[Medan | 27 Maret 2026] PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat lonjakan signifikan pada awal perdagangan, bahkan nyaris menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA). Kenaikan ini terjadi setelah saham Garuda resmi keluar dari papan pemantauan khusus (Full Call Auction/FCA), memicu lonjakan minat beli di pasar.
Secara intraday, saham GIAA sempat menyentuh Rp96 sebelum ditutup di kisaran Rp89, dengan volume transaksi yang tinggi, mencerminkan euforia pasar dalam jangka pendek.
Keluar dari FCA Jadi Pemicu Utama
Katalis utama penguatan saham GIAA berasal dari keluarnya perseroan dari papan pemantauan khusus. Status FCA sebelumnya membatasi mekanisme perdagangan saham, sehingga keluarnya Garuda membuka kembali likuiditas dan fleksibilitas transaksi di pasar reguler.
Secara teknikal, perubahan status ini seringkali memicu lonjakan harga karena:
- Kembalinya akses investor yang lebih luas
- Peningkatan likuiditas perdagangan
- Repricing saham setelah periode restriksi
Namun, kenaikan ini lebih bersifat teknikal dibandingkan perubahan fundamental.
Fundamental Masih Tertekan
Di balik lonjakan harga saham, kinerja keuangan Garuda masih menunjukkan tekanan. Sepanjang 2025, perseroan membukukan rugi bersih sekitar Rp5,39 triliun, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.
Pendapatan juga mengalami penurunan, sementara beban operasional, terutama biaya penerbangan dan maintenance, masih mendominasi struktur biaya. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemulihan kinerja masih menghadapi tantangan struktural.
Meskipun ekuitas telah kembali positif, kondisi profitabilitas yang belum stabil menjadi faktor pembatas bagi re-rating jangka menengah.

