[Medan | 7 Mei 2026] Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing pada Rabu (6/5). Pertemuan ini menjadi sorotan karena berlangsung hanya beberapa hari sebelum kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping pada 14–15 Mei mendatang.
Kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama Abbas Araghchi ke China sejak pecahnya perang Iran yang memicu gangguan besar pada pasokan energi global. Dalam beberapa bulan terakhir, Beijing dan Teheran terus mempererat koordinasi diplomatik dan ekonomi, termasuk melalui komunikasi intensif antara kedua menteri luar negeri selama konflik berlangsung.
China Tetap Jadi Penopang Utama Ekonomi Iran
China saat ini menjadi mitra ekonomi terpenting Iran dengan menyerap sekitar 90% ekspor minyak Iran. Di tengah tekanan sanksi AS, hubungan kedua negara justru semakin erat. Pemerintah AS bahkan baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah kilang swasta China, termasuk Hengli Petrochemical, karena tetap mengolah minyak asal Iran. Namun Beijing merespons dengan meminta perusahaan domestiknya mengabaikan sanksi tersebut, menunjukkan sikap yang semakin konfrontatif terhadap Washington.
Selat Hormuz Jadi Fokus Utama
Pertemuan ini juga berlangsung di tengah tekanan AS agar Iran segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Meski Xi Jinping menyerukan stabilitas dan pembukaan jalur perdagangan global, China sejauh ini menolak permintaan Washington untuk ikut membantu operasi militer pengamanan Selat Hormuz. Posisi tersebut memperlihatkan upaya Beijing menjaga keseimbangan antara kepentingan energi, geopolitik, dan rivalitas strategis dengan AS.
Rusia–China–Iran Makin Dekat
Sebelum ke Beijing, Abbas Araghchi juga lebih dulu mengunjungi Moscow dan bertemu Presiden Vladimir Putin pada akhir April lalu. Langkah ini memperlihatkan semakin eratnya koordinasi antara Iran, Rusia, dan China di tengah meningkatnya tekanan Barat. Media Rusia juga melaporkan bahwa Putin dijadwalkan mengunjungi China dalam beberapa bulan mendatang.
Dampak Pasar
Pertemuan Iran–China ini mempertegas terbentuknya poros geopolitik yang semakin solid antara Beijing, Moskow, dan Teheran di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat. Bagi pasar global, kondisi ini memperbesar risiko fragmentasi geopolitik dan berpotensi memperpanjang ketidakpastian di pasar energi, terutama karena China tetap menjadi pembeli utama minyak Iran meskipun terkena ancaman sanksi AS.
Dari sisi energi, dukungan China terhadap Iran membantu menjaga arus ekspor minyak Iran tetap berjalan, sehingga sedikit mengurangi risiko gangguan pasokan total global. Namun, penolakan Beijing untuk mendukung operasi AS di Selat Hormuz juga meningkatkan ketidakpastian keamanan distribusi energi internasional. Akibatnya, harga minyak diperkirakan tetap bergerak volatil dengan risk premium yang masih tinggi menjelang pertemuan Trump–Xi pekan depan.

