[Medan | 4 Februari 2026] Minat investor terhadap lelang Surat Utang Negara (SUN) edisi awal Februari terlihat mulai melemah. Total penawaran yang masuk (incoming bids) pada lelang SUN Selasa (3/2/2026) tercatat sebesar Rp76,58 triliun, turun 7,6% dibandingkan lelang sebelumnya pada 20 Januari yang mencapai Rp82,9 triliun.
Penurunan tersebut mencerminkan sikap investor yang semakin berhati-hati, seiring meningkatnya persepsi risiko terhadap aset berdenominasi rupiah.
Preferensi ke Tenor Menengah
Minat investor masih terkonsentrasi pada tenor menengah, khususnya seri FR0109 (5Y) dan FR0108 (10Y) yang masing-masing mencatat penawaran sebesar Rp25,4 triliun dan Rp20,6 triliun. Tenor ini dinilai menawarkan kombinasi yang relatif seimbang antara imbal hasil dan risiko durasi.
Sebaliknya, minat pada seri ultra-long tenor cenderung terbatas. Seri FR0107 (20Y), FR0102 (30Y), dan FR0105 (40Y) masing-masing hanya menarik penawaran di kisaran Rp3–4 triliun, dengan bid-to-cover ratio yang tipis di rentang 1,24–1,35 kali. Hal ini menunjukkan investor masih enggan menambah eksposur durasi panjang di tengah volatilitas pasar.
SPN Jadi Parkir Likuiditas
Sementara itu, seri Surat Perbendaharaan Negara (SPN) bertenor pendek 1 tahun juga mencatat penawaran terbatas, sekitar Rp12 triliun. Kondisi ini mengindikasikan SPN lebih dimanfaatkan sebagai instrumen parkir likuiditas jangka pendek, bukan sebagai sarana pengambilan risiko.
Tekanan Rupiah dan Inflasi Membayangi
Dari sisi sentimen, investor masih mencermati volatilitas nilai tukar rupiah. Sejak awal tahun, rupiah tercatat telah melemah 0,63%, sementara inflasi Januari melonjak ke 3,55% yoy. Kombinasi ini mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia, meski ekonomi domestik membutuhkan stimulus.
Akibatnya, pasar SUN berada dalam posisi yang serba tanggung: yield relatif tinggi, namun belum cukup menarik untuk sepenuhnya mengkompensasi ketidakpastian kebijakan dan risiko nilai tukar.
Persepsi risiko Indonesia juga tercermin pada Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun yang berada di kisaran 74 bps, jauh lebih tinggi dibanding Malaysia yang hanya sekitar 34 bps, meski sama-sama berstatus investment grade. Selisih ini menegaskan premi risiko Indonesia masih dipandang lebih mahal oleh investor global.
Pemerintah Tetap Berhitung
Meski permintaan melemah, pemerintah tetap berhasil menyerap Rp36 triliun, sama dengan target pada lelang sebelumnya. Hal ini menunjukkan strategi pembiayaan yang tetap berhati-hati, sejalan dengan kondisi pasar dan pengelolaan risiko fiskal.

