[Medan | 25 Maret 2026] Ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve mengalami perubahan tajam dalam waktu singkat. Berdasarkan CME FedWatch per 20 Maret, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember 2026 kini mencapai 25%, berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang cenderung mengarah pada pemangkasan suku bunga.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran signifikan dalam persepsi pasar, di mana skenario kenaikan suku bunga kini mulai diperhitungkan secara serius, seiring meningkatnya risiko inflasi global.
Dari Rate Cut ke Potensi Rate Hike
Beberapa hari sebelumnya, pasar masih meyakini bahwa langkah berikutnya dari The Fed adalah pelonggaran kebijakan moneter. Bahkan, ekspektasi pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali sempat menjadi konsensus pada awal tahun.
Namun, dinamika tersebut berubah cepat. Struktur risk-reward di pasar futures kini menunjukkan bahwa posisi yang bertaruh pada kenaikan suku bunga mulai seimbang dengan skenario suku bunga tetap, menandakan pasar tidak lagi condong ke arah pelonggaran.
Lonjakan Inflasi Jadi Pemicu Utama
Perubahan ekspektasi ini tidak terlepas dari meningkatnya tekanan inflasi, terutama akibat lonjakan harga energi di tengah konflik Amerika Serikat–Iran. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali persisten, sehingga mempersempit ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan.
Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa risiko inflasi saat ini lebih besar dibandingkan risiko pelemahan pasar tenaga kerja. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Gubernur The Fed Christopher Waller, yang sebelumnya dikenal cenderung dovish. Waller menyatakan bahwa risiko inflasi berkepanjangan cukup signifikan untuk menunda pemangkasan suku bunga, bahkan membuka peluang kebijakan yang lebih ketat.
Pasar Obligasi Kirim Sinyal Pengetatan
Reaksi pasar terlihat jelas pada pergerakan yield US Treasury, khususnya tenor 2 tahun yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter. Yield 2 tahun naik tajam ke sekitar 3,89%, atau sekitar 25 basis poin di atas suku bunga efektif The Fed.
Selisih ini menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir dan mencerminkan ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter ke depan berpotensi lebih ketat dibandingkan kondisi saat ini. Fenomena serupa terakhir terjadi saat The Fed memasuki fase pengetatan agresif pasca pandemi.

