[Medan | 14 Agustus 2026] Investor menanti penyampaian Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (14/8/2026). Selain angka pertumbuhan ekonomi dan defisit, pasar akan mencermati seberapa konkret strategi pemerintah dalam mendorong konsumsi, investasi, hilirisasi, infrastruktur, serta menjaga kredibilitas fiskal.
Asumsi pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2027 telah disepakati pada kisaran 5,8%-6,5%, sementara defisit anggaran ditargetkan berada di rentang 1,8%-2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Senior Technical Analyst Nafan Aji Gusta mengatakan investor akan melihat apakah target pertumbuhan tersebut didukung oleh program yang konkret, khususnya dari sisi konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, hilirisasi, dan pembangunan infrastruktur. “Semakin kredibel strategi pencapaiannya, semakin positif untuk persepsi terhadap pasar saham,” kata Nafan dalam catatannya, Jumat (14/8/2026).
Bukan Sekadar Angka RAPBN
Bagi pasar keuangan, Nota Keuangan tahun ini memiliki arti lebih besar daripada sekadar melihat target penerimaan, belanja, dan defisit. Investor juga ingin mendapatkan gambaran mengenai arah besar kebijakan ekonomi pemerintah pada 2027.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan pasar akan mencermati bagaimana pemerintah menghubungkan kebijakan fiskal, moneter, pembiayaan pembangunan, serta strategi eksternal Indonesia dalam satu kerangka kebijakan. “Nota Keuangan bukan hanya dokumen fiskal. Dalam kondisi seperti sekarang, Nota Keuangan juga berfungsi sebagai expectation guidance bagi pasar keuangan,” kata Fakhrul.
Artinya, respons pasar tidak hanya ditentukan oleh apakah angka defisit lebih besar atau lebih kecil dari perkiraan. Yang lebih penting adalah apakah kebijakan fiskal tersebut dianggap mampu menghasilkan pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas fiskal. Pasar juga akan menguji kualitas belanja pemerintah. Belanja yang diarahkan pada sektor produktif dan memiliki multiplier effect terhadap aktivitas swasta berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pasar saham.
IHSG Menanti Katalis Fiskal
IHSG sebelumnya ditutup melemah 1,13% ke level 6.301 pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Pelemahan terutama berasal dari sektor barang baku, energi, dan perindustrian yang masing-masing turun 2,92%, 2,32%, dan 2,31%.
Sektor konsumen non-primer juga terkoreksi 1,59%, sementara sektor transportasi melemah 1,32%. Tekanan terutama terlihat pada saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan sejumlah saham barang baku lainnya.
Kondisi tersebut membuat pidato RAPBN 2027 menjadi katalis penting untuk menentukan apakah IHSG mampu kembali mendapatkan momentum setelah koreksi sehari sebelumnya. Nafan memperkirakan level support IHSG berada di 6.242 dan 6.191, sementara resistance berada di 6.363 dan 6.406.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas melihat IHSG masih bertahan di atas MA20. Namun, momentum penguatan mulai berkurang seiring penyempitan histogram positif MACD yang berlanjut dan berpotensi membentuk death cross. Dengan kondisi tersebut, Phintraco memperkirakan IHSG masih akan bergerak terbatas pada kisaran 6.230-6.370 pada perdagangan Jumat.
Sektor Apa yang Diuntungkan?
Jika RAPBN menunjukkan penguatan belanja produktif, sejumlah sektor berpotensi memperoleh sentimen positif. Konstruksi, infrastruktur, semen, basic materials, transportasi, consumer, dan perbankan menjadi sektor yang sensitif terhadap peningkatan aktivitas ekonomi dan belanja pemerintah.
Sektor yang berkaitan dengan hilirisasi dan energi juga dapat memperoleh katalis apabila pemerintah memberikan kejelasan mengenai proyek dan insentif yang mendukung investasi serta peningkatan kapasitas industri domestik.
Namun, pasar kemungkinan tidak akan langsung merespons positif seluruh sektor. Investor akan melihat siapa yang benar-benar memperoleh manfaat dari peningkatan belanja pemerintah dan apakah proyek tersebut memiliki dampak nyata terhadap pendapatan maupun laba emiten.
Inflasi AS Beri Ruang bagi Pasar Global
Dari eksternal, sentimen pasar relatif lebih mendukung aset berisiko setelah inflasi AS menunjukkan tekanan yang lebih terkendali. Dua laporan inflasi berturut-turut yang relatif jinak, ditambah data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) untuk memperketat kebijakan pada September.
Harga minyak juga memberikan sedikit kelegaan. Harga minyak mentah AS berada di sekitar US$81 per barel pada awal perdagangan Jumat setelah turun 2,4% pada sesi sebelumnya. Brent juga mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari sepekan dan mengakhiri reli enam hari berturut-turut.
Kombinasi inflasi AS yang mereda dan harga minyak yang lebih rendah berpotensi mendukung pasar negara berkembang melalui penurunan tekanan suku bunga global dan inflasi. Namun, risiko geopolitik masih menjadi perhatian. Ketidakpastian mengenai konflik Timur Tengah dan Selat Hormuz dapat kembali mendorong harga energi apabila situasi memburuk.
Di pasar global, sentimen teknologi juga kembali positif. S&P 500 naik 0,7% dan mencetak rekor tertinggi pada Kamis, sementara Nasdaq 100 melonjak lebih dari 1% ke level tertinggi sejak akhir Juni. Penguatan tersebut didorong peningkatan belanja perusahaan hyperscaler yang kembali menopang saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dampak ke Pasar
Bagi IHSG, pidato RAPBN 2027 berpotensi menjadi katalis positif apabila pemerintah memberikan peta kebijakan yang konkret dan kredibel. Pasar membutuhkan lebih dari sekadar target pertumbuhan 5,8%-6,5%; investor ingin melihat bagaimana target tersebut dicapai dan sektor mana yang akan menjadi mesin pertumbuhan.
Bagi rupiah, kebijakan fiskal yang tetap disiplin akan membantu menjaga persepsi terhadap stabilitas makro. Sebaliknya, apabila pasar menilai stimulus terlalu agresif dan kebutuhan pembiayaan meningkat signifikan, tekanan dapat muncul melalui kenaikan premi risiko dan kebutuhan penerbitan surat utang.
Untuk obligasi, perhatian utama akan tertuju pada defisit dan strategi pembiayaan. Defisit yang masih terkendali dan belanja yang produktif cenderung positif bagi SUN karena menjaga kredibilitas fiskal. Namun, kebutuhan penerbitan yang jauh lebih besar dari ekspektasi dapat memberikan tekanan terhadap yield, terutama tenor panjang.
Prospek dan Strategi
Dalam jangka pendek, IHSG kemungkinan masih bergerak sideways dengan bias wait and see hingga pasar mencerna isi RAPBN 2027. Area 6.363-6.406 menjadi zona penting untuk melihat apakah indeks mampu kembali melanjutkan momentum penguatan.
Jika pemerintah menyampaikan program yang konkret, belanja produktif meningkat, dan target pertumbuhan dianggap realistis, IHSG berpeluang kembali menguji resistance tersebut. Sebaliknya, jika pasar menilai asumsi pertumbuhan terlalu agresif atau pembiayaan fiskal berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar obligasi, respons pasar dapat kembali negatif.
Bagi investor saham, strategi yang lebih tepat adalah selective buying, terutama pada sektor yang memiliki keterkaitan langsung dengan belanja produktif, infrastruktur, hilirisasi, konsumsi, dan pembiayaan. Investor sebaiknya tidak sekadar mengejar saham yang bergerak karena sentimen pidato.

