[Medan | 25 Maret 2026] Harga emas dunia justru mengalami penurunan tajam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik Amerika Serikat dan Iran. Dalam sepekan terakhir, harga emas turun sekitar 11%, bahkan telah melemah lebih dari 14% sejak konflik memanas.
Pergerakan ini menjadi anomali dibanding pola historis, karena secara teori, emas seharusnya menguat saat ketidakpastian global meningkat. Namun ondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor moneter global, terutama penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Safe Haven Bergeser ke Dolar dan Obligasi AS
Dalam beberapa hari terakhir, investor global cenderung meningkatkan kepemilikan dolar AS dan obligasi pemerintah AS dibandingkan emas. Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah meningkatkan permintaan dolar karena perdagangan minyak menggunakan mata uang tersebut. Di saat yang sama, kebutuhan likuiditas di tengah volatilitas pasar membuat investor memilih aset yang lebih mudah diperdagangkan dan memberikan imbal hasil.
Situasi ini membuat posisi emas sebagai safe haven mulai terfragmentasi. Jika sebelumnya emas menjadi tujuan utama saat krisis, kini investor memiliki alternatif lain yang dinilai lebih efisien, terutama dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Kenaikan Yield Global Menekan Emas
Faktor yang paling signifikan adalah ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan tetap tinggi lebih lama. Kenaikan yield US Treasury membuat instrumen berbunga kembali menarik bagi investor global. Sebaliknya, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang kompetitif.
Lonjakan harga minyak akibat konflik juga memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali meningkat, sehingga memperkuat sikap hawkish dari The Federal Reserve. Kombinasi ini mendorong investor melakukan rotasi aset dari emas ke obligasi pemerintah AS.
Aksi Profit Taking Setelah Rally Panjang
Harga emas yang telah mengalami kenaikan signifikan dalam dua tahun terakhir juga memicu aksi profit taking. Banyak investor yang sebelumnya mengakumulasi emas kini mulai merealisasikan keuntungan.
Tekanan jual ini semakin besar karena sebagian kepemilikan emas berada dalam instrumen seperti ETF, sehingga ketika terjadi outflow, penurunan harga menjadi lebih cepat dan tajam.
Kebutuhan Likuiditas: “Cash is King”
Dalam fase ketidakpastian tinggi, kebutuhan likuiditas meningkat signifikan. Investor cenderung memegang kas atau dolar AS dibandingkan emas yang relatif kurang fleksibel untuk kebutuhan jangka pendek. Fenomena ini memperkuat narasi bahwa “cash is king”, di mana dolar AS kembali menjadi aset utama dalam menghadapi gejolak pasar global.
Struktur Pasar Emas Berubah
Sejak pembekuan aset Rusia pada 2022, dinamika emas mengalami perubahan struktural. Permintaan emas kini semakin dipengaruhi oleh akumulasi bank sentral dan kondisi surplus perdagangan global, khususnya dari negara seperti China.
Namun, dalam konteks konflik saat ini, risiko gangguan perdagangan global, terutama di jalur energi seperti Selat Hormuz, justru berpotensi menekan surplus negara-negara tersebut. Hal ini mengurangi kapasitas mereka untuk mengakumulasi emas, sehingga berbalik menjadi faktor penekan harga.
Kesimpulan
Penurunan harga emas di tengah perang mencerminkan perubahan besar dalam dinamika pasar global. Safe haven tidak lagi terpusat pada emas, melainkan terfragmentasi ke dolar AS, obligasi, dan mata uang kuat lainnya.
Dalam jangka pendek, selama:
- Suku bunga tetap tinggi
- Dolar AS kuat
- Likuiditas global ketat
harga emas berpotensi tetap tertekan.
Namun dalam jangka panjang, emas tetap relevan sebagai aset strategis, terutama jika:
- Inflasi kembali naik
- Suku bunga mulai turun
- Risiko sistemik global meningkat lebih luas
Artinya, emas tidak kehilangan perannya, tetapi cara membacanya kini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya.

