[Medan | 11 Juni 2026] Bank of Japan (BoJ) mengumumkan bahwa Gubernur Kazuo Ueda sedang menjalani perawatan di rumah sakit dan dipastikan tidak dapat menghadiri rapat kebijakan moneter yang dijadwalkan pada 15–16 Juni 2026. Sebagai pengganti, Wakil Gubernur Ryozo Himino akan memimpin rapat penentuan suku bunga, sementara Wakil Gubernur Shinichi Uchida akan menyampaikan hasil keputusan dalam konferensi pers setelah pertemuan berakhir.
BoJ menyebut Ueda diperkirakan menjalani perawatan selama sekitar dua minggu, namun tetap akan menjalankan sebagian tugasnya secara jarak jauh. Bank sentral Jepang juga memperkirakan Ueda dapat kembali mengikuti rapat kebijakan berikutnya pada akhir Juli mendatang.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Tetap Kuat
Meski absennya Ueda sempat menarik perhatian pasar, ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ justru tidak berubah signifikan. Hal ini karena arah kebijakan moneter Jepang saat ini dinilai merupakan keputusan kolektif dewan kebijakan, bukan hanya bergantung pada satu individu.
Survei Reuters terbaru menunjukkan sebanyak 94% ekonom memperkirakan BoJ akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0% pada pertemuan pekan depan. Angka tersebut meningkat tajam dibanding survei sebelumnya yang hanya sekitar 65%.
Selain itu, hampir seluruh ekonom yang disurvei memperkirakan suku bunga Jepang akan mencapai setidaknya 1,0% pada akhir September 2026, sementara sekitar 79% responden memprediksi suku bunga akan naik lagi menjadi 1,25% pada kuartal IV tahun ini.
Bahkan, dua pertiga ekonom kini memperkirakan suku bunga Jepang dapat mencapai 1,50% pada kuartal II 2027, lebih cepat dibanding proyeksi sebelumnya yang memperkirakan level tersebut baru tercapai pada kuartal III tahun depan.
Inflasi dan Harga Energi Jadi Faktor Utama
Ekspektasi kenaikan suku bunga semakin menguat setelah inflasi produsen Jepang (CGPI) melonjak 6,3% YoY pada Mei, jauh di atas ekspektasi pasar. Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah serta mahalnya biaya impor yang dipicu pelemahan yen menjadi faktor utama pendorong inflasi.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan harga di tingkat produsen akan terus diteruskan ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan. Akibatnya, BoJ dinilai memiliki alasan yang semakin kuat untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.
Dampak ke Pasar Global
Potensi kenaikan suku bunga Jepang menjadi perhatian penting bagi pasar global karena Jepang selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber likuiditas terbesar dunia melalui kebijakan suku bunga ultra-rendah.
Apabila BoJ terus menaikkan suku bunga, investor Jepang berpotensi mulai mengalihkan sebagian dana mereka kembali ke aset domestik yang kini menawarkan imbal hasil lebih menarik. Kondisi tersebut dapat mengurangi aliran modal ke pasar global, termasuk emerging markets.
Dampak ke Indonesia
Bagi Indonesia, kenaikan suku bunga Jepang berpotensi menambah tekanan terhadap arus modal asing di tengah kondisi global yang sudah menantang akibat inflasi AS yang kembali naik ke 4,2% dan konflik AS-Iran yang terus memanas.
Kombinasi suku bunga AS yang tinggi, kenaikan suku bunga Jepang, serta harga minyak yang mendekati US$100 per barel berpotensi membuat investor global tetap berhati-hati terhadap aset negara berkembang. Hal ini dapat menjaga volatilitas rupiah, pasar saham, dan pasar obligasi Indonesia dalam jangka pendek.

