[Medan | 27 Februari 2026] Amerika Serikat dan Iran mencatat kemajuan signifikan dalam pembicaraan terkait sengketa nuklir yang telah berlangsung lama. Mediator Oman menyatakan kedua pihak sepakat melanjutkan negosiasi dalam waktu dekat, dengan pertemuan teknis direncanakan kurang dari sepekan di Wina setelah konsultasi internal masing-masing negara.
Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, menilai diskusi tidak langsung di Swiss menunjukkan perkembangan positif, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyebut putaran ini sebagai salah satu yang paling serius dengan AS, meski masih terdapat perbedaan pandangan, terutama terkait pencabutan sanksi dan batasan hak pengayaan uranium.
AS menekankan penghentian total pengayaan uranium sebagai prasyarat, sementara Iran menegaskan hak pengayaan tetap diakui dan menyatakan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei telah melarang pengembangan senjata nuklir. Trump sebelumnya memberi tenggat singkat dan mengancam konsekuensi serius jika kesepakatan gagal, diiringi peningkatan kehadiran militer AS di kawasan.
Selain isu nuklir, AS menuntut pembahasan program rudal balistik Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata regional. Iran menekankan kesiapannya untuk memberi konsesi teknis namun tetap menjaga kepentingan nasional dan hak pengayaan. Tekanan ekonomi akibat sanksi dan protes domestik menambah urgensi bagi Iran untuk menghasilkan kemajuan diplomatik.
Dengan putaran lanjutan segera digelar, perhatian global kini tertuju pada apakah momentum positif ini cukup untuk menjembatani perbedaan mendasar dan mencegah eskalasi konflik di Timur Tengah.

