[Medan | 27 Februari 2026] Industri perunggasan Indonesia memasuki fase pertumbuhan yang prospektif, didorong program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkatkan konsumsi protein hewani, khususnya daging ayam. Di tengah momentum ini, PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) menyiapkan kapasitas produksi jangka menengah dengan strategi ekspansi indukan ayam Grand Parent Stock (GPS).
Memasuki 2026, AYAM meningkatkan impor GPS dari Amerika Serikat dan Selandia Baru, melampaui realisasi 2025, sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menaikkan kuota impor GPS nasional dari 578 ribu ekor menjadi 800 ribu ekor untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan protein dari program MBG.
Direktur Utama AYAM, Sri Mulyani, menyatakan bahwa langkah ini bukan sekadar ekspansi, melainkan bagian dari strategi industri jangka panjang. Stabilitas harga livebird melalui HPP, pengendalian oversupply dengan culling DOC, dan dukungan stabilisasi pakan seperti SPHP Jagung, memberikan fondasi industri yang lebih sehat. “Dengan tambahan demand dasar dari MBG, peluang pertumbuhan industri terlihat kuat dan berkelanjutan,” ujar Sri Mulyani.
Sebagai bagian dari implementasi Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS yang diteken 19 Februari 2026, AYAM menjadi salah satu penerima kuota impor GPS sebesar 580.000 ekor dari AS. Pemerintah menegaskan kebijakan ini tetap mengutamakan perlindungan peternak dalam negeri serta keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional, mengingat Indonesia belum memiliki fasilitas pembibitan indukan utama sehingga ketergantungan impor tetap strategis.
Saat ini, AYAM memiliki fasilitas kandang GP dengan kapasitas fisik 60.000 ekor, namun operasional dibatasi 30.000 ekor per periode aktif untuk menjaga standar biosekuriti dan rotasi siklus 1,5 tahun. Pendekatan ini menjaga kualitas genetik dan performa produksi, sekaligus memberikan fleksibilitas pasokan untuk memenuhi permintaan puncak MBG pada 2027–2028.
Peningkatan impor dilakukan bertahap untuk menyesuaikan proyeksi pertumbuhan permintaan. Dengan strategi ini, AYAM memanfaatkan kombinasi faktor: HPP livebird menjaga margin peternak, pengendalian oversupply, stabilitas biaya pakan, permintaan berkelanjutan dari MBG, serta dukungan kebijakan perdagangan internasional.
Dengan model bisnis terintegrasi dan manajemen kapasitas yang disiplin, AYAM menempatkan diri pada posisi strategis untuk menangkap pertumbuhan tanpa menciptakan tekanan pasokan berlebih. Ekspansi ini tidak hanya memperkuat kinerja korporasi, tetapi juga menegaskan peran AYAM sebagai salah satu pilar penyedia protein hewani nasional.

