[Medan | 13 Agustus 2026] Investor asing kembali memburu sejumlah saham yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Empat saham dalam grup Prajogo masuk jajaran dengan net buy asing terbesar, yakni PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).
IHSG ditutup naik 105,96 poin atau 1,69% ke level 6.373 pada perdagangan Rabu. Sejalan dengan penguatan indeks, investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp725,41 miliar di seluruh pasar. Khusus pasar reguler, net buy asing mencapai Rp482,79 miliar. PTRO menjadi saham yang paling banyak diborong investor asing dengan nilai net buy Rp174,86 miliar. Aksi tersebut turut mendorong saham PTRO melonjak 11,56% ke level Rp5.500 per saham.
Empat Saham Prajogo Masuk Buruan Asing
Selain PTRO, investor asing juga mencatatkan net buy besar pada BREN sebesar Rp138,45 miliar. Saham CUAN menyusul dengan net buy Rp135,31 miliar, sementara BRPT mencatatkan pembelian bersih Rp129,25 miliar. Dengan demikian, total net buy asing pada empat saham yang terafiliasi dengan kelompok usaha Prajogo Pangestu mencapai sekitar Rp577,87 miliar dalam satu perdagangan.
Besarnya aliran dana asing tersebut menarik perhatian karena terjadi sehari setelah Prajogo Pangestu menambah kepemilikannya di CUAN. Prajogo membeli 51,7 juta saham CUAN melalui 13 transaksi pada 11 Agustus dengan kisaran harga Rp680-Rp740 per saham. Nilai keseluruhan transaksi mencapai sekitar Rp35,15 miliar-Rp38,26 miliar.
Aksi tersebut dilakukan menjelang pengumuman hasil tinjauan indeks MSCI Agustus 2026. Namun, pembelian asing pada empat saham tersebut belum dapat secara langsung disimpulkan sebagai respons terhadap aksi korporasi Prajogo maupun hasil review MSCI.
MSCI Jadi Salah Satu Katalis
Timing pembelian asing menjadi semakin menarik karena MSCI baru saja mengumumkan hasil review Agustus 2026. Dalam hasil tersebut, Indonesia tetap berada dalam kelompok emerging markets, tetapi sejumlah saham Indonesia mengalami perubahan dalam konstituen indeks.
GOTO dan CPIN dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, sementara CPIN dialihkan ke MSCI Global Small Cap Indexes. Tidak terdapat penambahan saham Indonesia baru ke dalam Global Standard.
Bagi investor asing, perubahan indeks dapat memicu penyesuaian portofolio menjelang tanggal efektif rebalancing. Namun, besarnya net buy pada PTRO, BREN, CUAN, dan BRPT menunjukkan bahwa aliran dana asing tidak hanya terkonsentrasi pada saham yang terdampak langsung perubahan indeks.
Kinerja saham-saham tersebut juga memiliki sensitivitas terhadap sentimen komoditas, energi, dan prospek bisnis grup Prajogo. Karena itu, faktor fundamental dan ekspektasi investor terhadap sektor energi serta komoditas tetap menjadi bagian penting dari pergerakan harga.
Bank Besar Justru Jadi Sasaran Net Sell
Di tengah aksi beli pada saham-saham Prajogo, investor asing justru melakukan penjualan besar pada saham perbankan dan telekomunikasi. BMRI mencatatkan net sell asing terbesar dengan nilai Rp245,71 miliar. TLKM berada di posisi berikutnya dengan net sell Rp98,38 miliar. Aksi jual juga terjadi pada MEDC sebesar Rp30,95 miliar, UNTR Rp27,94 miliar, MDKA Rp25,38 miliar, dan ANTM Rp24,88 miliar.
Menariknya, tekanan jual pada BMRI belum mampu membalikkan arah saham tersebut. BMRI tetap ditutup menguat 0,24% ke Rp4.130 per saham. Hal ini menunjukkan bahwa aksi beli dari investor domestik masih mampu menyerap sebagian tekanan jual asing.
Perbedaan aliran dana tersebut menunjukkan adanya rotasi sektoral di pasar. Investor asing tidak sekadar menambah eksposur terhadap Indonesia secara menyeluruh, tetapi terlihat melakukan reposisi dari sejumlah saham big caps menuju saham yang memiliki eksposur lebih besar terhadap energi, komoditas, dan konglomerasi.
Dampak ke IHSG
Net buy asing yang kembali kuat memberikan sentimen positif bagi IHSG, terutama setelah indeks sebelumnya terkoreksi hampir 2% pada Selasa (11/8). Penguatan 1,69% pada Rabu menunjukkan bahwa investor mulai melakukan bargain hunting setelah ketidakpastian terkait MSCI mereda.
Namun, investor perlu membedakan antara penguatan IHSG karena broad-based buying dan penguatan yang terutama ditopang beberapa saham tertentu. Jika aliran dana asing tetap terkonsentrasi pada saham energi dan konglomerasi, penguatan indeks belum tentu menunjukkan perbaikan sentimen pada seluruh pasar.
Di sisi lain, keberlanjutan net buy asing akan menjadi katalis penting. Apabila asing mulai kembali membeli saham perbankan seperti BMRI, BBCA, dan BBRI, penguatan IHSG akan memiliki basis yang lebih luas dan cenderung lebih sehat.
Prospek dan Strategi
Untuk saat ini, sentimen terhadap IHSG cenderung positif, ditopang oleh meredanya risiko MSCI, net buy asing, serta penguatan saham-saham berkapitalisasi besar dan sektor energi. Namun, investor perlu mewaspadai risiko aksi ambil untung setelah kenaikan tajam dalam waktu singkat.
Empat saham Prajogo yang diborong asing juga perlu dicermati dari sisi keberlanjutan foreign flow. Jika net buy berlanjut, aksi tersebut dapat menjadi konfirmasi bahwa minat investor asing terhadap saham-saham energi dan konglomerasi masih kuat. Namun jika hanya terjadi satu kali, kenaikan harga berisiko lebih banyak mencerminkan positioning jangka pendek.
Dengan demikian, strategi yang lebih tepat saat ini adalah selective buying, bukan mengejar seluruh saham yang mengalami lonjakan. Investor dapat mencermati keberlanjutan net buy asing, perkembangan harga komoditas, serta volume transaksi untuk melihat apakah rotasi menuju saham energi dan grup Prajogo benar-benar berlanjut.
Bagi IHSG, level 6.400 menjadi area penting berikutnya. Jika mampu ditembus dengan dukungan foreign flow yang tetap kuat, peluang penguatan menuju 6.450 semakin terbuka. Sebaliknya, apabila aksi beli asing mulai melemah dan terjadi profit taking, investor perlu mewaspadai konsolidasi setelah reli tajam sebelumnya.

