[Medan | 7 Agustus 2026] Harga minyak dunia kembali menguat tajam pada perdagangan Kamis (6/8/2026) setelah muncul laporan bahwa parlemen Iran tengah membahas rancangan undang-undang (RUU) yang berpotensi melarang kapal Amerika Serikat (AS), Israel, dan sejumlah negara yang dianggap bermusuhan melintasi Selat Hormuz. Wacana tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, sehingga mendorong investor kembali membeli minyak.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Oktober ditutup naik US$3,04 atau 3,83% ke level US$82,49 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,07 atau 2,75% menjadi US$77,29 per barel.
RUU Selat Hormuz Kembali Picu Kekhawatiran Pasar
Sentimen utama datang dari laporan kantor berita semi-resmi Iran, Fars, yang menyebut sebuah komite parlemen tengah mengkaji rancangan undang-undang yang melarang kapal-kapal AS, Israel, serta negara lain yang dianggap bermusuhan melintasi Selat Hormuz.
RUU tersebut juga mengusulkan sanksi berupa denda hingga 20% dari nilai muatan kapal bagi pihak yang melanggar aturan. Meski masih berada pada tahap pembahasan dan belum menjadi kebijakan resmi pemerintah Iran, pasar langsung merespons negatif karena Selat Hormuz merupakan jalur distribusi energi paling strategis di dunia.
Senior Vice President of Trading BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan pasar minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan negosiasi antara AS dan Iran. “Semakin lama kesepakatan tertunda, semakin besar peluang harga minyak kembali menguat,” ujarnya.
Risiko Geopolitik Meluas ke Laut Merah
Selain perkembangan di Selat Hormuz, ketegangan juga meningkat di Laut Merah setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap pasukan yang didukung Arab Saudi di wilayah Marib dan Hadramout. Kelompok Houthi juga mengaku menyerang kapal tanker minyak Arab Saudi di lepas pantai Yanbu serta kapal tanker lainnya di Teluk Aden. Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Arab Saudi terkait klaim tersebut.
Menurut Mitra Again Capital, John Kilduff, eskalasi di luar Teluk Persia menunjukkan bahwa risiko terhadap jalur distribusi energi global masih sangat tinggi. “Hingga saat ini pasar terus bergerak mengikuti perkembangan konflik. Ancaman terhadap Laut Merah mengingatkan bahwa risiko gangguan pasokan belum benar-benar berakhir,” katanya.
Pasokan Energi Masih Tertekan
Sebelum konflik meningkat pada akhir Februari, sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia dikirim melalui Selat Hormuz. Data pengiriman menunjukkan ekspor minyak mentah dan kondensat negara-negara Teluk selama Juli masih sekitar 40% lebih rendah dibandingkan sebelum perang. Di sisi lain, Iran juga dikabarkan memperingatkan negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru AS terhadap wilayahnya akan dibalas dengan menyerang infrastruktur energi di kawasan.
Di Rusia, risiko pasokan juga bertambah setelah sebuah kilang minyak utama di wilayah Yaroslavl dilaporkan terbakar akibat serangan drone Ukraina. Meski demikian, analis Julius Baer Roberto Cominotto menilai hingga saat ini serangan-serangan tersebut belum memberikan gangguan signifikan terhadap pasokan minyak global. Namun, kondisi tersebut dapat berubah apabila eskalasi konflik terus meningkat.
Pasar Tetap Sangat Volatil
Kenaikan harga minyak kali ini terjadi hanya sehari setelah pasar sempat optimistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan sementara antara AS dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen pasar masih sangat dipengaruhi oleh setiap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Selama belum ada kepastian mengenai status Selat Hormuz maupun proses negosiasi antara Washington dan Teheran, harga minyak diperkirakan akan tetap bergerak sangat volatil. Setiap perkembangan yang mengarah pada de-eskalasi berpotensi menekan harga minyak kembali, sementara meningkatnya risiko konflik atau ancaman terhadap jalur distribusi energi kemungkinan akan kembali mendorong harga minyak naik.


