[Medan | 12 Mei 2026] Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) optimistis hasil review indeks global MSCI yang diumumkan pada Selasa (12/5/2026) akan memberikan dampak positif bagi pasar modal Indonesia.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menilai kondisi pasar saham domestik mulai menunjukkan perbaikan seiring berbagai reformasi yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia.
“Kita tunggu saja besok. Saya lihat perkembangannya bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan. Insyaallah hasilnya baik,” ujar Pandu di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Danantara Optimistis Indonesia Tetap di Emerging Market
Pandu meyakini Indonesia tidak akan diturunkan dari status emerging market menjadi frontier market. Menurutnya, fundamental pasar modal Indonesia tetap kuat, sementara evaluasi terkait status klasifikasi pasar baru akan dilakukan MSCI pada Juni 2026.
Ia menilai pelemahan IHSG dalam beberapa hari terakhir lebih dipengaruhi oleh tekanan eksternal, khususnya pelemahan nilai tukar rupiah, bukan semata-mata karena kekhawatiran atas hasil review MSCI.
Pada perdagangan Senin (11/5/2026), IHSG ditutup turun 63,78 poin atau 0,92% ke level 6.905,62. Sebanyak 263 saham menguat, 463 saham melemah, dan 233 saham stagnan.
Apa yang Dinilai MSCI?
Review MSCI merupakan proses evaluasi berkala terhadap komposisi saham dalam indeks global berdasarkan sejumlah kriteria, seperti:
- Kapitalisasi pasar
- Likuiditas perdagangan
- Free float
- Konsentrasi kepemilikan saham
- Aksesibilitas pasar
Dalam review kali ini, perhatian investor tertuju pada penerapan kebijakan terhadap saham dengan High Shareholding Concentration (HSC), yakni saham dengan konsentrasi kepemilikan yang sangat tinggi.
Saham seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) disebut sebagai emiten yang berpotensi terkena dampak penyesuaian.
OJK: Evaluasi Status Pasar Baru Dilakukan Juni 2026
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa kemungkinan penurunan status Indonesia dari emerging market ke frontier market baru akan dibahas pada Juni 2026.
Menurutnya, Indonesia memiliki kualitas yang sangat baik dari sisi keterbukaan informasi, granularitas data, dan integritas pasar.
“Semoga hal tersebut menjadi pertimbangan agar Indonesia tetap berada di kelompok emerging market,” ujarnya.
Kiwoom: Asing Sudah Antisipasi Sentimen Negatif
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, menilai investor asing kemungkinan telah melakukan aksi jual sejak beberapa pekan terakhir untuk mengantisipasi hasil review MSCI.
Menurutnya, risiko terbesar bukan hanya keluarnya saham tertentu dari indeks, tetapi juga potensi penurunan bobot saham Indonesia secara keseluruhan dalam portofolio global.
“Kalau di bawah 6.800, alarmnya sudah nyala banget,” ujarnya.
Liza memperkirakan level 6.800 menjadi support psikologis penting bagi IHSG. Selama level tersebut mampu dipertahankan, peluang rebound masih terbuka.
Risiko Jika Bobot Indonesia Dikurangi
Apabila MSCI memangkas bobot Indonesia, dampak yang mungkin terjadi antara lain:
- Outflow dari dana pasif global
- Tekanan jual pada saham-saham blue chip
- Pelemahan IHSG
- Tekanan lanjutan terhadap rupiah
Sebaliknya, jika hasil review lebih baik dari ekspektasi, pasar dapat merespons positif melalui short covering dan inflow asing.
Target IHSG Kuartal II
Kiwoom Sekuritas merevisi target IHSG kuartal II/2026 ke sekitar 7.300, dengan asumsi:
- Ketegangan geopolitik global mereda
- Harga minyak turun
- Rupiah stabil
- Arus dana asing kembali masuk
Dampak ke Pasar Indonesia
Pengumuman MSCI menjadi salah satu katalis terpenting bagi pasar domestik pekan ini.
Jika hasil positif:
- IHSG berpotensi rebound
- Saham perbankan dan blue chip menguat
- Rupiah lebih stabil
- Kepercayaan investor meningkat
Jika hasil negatif:
- IHSG berpotensi menguji support 6.800
- Outflow asing meningkat
- Rupiah kembali tertekan
Secara keseluruhan, pasar saat ini berharap hasil review MSCI tidak seburuk yang dikhawatirkan. Jika Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori emerging market dan pemangkasan bobot terbatas, sentimen terhadap pasar saham domestik berpotensi membaik dalam jangka pendek.

