, sekaligus memberi sentimen positif bagi emiten tekstil di bursa yang siap melakukan transformasi dan memperbaiki kinerja. Meski demikian, pelaku pasar tetap akan mencermati realisasi kebijakan, kemampuan emiten menjaga arus kas, serta risiko biaya produksi dan kurs yang masih menjadi faktor penentu ke depan.
Industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia masih memiliki peran besar dalam ekonomi nasional, dengan pertumbuhan 4,26% (yoy) pada 2024 dan kontribusi sekitar Rp218,2 triliun terhadap PDB. Ekosistemnya pun luas, tercermin dari jumlah 1.992 perusahaan besar-sedang tekstil serta 1.960 perusahaan pakaian jadi pada 2023. Di tengah potensi modernisasi sektor ini, tantangan struktural tetap kuat karena nilai bahan baku industri tekstil pada 2023 mencapai Rp121.249 miliar, sementara pemerintah juga menegaskan perlindungan pasar domestik lewat larangan impor pakaian bekas melalui Permendag No. 40 Tahun 2022.
Dampak terhadap pasar saham indonesia
Menurut pandangan seorang analis, industri tekstil saat ini berada di persimpangan peluang dan tekanan. Secara global, permintaan masih besar—nilai pasar apparel dunia mencapai USD 1,77 triliun pada 2024—namun kompetisi makin ketat karena kapasitas produksi dunia terus ekspansif, dengan produksi serat tekstil naik dari 125 juta ton (2023) menjadi 132 juta ton (2024). Ini mengindikasikan bahwa ke depan pemenangnya bukan sekadar yang punya pasar, tetapi yang paling efisien dan produktif.
Di Indonesia, fondasi industrinya masih kuat: sektor tekstil dan pakaian jadi tumbuh 4,26% (yoy) pada 2024 dan menyumbang sekitar Rp218,2 triliun ke PDB, ditopang ekosistem ribuan pelaku usaha. Karena itu, analis menilai suntikan dana Rp101 triliun untuk modernisasi menjadi langkah yang tepat, apalagi diperkuat dengan stimulus regulasi berupa pengetatan dan pelarangan impor pakaian bekas (Permendag No. 40/2022). Kombinasi kebijakan ini mencerminkan keseriusan pemerintah membangun ulang industri tekstil nasional dan berpotensi memperkuat prospek emiten tekstil, karena membuka peluang naiknya utilisasi pabrik, perbaikan margin, hingga re-rating sektor jika eksekusi berjalan konsisten.
Maka dari itu, analis menilainya akan muncul nya tren positif terhadap sektor pada emiten yang berbasis tekstil ini di masa yang akan datang. Mengingat akan angin segar ini analis menilai sektor ini masih dihargai sangat murah di pasar. Peluang ini menjadi momentum bagi para investor untuk mulai melakukan akumulasi terhadap saham-saham yang mempunyai peluang lebih besar kedepannya. Adapun rekomendasi saham pada sektor ini ialah sebagai berikut:
- Trisula Textile Industries Tbk (BELL)
BELL merupakan emiten tekstil yang memproduksi benang dan kain, serta terhubung dengan ekosistem Trisula Group. Fokus bisnisnya kuat di segmen kain formal/seragam dan manufaktur tekstil. Secara fundamental BELL menunjukkan perbaikan kualitas kinerja di 2025 meskipun laba sempat volatil antar kuartal. Pada 2025, pendapatan BELL tercatat Q1 Rp151 miliar, Q2 Rp132 miliar, Q3 Rp130 miliar, dengan TTM (Q3) Rp572 miliar dan annualised sekitar Rp551 miliar. Sementara dari sisi profitabilitas, laba bersih 2025 berada di Q1 Rp6 miliar, Q2 -Rp983 juta, Q3 Rp389 juta, dengan annualised ±Rp7 miliar dan TTM (Q3) Rp5 miliar. Artinya, dari sisi penjualan BELL masih relatif solid, namun margin/laba masih sensitif dan belum sepenuhnya stabil, kemungkinan dipengaruhi fluktuasi biaya produksi, permintaan, atau efisiensi operasional kuartalan.
BELL memiliki eksposur ekspor yang kuat ke Jepang dan dianggap tidak terlalu terdampak oleh isu tarif AS, mengindikasikan bahwa perusahaan lebih banyak bergantung pada pasar yang “stabil” dibanding mengejar volume agresif di pasar yang lebih volatil. Hal ini penting karena industri tekstil global menuju 2025 semakin kompetitif—sehingga emiten dengan portofolio pasar ekspor yang lebih terarah bisa dinilai lebih defensif.
Secara keseluruhan, BELL masih punya “topline strength” (pendapatan kuat), tetapi investor akan fokus pada kemampuan perusahaan menjaga konsistensi laba. Jika stimulus pemerintah di tekstil benar-benar memperbaiki utilisasi industri dan menekan persaingan impor ilegal, maka BELL punya peluang untuk memperkuat margin ke depan dan memunculkan potensi penguatan saham yang lebih berkelanjutan—bukan hanya naik karena sentimen, tetapi karena fundamentalnya ikut membaik.
- Ever Shine Tex Tbk (ESTI)
PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) merupakan emiten di sektor tekstil yang bergerak pada bisnis produksi dan penjualan kain/produk tekstil, dengan karakter kinerja yang relatif stabil dibanding sejumlah pemain lain di industri yang sama. Dari kacamata analis, ESTI menarik dicermati karena mampu menjaga konsistensi penjualan dan tetap membukukan laba di tengah tekanan industri tekstil yang sensitif terhadap biaya produksi, persaingan impor, serta fluktuasi permintaan. Berdasarkan data terbaru tahun 2025, ESTI mencatat pendapatan yang stabil di level Rp108 miliar pada Q1, meningkat menjadi Rp109 miliar pada Q2 dan Rp110 miliar pada Q3, dengan TTM (Q3) Rp437 miliar dan annualised sekitar Rp436 miliar. Dari sisi profitabilitas, perusahaan membukukan laba bersih Rp20 miliar pada Q1 2025, lalu mencatat Rp4 miliar pada Q2 dan Rp5 miliar pada Q3, dengan TTM (Q3) Rp43 miliar dan annualised Rp39 miliar. Dengan tren tersebut, analis menilai ESTI berpotensi menjadi salah satu emiten tekstil yang lebih “fundamental-driven”, terutama jika kebijakan modernisasi industri dan pengetatan impor ilegal benar-benar menciptakan iklim persaingan yang lebih sehat dan membuka ruang perbaikan utilisasi serta margin industri tekstil ke depan.
Menurut pandangan analis, stabilnya pendapatan menjadi sinyal bahwa demand ESTI terjaga, sementara konsistensi laba memperlihatkan perusahaan memiliki kontrol biaya yang cukup baik, sehingga berpotensi mendapat respon positif pasar jika program modernisasi tekstil berjalan efektif. Terlebih, ketika pemerintah juga memperketat arus impor ilegal, ESTI diperkirakan memiliki peluang lebih besar untuk memperkuat posisi di pasar domestik, mendorong utilisasi, serta membuka ruang perbaikan margin yang dapat menjadi katalis penguatan saham secara lebih berkelanjutan.
- Eratex Djaja Tbk (ERTX)
PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) merupakan emiten tekstil yang dikenal sebagai pemain garment/apparel dengan skala penjualan yang relatif besar dibanding sejumlah emiten tekstil lain di BEI, sehingga pergerakan kinerjanya cukup sensitif terhadap permintaan pasar dan siklus industri. Dari sudut pandang analis, ERTX mencerminkan profil emiten tekstil yang sudah memiliki basis bisnis kuat karena pendapatannya masih tumbuh dan berada pada level tinggi di 2025, yakni Rp553 miliar pada Q1, kemudian Rp474 miliar pada Q2 dan Rp397 miliar pada Q3, dengan TTM (Q3) Rp1,911 triliun serta annualised sekitar Rp1,899 triliun. Stabilnya pendapatan di level ratusan miliar per kuartal ini mengindikasikan bahwa demand terhadap produk ERTX masih berjalan, meskipun terlihat adanya penurunan berurutan dari Q1 ke Q3 yang perlu dicermati sebagai sinyal normalisasi atau melemahnya momentum penjualan di paruh kedua tahun. Dari sisi profitabilitas (berdasarkan data pada gambar), ERTX membukukan laba bersih Rp20 miliar pada Q1 2025, lalu Rp4 miliar pada Q2 dan Rp5 miliar pada Q3, dengan TTM (Q3) Rp43 miliar dan annualised Rp39 miliar, yang menunjukkan perusahaan tetap mencetak profit namun margin laba terlihat lebih ketat dibanding skala pendapatannya. Dalam pandangan analis, katalis sektoral seperti modernisasi industri tekstil dan pengetatan impor ilegal dapat menjadi sentimen positif bagi ERTX, terutama jika kebijakan tersebut berhasil memperbaiki iklim industri domestik dan menjaga permintaan apparel lokal. Namun, pasar akan tetap menilai kemampuan ERTX mempertahankan margin dan menahan tekanan biaya produksi, sehingga penguatan saham yang lebih kuat biasanya akan datang ketika tren pendapatan kembali stabil dan profitabilitas menunjukkan perbaikan yang lebih konsisten.
Technical analysis
- BELL

Buy On Breakout
Entry : 110-120
TP 1 : 145
TP 2 : 202
TP 3 : 300
SL< 90
- ESTI

Buy On Breakout
Entry : 190-204
TP 1 : 232
TP 2 : 282
TP 3 : 312
SL < 167
- ERTX

Buy On Breakout
Entry : 268-280
TP 1 : 308
TP 2 : 350
TP 3 : 400
SL < 254
Disclaimer On
Buletin ini dimaksudkan untuk tujuan informasi dan bukan sebagai dasar untuk membeli dan menjual keputusan. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Klien harus mengetahui dan memahami risiko di Pasar Modal dan memahami isi buletin sebelum mengambil tindakan terkait. Oleh karena itu, PT Fawz Finansial Indonesia tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung yang diderita oleh klien sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam buletin ini.
By Zikri Fawz Finansial Indonesia

