Dalam beberapa bulan terakhir, pasar komoditas global menunjukkan pergerakan yang semakin agresif ditandai dengan rally signifikan pada harga emas dan minyak. Dua aset ini kembali menjadi pusat perhatian investor di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, risiko geopolitik, serta perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter global.
Emas menguat konsisten seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah volatilitas pasar dan ketidakpastian makroekonomi, yang juga didukung oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan suku bunga sehingga memperkuat daya tariknya sebagai penyimpan nilai jangka panjang. Sementara itu, harga minyak mengalami kenaikan tajam yang terutama dipicu oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, di mana risiko gangguan suplai di kawasan strategis membuat pasar energi menjadi lebih sensitif terhadap perkembangan berita dan sentimen, sehingga memicu lonjakan volatilitas harga dalam waktu relatif singkat.
Namun pertanyaan penting bagi pelaku pasar bukan lagi sekadar mengapa emas dan minyak naik, melainkan apa implikasi rally ini terhadap siklus komoditas selanjutnya. Secara historis, penguatan pada aset safe haven dan energi sering kali menjadi fase awal sebelum terjadi rotasi menuju komoditas siklikal lain, terutama logam industri yang berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi dan investasi infrastruktur global.
Berkaca pada krisis finansial global 2008, pola pergerakan komoditas menunjukkan siklus yang cukup jelas. Pada fase awal krisis, harga emas naik tajam karena investor mencari aset safe haven untuk melindungi nilai kekayaan. Seiring mulai pulihnya ekonomi global, harga minyak ikut menguat sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan kebutuhan energi. Pada fase berikutnya, logam industri seperti tembaga, aluminium, dan nikel mencatat rally kuat pada periode 2009–2011. Kenaikan ini didorong oleh pemulihan ekonomi global serta meningkatnya pembangunan infrastruktur, terutama di negara berkembang. Pola serupa juga terlihat pada periode 2020–2021 saat pandemi COVID-19 memicu ketidakpastian global yang mendorong kenaikan berbagai komoditas. Saat ini, pasar dinilai mulai memasuki fase lanjutan dari siklus pergerakan tersebut.
Secara historis, analis melihat bahwa pada masa krisis, aset safe haven seperti emas biasanya menjadi fase pertama dalam siklus komoditas karena berfungsi melindungi nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi. Setelah kondisi mulai stabil, fokus pasar bergeser pada kebutuhan riil ekonomi, terutama pembangunan infrastruktur dan peningkatan aktivitas industri yang mendorong permintaan terhadap komoditas industri.
Salah satu komoditas yang mulai menunjukkan momentum adalah tembaga. Dalam beberapa bulan terakhir, harga tembaga mengalami kenaikan yang mencerminkan meningkatnya permintaan global, di tengah kekhawatiran terhadap keterbatasan pasokan. Kondisi ini membuat tembaga diproyeksikan masih memiliki ruang kenaikan, dengan potensi harga mencapai sekitar 6.500 USD/Lbs.
Selain tembaga, aluminium juga sering mengalami penguatan pada fase pemulihan ekonomi. Logam ini banyak digunakan dalam konstruksi, transportasi, dan jaringan listrik, sehingga permintaannya meningkat ketika proyek infrastruktur dan aktivitas manufaktur kembali bergeliat. Dalam kondisi tersebut, permintaan aluminium kerap meningkat lebih cepat dibandingkan penyesuaian pasokan, sehingga mendorong kenaikan harga. Saat ini harga aluminium berada di kisaran 3.280 USD per ton, dengan potensi kenaikan hingga sekitar 4.000 USD per ton.
