[Medan | 26 Januari 2026] Federal Reserve Amerika Serikat diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar pekan ini. Konsensus pasar menunjukkan probabilitas yang sangat tinggi, berkisar antara 95,6% hingga mendekati 99%, bahwa bank sentral AS tidak akan mengubah arah kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
Sikap ini mencerminkan pendekatan hati-hati The Fed di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Para pembuat kebijakan dinilai masih menerapkan ambang yang lebih tinggi untuk kembali memangkas suku bunga, seiring kebutuhan menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang.
Sejumlah ekonom Wells Fargo, termasuk Sarah House, Michael Pugliese, dan Tom Porcelli, memproyeksikan FOMC akan menahan suku bunga pada level saat ini. Pandangan tersebut sejalan dengan analis Nomura yang menilai peluang perubahan suku bunga sangat kecil, meskipun terdapat suara minoritas di pasar yang masih membuka ruang pelonggaran lanjutan.
Menurut Wells Fargo, ruang pelonggaran kebijakan moneter kini semakin sempit. Kondisi ekonomi AS dinilai belum sepenuhnya memberikan justifikasi kuat bagi pemangkasan suku bunga tambahan, sementara risiko volatilitas pasar tetap menjadi perhatian utama.
Dari sisi fundamental, inflasi yang masih berada di atas target 2% menjadi faktor kunci di balik kehati-hatian The Fed. Tekanan harga yang belum sepenuhnya mereda membuat bank sentral tetap memprioritaskan stabilitas inflasi. Di saat yang sama, pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan ketahanan, memperkuat argumen untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Sejumlah indikator ekonomi terbaru, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI), data non-farm payrolls, dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), mengindikasikan bahwa ekonomi AS masih berada dalam kondisi solid. Dengan latar belakang tersebut, The Fed dinilai tidak memiliki urgensi untuk kembali melonggarkan kebijakan dalam jangka pendek.
Pada pertemuan Desember lalu, The Fed sempat memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, menurunkan kisaran suku bunga ke level 3,5%–3,75%. Pemangkasan tersebut merupakan yang ketiga sepanjang tahun, sebagai upaya menyeimbangkan antara dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi.
Meski demikian, The Fed tetap berhati-hati agar pelonggaran moneter tidak memicu lonjakan inflasi baru. Wells Fargo menilai risiko inflasi akan meningkat jika bank sentral terlalu agresif menurunkan suku bunga, terutama di tengah ketahanan ekonomi yang masih terjaga.
Ke depan, arah kebijakan moneter AS diperkirakan akan bersifat gradual dan selektif. Ketidakpastian global, dinamika geopolitik, serta sensitivitas pasar keuangan menjadi faktor yang membatasi ruang gerak The Fed dalam melonggarkan kebijakan lebih jauh. Pasar kini menanti pernyataan resmi FOMC untuk memperoleh sinyal lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.

