[Medan | 25 Maret 2026] Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan signifikan di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat–Iran, dengan potensi pelemahan hingga menembus Rp20.000 per dolar AS dalam skenario ekstrem. Peningkatan risiko geopolitik, lonjakan harga energi, serta pergeseran arus modal global menjadi faktor utama yang dapat mempercepat depresiasi rupiah dalam beberapa bulan ke depan.
Geopolitik dan Minyak Jadi Pemicu Tekanan
Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan risiko gangguan rantai pasok global, terutama melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz. Kondisi ini berdampak langsung pada ekonomi Indonesia melalui peningkatan tekanan inflasi impor dan pelebaran defisit transaksi berjalan.
Di saat yang sama, lonjakan harga energi memperkuat dolar AS karena transaksi global yang didominasi mata uang tersebut. Hal ini memicu pergeseran arus modal dari emerging markets ke aset safe haven berbasis dolar, sehingga memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Aliran Modal dan Ketergantungan Eksternal
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal jangka pendek, tetapi juga mencerminkan kerentanan struktural. Stabilitas nilai tukar selama ini sangat dipengaruhi oleh keberlanjutan aliran dana asing, baik melalui investasi portofolio maupun penerbitan utang luar negeri.
Pengalaman historis menunjukkan bahwa dalam periode tekanan, pemerintah dan otoritas moneter harus meningkatkan penerbitan utang global untuk menjaga stabilitas rupiah. Ketergantungan ini menjadi risiko, terutama ketika kondisi global tidak mendukung arus masuk modal.
Belajar dari Episode Tekanan Sebelumnya
Dalam satu dekade terakhir, rupiah telah mengalami beberapa episode tekanan signifikan, antara lain pada 2014–2015, 2018, dan awal pandemi 2020. Pada periode-periode tersebut, depresiasi rupiah mencapai kisaran 13–20%, bahkan terjadi dalam waktu singkat saat terjadi shock global.
Menariknya, peningkatan cadangan devisa tidak selalu sejalan dengan stabilitas nilai tukar. Meskipun cadangan devisa meningkat dalam jangka panjang, rupiah tetap mengalami tren pelemahan, menunjukkan bahwa faktor utama penentu stabilitas adalah keberlanjutan arus modal eksternal.
Tekanan Mulai Terlihat di Awal 2026
Indikasi tekanan terhadap rupiah kembali muncul pada awal tahun ini. Dalam dua bulan pertama 2026, cadangan devisa tercatat menurun meskipun pemerintah telah melakukan penerbitan utang luar negeri dalam berbagai mata uang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan dari arus keluar dana mulai meningkat, sehingga ruang intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar menjadi lebih terbatas jika tren tersebut berlanjut.

