[Medan | 28 April 2026] Pemerintah tengah menyiapkan langkah intervensi untuk meredam dampak lonjakan harga plastik global terhadap industri domestik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa rapat lintas kementerian/lembaga akan digelar pada Selasa (28/4/2026) guna membahas skema insentif bagi sektor yang terdampak.
Harga Plastik Naik, Pemerintah Siapkan Stimulus
Kenaikan harga plastik dipicu oleh terganggunya rantai pasok global, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada distribusi bahan baku petrokimia. Pemerintah melalui Satuan Tugas Percepatan Program Strategis akan mengevaluasi opsi stimulus, termasuk kebijakan debottlenecking untuk menjaga kelangsungan industri.
Meski belum merinci bentuk insentif, pemerintah menegaskan fokus pada menjaga daya saing industri dalam negeri di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat.
Ketergantungan Impor Masih Tinggi
Data menunjukkan Indonesia masih sangat bergantung pada impor plastik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai impor plastik mencapai sekitar US$949,2 juta pada Januari 2026, meningkat sekitar 5,9% secara tahunan. Sementara pada Februari 2026, nilainya tercatat US$873,2 juta, dengan pasokan utama berasal dari China, Thailand, dan Korea Selatan.
Lonjakan impor ini mencerminkan tingginya kebutuhan industri domestik, sekaligus kerentanan terhadap fluktuasi harga global.
Biaya Logistik Melonjak, Lead Time Makin Panjang
Tekanan harga tidak hanya berasal dari bahan baku, tetapi juga dari sisi logistik. Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz menyebabkan waktu pengiriman meningkat signifikan dari rata-rata 15 hari menjadi hingga 50 hari.
Kondisi ini berdampak pada:
- Kenaikan biaya freight dan surcharge
- Gangguan arus bahan baku
- Tekanan pada margin industri hilir
Pemerintah Dorong Substitusi ke Kemasan Non-Plastik
Sebagai langkah mitigasi jangka menengah, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mulai mendorong diversifikasi ke bahan alternatif seperti kertas dan kaca.
Saat ini:
- Kemasan plastik mendominasi sekitar 48%
- Kemasan berbasis kertas baru sekitar 28%
- Penggunaan kaca masih sangat kecil (~3%)
Pemerintah melihat potensi peningkatan penggunaan bahan non-plastik sebagai peluang untuk memperkuat industri domestik sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Respons Industri: Jaga Pasokan, Waspadai Margin
Pelaku industri petrokimia dan plastik, termasuk pemain besar seperti Chandra Asri Petrochemical dan Lotte Chemical Indonesia, menyatakan komitmennya untuk menjaga pasokan domestik.
Namun, tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku dan logistik tetap menjadi risiko utama, terutama bagi industri hilir dan UMKM.
Dampak ke Pasar: Sectoral Play
Kenaikan harga plastik dan rencana stimulus ini memiliki implikasi sektoral:
- Petrokimia & Plastik → berpotensi tertekan dari sisi margin jika tidak diimbangi insentif
- Consumer Goods → risiko kenaikan harga kemasan → tekanan margin
- Paper & Packaging → potensi upside dari substitusi plastik
- Logistik & Shipping → diuntungkan dari kenaikan tarif freight

