[Medan | 20 Oktober 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan selama dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pelemahan pasar saham domestik terjadi di tengah tekanan eksternal dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pada perdagangan Senin (19/10/2026), IHSG ditutup turun 3,64% ke level 4.996,60. Berdasarkan data perdagangan sesi I pada 19 Oktober, indeks telah melemah sekitar 36,6% dibandingkan level 7.772,60 pada 21 Oktober 2024, saat Prabowo memulai masa pemerintahannya. Sejak awal 2026, IHSG tercatat terkoreksi 42,22%.
Tekanan pasar semakin meningkat setelah MSCI mengumumkan konsultasi terkait usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market (pasar berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri). Keputusan akhir atas usulan tersebut dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027.
Pada Senin (19/10/2026), investor asing mencatatkan penjualan bersih saham atau net sell sebesar Rp2,28 triliun. Secara kumulatif sejak awal tahun, arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia mencapai Rp114,17 triliun. Besarnya arus keluar tersebut menambah tekanan terhadap IHSG dan meningkatkan pentingnya peran investor domestik dalam menopang aktivitas perdagangan.
Kinerja IHSG Tidak Hanya Ditentukan Pemerintahan
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, membandingkan kinerja IHSG pada beberapa periode kepemimpinan nasional. Selama sepuluh tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, IHSG tercatat meningkat sekitar 499,5%. Sementara itu, pada era Presiden Joko Widodo, indeks naik sekitar 53,95%.
Namun, menurut Elandry, perbandingan kinerja indeks antarperiode perlu mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, siklus komoditas, valuasi awal pasar, hingga perubahan struktur pasar modal. Dengan demikian, perubahan IHSG selama suatu periode pemerintahan tidak dapat langsung dianggap sebagai dampak kebijakan presiden semata.
Pemulihan ke Level 6.000 Masih Bergantung pada Kepercayaan Investor
Elandry menilai IHSG masih berpeluang pulih menuju level 6.000 pada akhir 2026. Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada perbaikan kepercayaan investor dan meredanya tekanan jual. Setelah IHSG sempat menyentuh level 4.923 pada sesi I perdagangan 19 Oktober, indeks membutuhkan kenaikan sekitar 22% untuk mencapai level 6.000.
Menurutnya, sejumlah faktor yang akan menentukan arah pemulihan IHSG meliputi kepastian reformasi pasar modal, peningkatan transparansi kepemilikan saham dan free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik, tindak lanjut persoalan MSCI, stabilitas rupiah, serta meredanya penjualan bersih oleh investor asing.
Elandry menempatkan IHSG pada kisaran 5.500–6.000 sebagai skenario kerja untuk akhir 2026. Pada awal 2027, indeks berpotensi bergerak di rentang 5.500–6.200 apabila tekanan jual mulai mereda. Namun, kisaran tersebut bukan proyeksi tanpa risiko. Jika arus keluar modal berlanjut dan ketidakpastian terkait MSCI meningkat, IHSG berpotensi bertahan di bawah rentang tersebut.
Dalam jangka lebih panjang, Elandry menilai IHSG berpeluang mencapai level 7.000–8.000 pada akhir masa pemerintahan Prabowo pada 2029. Skenario ini bergantung pada pertumbuhan laba emiten, konsistensi reformasi pasar modal, kestabilan rupiah, dan pemulihan arus dana asing.
Investor Diminta Mengutamakan Pengendalian Risiko
Di tengah volatilitas pasar, Elandry menyarankan investor ritel untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko. Investor perlu membatasi penggunaan fasilitas margin, yang memungkinkan pembelian saham dengan dana pinjaman, serta memprioritaskan saham dengan fundamental kuat, arus kas sehat, tingkat utang terkendali, tata kelola yang baik, dan likuiditas memadai.
Ia juga menyarankan investor masuk ke pasar secara bertahap, menjaga diversifikasi portofolio, serta menunggu tanda-tanda stabilisasi indeks dan perkembangan nyata reformasi pasar modal sebelum menambah eksposur saham. Pendekatan tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko mengambil posisi terlalu besar ketika arah pasar masih belum pasti.
Sementara itu, Deputy President Director Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma, menilai pemulihan IHSG ke level 6.000 pada akhir 2026 menghadapi tantangan besar akibat tingginya arus keluar dana asing. Menurut Suria, peluang kenaikan masih terbuka apabila sentimen negatif terkait MSCI mereda dalam satu bulan ke depan dan aktivitas investor domestik tetap kuat.
Suria juga menilai tekanan di pasar saham Indonesia tergolong tidak biasa karena penurunan IHSG lebih dalam dibandingkan sejumlah indeks regional. Selain itu, periode penjualan bersih investor asing berlangsung lebih panjang daripada pola yang menurutnya lazim terjadi ketika pasar melemah.
Reformasi Pasar Modal Menjadi Perhatian Utama
Suria mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan komunikasi dengan MSCI. Menurutnya, reformasi yang telah dijalankan otoritas pasar modal belum otomatis menjamin bahwa seluruh kekhawatiran MSCI telah terjawab.
Isu transparansi kepemilikan saham, kualitas free float, dan integritas perdagangan menjadi perhatian penting karena berkaitan dengan kemampuan investor untuk menilai saham serta melakukan transaksi secara adil dan efisien.
Kejelasan tindak lanjut atas isu-isu tersebut akan memengaruhi persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia. Meski demikian, usulan perubahan klasifikasi MSCI masih berada dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final.
Prospek 2027 Dipengaruhi Faktor Domestik dan Global
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Nico Demus, menilai pemulihan pasar saham membutuhkan dukungan dari dalam maupun luar negeri. Pada 2027, investor masih perlu mencermati inflasi Amerika Serikat, kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed, data ketenagakerjaan AS, perkembangan MSCI, kondisi politik domestik, kebijakan fiskal, dan pelaksanaan reformasi pasar modal. Nico memperkirakan IHSG berpotensi mencapai level 7.000 pada awal 2027. Namun, perkembangan ekonomi makro domestik dan global tetap menjadi faktor penting dalam membentuk ekspektasi pasar.
Secara keseluruhan, arah IHSG hingga akhir 2026 akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan isu MSCI, arus dana asing, stabilitas rupiah, dan respons investor domestik. Sementara itu, pemulihan yang lebih berkelanjutan memerlukan perbaikan kepercayaan pasar, pertumbuhan laba emiten, serta reformasi pasar modal yang konsisten dan dapat diverifikasi.

