[Medan | 23 Februari 2026] Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal keempat 2025 (Q4 2025) tercatat sebesar 1,4%, jauh di bawah ekspektasi konsensus pasar yang memperkirakan pertumbuhan mencapai 3,5%. Angka ini menjadi sinyal pelemahan ekonomi yang cukup signifikan, menyoroti perlambatan aktivitas konsumsi dan investasi di tengah dinamika kebijakan fiskal dan perdagangan.
Salah satu faktor utama di balik perlambatan ini adalah penurunan tajam Pengeluaran Konsumsi Pemerintah. Menurut catatan Mureks, kondisi tersebut dipicu oleh penutupan operasional pemerintah federal selama 43 hari, yang berdampak material terhadap PDB dan turut memengaruhi Pengeluaran Konsumsi Pribadi. Penutupan ini menimbulkan gangguan signifikan pada sektor publik dan rantai pasokan, sehingga berimbas pada perlambatan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Selain faktor domestik, dinamika kebijakan perdagangan juga turut menekan prospek pertumbuhan. Mahkamah Agung Supreme Court of the United States baru-baru ini membatalkan sebagian besar tarif yang diterapkan mantan Presiden Donald Trump di bawah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA). Keputusan ini diperkirakan akan berdampak negatif terhadap ekspor neto dan investasi swasta domestik, karena mengurangi perlindungan tarif yang sebelumnya mendorong sektor manufaktur dan perdagangan luar negeri.
Menanggapi keputusan tersebut, Trump menyatakan niatnya untuk memberlakukan kembali tarif melalui undang-undang alternatif, yakni Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan tahun 1974. Dengan menggunakan wewenang ini, presiden berpotensi mengenakan tarif hingga 15% untuk impor tertentu dalam jangka waktu 150 hari. Trump juga menyebut akan melanjutkan investigasi tambahan berdasarkan Pasal 301 dan Pasal 232, yang sebelumnya digunakan untuk mengenakan bea masuk terhadap produk-produk China, termasuk kendaraan, logam, dan ekspor lainnya. Langkah ini menambah ketidakpastian bagi pasar dan menjadi faktor risiko tambahan bagi proyeksi ekonomi jangka pendek.
Akibat perlambatan PDB dan ketidakpastian kebijakan tarif, para analis kini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal pertama 2026 (Q1 2026) akan berada di kisaran 1,75%, dengan rentang ±0,5 poin persentase. Proyeksi ini mencerminkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi tetap lemah sementara tekanan inflasi masih terkendali, sehingga memunculkan kemungkinan Federal Reserve mempertimbangkan pelonggaran suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Situasi ini sekaligus menegaskan sensitivitas pasar terhadap dinamika kebijakan pemerintah dan pengadilan tinggi AS. Kombinasi perlambatan pertumbuhan, ketidakpastian tarif, dan potensi langkah-langkah fiskal baru dari administrasi Trump diperkirakan akan menjadi fokus utama pelaku pasar dan investor global dalam beberapa bulan ke depan, baik dalam keputusan investasi maupun strategi pengelolaan risiko.

