IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

PM Jepang Takaichi Berpotensi Gelar Pemilu Dini di Februari

By Aurelia Tanu 5 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ bloomberg.com
SHARE

[Medan | 13 Januari 2026] Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi disebut tengah mempertimbangkan opsi pemilihan umum dini pada Februari 2026. Sinyal tersebut disampaikan Hirofumi Yoshimura, pemimpin Partai Inovasi Jepang (Ishin), salah satu mitra koalisi pemerintahan, usai pertemuannya dengan Takaichi pada Jumat (9/1/2026). Yoshimura menilai pandangan Takaichi mengenai waktu pemilu telah memasuki fase baru, meski tidak ada pembahasan eksplisit mengenai tanggal pelaksanaan.

Laporan media domestik Yomiuri mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mengkaji kemungkinan pemilu mendadak pada 8 atau 15 Februari. Jika terealisasi, ini akan menjadi pemilu pertama yang dihadapi Takaichi sejak menjabat pada Oktober lalu, sekaligus menjadi ujian elektoral bagi perdana menteri perempuan pertama Jepang tersebut.

Dorongan untuk pemilu dini dinilai terkait tingginya tingkat persetujuan publik terhadap Takaichi pada fase awal pemerintahannya. Sikap politiknya yang tegas terhadap China dan pendekatan nasionalis menarik dukungan pemilih konservatif, meski pada saat yang sama memicu ketegangan diplomatik dengan Beijing. Di dalam negeri, Takaichi juga mengusung kebijakan fiskal ekspansif melalui anggaran belanja besar guna menopang pertumbuhan ekonomi dan meredam dampak inflasi.

Namun, rencana pemilu dini menuai kritik dari partai oposisi. Ketua Partai Komeito, Tetsuo Saito, memperingatkan bahwa pemilu pada Februari berisiko menggagalkan pengesahan anggaran sebelum akhir tahun fiskal pada Maret. Pembubaran parlemen di akhir Januari, yang dijadwalkan mulai bersidang kembali pada 23 Januari, akan mempersulit proses legislasi anggaran. Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Yoshihiko Noda, pemimpin oposisi utama dari Partai Demokrat Konstitusional Jepang.

Sinyal kesiapan pemilu kian menguat setelah Kementerian Dalam Negeri Jepang meminta komite pemilihan daerah mulai melakukan persiapan. Sejumlah analis menilai langkah tersebut mengindikasikan keputusan politik hampir final. Jika anggaran gagal disahkan tepat waktu, pemerintah berisiko harus menjalankan anggaran sementara, yang berpotensi menunda realisasi program stimulus utama.

Dari sisi ekonomi eksternal, Jepang saat ini berada dalam posisi yang rapuh. Meski mampu meredam dampak tarif Amerika Serikat yang lebih tinggi, inflasi pangan yang persisten masih menekan konsumsi domestik. Risiko tambahan datang dari meningkatnya ketegangan perdagangan dengan China. Beijing telah memberi sinyal kemungkinan pembatasan ekspor logam tanah jarang ke Jepang, komoditas strategis bagi industri manufaktur dan teknologi tinggi Negeri Sakura.

Takaichi menilai pembatasan sepihak tersebut bertentangan dengan protokol internasional dan menegaskan Jepang tengah menempuh jalur diplomasi dengan China, sembari memperkuat kerja sama dengan negara-negara G7 untuk mendiversifikasi rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada satu negara.

Dampak ke Pasar Keuangan

Dari perspektif pasar, ketidakpastian politik akibat potensi pemilu dini berisiko meningkatkan volatilitas aset Jepang dalam jangka pendek. Pasar obligasi Jepang (JGB) berpotensi menghadapi tekanan apabila pengesahan anggaran tertunda, mengingat kebijakan fiskal ekspansif Takaichi membutuhkan pembiayaan besar. Sementara itu, yen cenderung bergerak defensif di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan risiko geopolitik kawasan.

Di pasar saham, sektor yang sensitif terhadap kebijakan fiskal dan hubungan dagang dengan China berpotensi paling terdampak. Namun, jika pemilu dini justru memperkuat legitimasi politik Takaichi, pasar dapat kembali merespons positif dengan ekspektasi kesinambungan stimulus dan belanja pemerintah.

Secara keseluruhan, pemilu dini menjadi faktor risiko jangka pendek bagi stabilitas politik dan fiskal Jepang, namun juga berpotensi menjadi katalis positif apabila menghasilkan mandat politik yang lebih kuat bagi agenda ekonomi pemerintahan Takaichi.

 

You Might Also Like

Ada Kekhawatiran Terganggunya Pasokan, Harga Minyak Dunia Naik

Jaksa Selidiki Powell, Independensi The Fed Terancam Kepentingan Politik?

Trump Ancam Tarif 25% Bagi Negara yang Berbisnis dengan Iran

Aliran Asing Masuk RI Capai Rp 1,44 T di Pekan Pertama Januari 2026

Mensos Sebut Prabowo Setujui MBG Lansia-Disabilitas

TAGGED: PM Jepang, PM Jepang pemilu, Sanae Takaichi
Aurelia Tanu January 13, 2026 January 13, 2026
Previous Article Jaksa Selidiki Powell, Independensi The Fed Terancam Kepentingan Politik?
Next Article Ada Kekhawatiran Terganggunya Pasokan, Harga Minyak Dunia Naik
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?