[Medan | 21 Oktober 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali kehilangan momentum penguatan dan berbalik melemah pada perdagangan Rabu (21/10/2026). Setelah sempat dibuka di zona hijau, indeks berbalik ke zona merah seiring tekanan jual yang mendominasi perdagangan.
Hingga pukul 10.05 WIB, IHSG terkoreksi 59,16 poin atau 1,12% ke level 5.219,73. Sebelumnya, indeks dibuka pada posisi 5.310,85, menguat 0,61% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Namun, tekanan jual membawa IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 5.186,37.
Pelemahan terjadi pada mayoritas saham yang diperdagangkan. Sebanyak 519 saham terkoreksi, berbanding 198 saham yang menguat, sementara 246 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp6,8 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 11,96 miliar saham.
Analis Waspadai Potensi Koreksi Lanjutan
MNC Sekuritas memperkirakan IHSG saat ini masih berada dalam fase wave iv dari wave (iii) dalam struktur gelombang [v]. Dalam jangka pendek, indeks masih berpeluang menguji area 5.328–5.458. Meski demikian, investor perlu mewaspadai potensi pembalikan arah yang dapat membawa IHSG kembali ke rentang 5.093–5.191. MNC Sekuritas menetapkan level support di 4.915 dan 4.754, dengan area resistance pada 5.317–5.563. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menempatkan support IHSG pada rentang 5.111–4.907 dan resistance di kisaran 5.333–5.597.
Secara teknikal, Mirae Asset menilai IHSG telah menyelesaikan fase awal pola gelombang wave 5/(C)/Y dan berhasil mengalami rebound di tengah tekanan sentimen negatif. Indikator Stochastic K_D dan Relative Strength Index (RSI) menunjukkan sinyal positif, sedangkan volume perdagangan mulai meningkat. Namun, pergerakan indeks selanjutnya masih akan dipengaruhi oleh perkembangan sentimen domestik maupun eksternal, terutama keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia.
Keputusan BI Rate Jadi Penentu Arah Pasar
Pelaku pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan hari ini. Konsensus pasar yang dikutip Mirae Asset cenderung mengarah pada potensi kenaikan BI Rate menjadi 6%, dari posisi sebelumnya 5,75%.
Ekspektasi tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap rupiah setelah pengumuman MSCI memicu gejolak di pasar saham Indonesia. Kondisi ini menempatkan BI pada posisi sulit antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
Menurut Mirae Asset, apabila BI mempertahankan suku bunga disertai komunikasi yang meyakinkan mengenai stabilitas rupiah, sentimen terhadap saham perbankan dan pasar obligasi berpotensi membaik.
Sebaliknya, jika BI menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan terhadap rupiah, pasar saham berpotensi merespons negatif dalam jangka pendek. Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya pendanaan perbankan dan dunia usaha, sekaligus membatasi ruang pertumbuhan kredit.
Dengan demikian, arah IHSG selanjutnya akan bergantung pada kombinasi kondisi teknikal, perkembangan sentimen pasar, dan keputusan BI Rate. Investor perlu mencermati respons pasar setelah pengumuman kebijakan moneter, terutama pada saham perbankan dan instrumen obligasi, yang berpotensi terdampak oleh perubahan ekspektasi suku bunga.