Komoditas lain yang juga berpotensi mengikuti tren tersebut adalah nikel. Logam ini memiliki peran penting dalam produksi stainless steel serta baterai kendaraan listrik, yang menjadikannya salah satu komoditas strategis di era transisi energi. Ketika ekonomi global mulai stabil dan aktivitas industri kembali meningkat, permintaan terhadap nikel biasanya ikut menguat seiring pulihnya produksi dan investasi. Saat ini harga nikel berada di sekitar 17.361 USD per ton, dengan potensi kenaikan menuju 19.000 USD per ton. Adapun rekomendasi untuk pantauan saham disaat kondisi seperti ini sebagai berikut:
- Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA)
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) merupakan emiten pertambangan dengan eksposur strategis pada tembaga melalui Tambang Wetar dan Proyek Tujuh Bukit Copper yang berpotensi menjadi aset jangka panjang berkelas dunia. Segmen tembaga berkontribusi material terhadap pendapatan, dengan sensitivitas tinggi terhadap pergerakan harga global yang dipengaruhi tren transisi energi dan elektrifikasi.
Secara fundamental, MDKA berada dalam fase ekspansi dengan pertumbuhan pendapatan yang ditopang pengembangan aset dan hilirisasi, namun profitabilitas masih tertekan akibat belanja modal besar dan struktur pembiayaan yang relatif agresif. Dengan demikian, MDKA mencerminkan profil high growth–high risk: memiliki leverage terhadap kenaikan harga tembaga dan peningkatan kapasitas produksi, tetapi tetap terekspos pada risiko volatilitas komoditas dan eksekusi proyek.
- PT PAM Mineral Tbk. (NICL)
PT PAM Mineral Tbk (NICL) berfokus pada penambangan bijih nikel laterit melalui metode open pit mining di wilayah konsesinya. Model operasinya berbasis produksi dan penjualan bijih mentah (direct shipping ore/DSO), dengan pengelolaan grade control dan stockpile management untuk menjaga konsistensi kadar nikel sesuai spesifikasi smelter domestik maupun ekspor.
Secara operasional, NICL menitikberatkan pada peningkatan volume produksi, optimalisasi stripping ratio, serta efisiensi logistik dari pit ke jetty agar siklus pengiriman tetap lancar. Perusahaan belum terintegrasi penuh ke hilirisasi smelter, sehingga eksposurnya lebih langsung terhadap permintaan bijih nikel dan dinamika kapasitas smelter dalam negeri. Model ini membuat struktur bisnis NICL lebih sederhana dan fokus pada eksekusi tambang serta volume throughput.
- Vale Indonesia Tbk. (INCO)
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) adalah produsen nikel terintegrasi yang menambang bijih laterit dan mengolahnya menjadi nickel matte melalui fasilitas smelter internal. Model ini menempatkan INCO pada rantai nilai hilir, bukan sekadar penjual bijih, sehingga kualitas produk dan kontrol proses menjadi keunggulan operasional utama.
Operasi INCO ditopang cadangan jangka panjang, infrastruktur energi mandiri, dan rencana ekspansi proyek baru untuk peningkatan kapasitas. Namun, struktur bisnis berbasis smelting membuat kinerja sensitif terhadap harga nikel global dan biaya energi. Secara analitis, INCO merepresentasikan emiten nikel berorientasi hilirisasi dengan stabilitas operasional kuat, namun tetap berada dalam siklus volatilitas komoditas.
Technical analysis
- MDKA

Buy On Weakness
Entry : 3210-3300
TP 1 : 3530
TP 2 : 3660
TP 3 : 3940
SL< 3000
- NICL

Buy On Weakness
Entry : 880-915
TP 1 : 1035
TP 2 : 1240
TP 3 : 1400
SL< 830
- INCO

Buy On Weakness
Entry : 5850-6000
TP 1 : 6400
TP 2 : 7025
TP 3 : 7500
SL< 5350
Disclaimer on
Buletin ini dimaksudkan untuk tujuan informasi dan bukan sebagai dasar untuk membeli dan menjual keputusan. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Klien harus mengetahui dan memahami risiko di Pasar Modal dan memahami isi buletin sebelum mengambil tindakan terkait. Oleh karena itu, PT Fawz Finansial Indonesia tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung yang diderita oleh klien sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam buletin ini.
By Zikri Fawz Finansial Indonesia

