[Medan | 18 Mei 2026] Harga minyak dunia kembali menguat untuk hari ketiga berturut-turut setelah upaya diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menunjukkan kemajuan berarti. Kebuntuan negosiasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan energi global akan berlangsung lebih lama, terutama karena Selat Hormuz—jalur utama distribusi sekitar seperlima minyak dunia—masih belum beroperasi normal.
Minyak mentah Brent naik di atas US$110 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menembus US$107 per barel. Sepanjang pekan lalu, kedua kontrak telah melonjak lebih dari 7% seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Trump Tingkatkan Tekanan terhadap Iran
Presiden AS Donald Trump kembali memperkeras tekanan terhadap Teheran. Dalam unggahan di media sosial pada Minggu (17/5/2026), Trump menegaskan bahwa waktu bagi Iran semakin sempit dan mendesak Teheran untuk segera menyetujui kesepakatan damai. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa Washington masih mempertimbangkan opsi militer apabila Iran tidak memenuhi tuntutan AS dalam perundingan.
Trump juga dijadwalkan menggelar rapat dengan Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur Central Intelligence Agency John Ratcliffe, serta utusan khusus Steve Witkoff untuk membahas langkah berikutnya.
Serangan Drone di UEA Perburuk Sentimen
Ketegangan meningkat setelah fasilitas strategis di kawasan Teluk kembali menjadi sasaran serangan. Laporan terbaru menyebutkan serangan drone memicu kebakaran di Barakah Nuclear Power Plant, sementara Saudi Arabia mengonfirmasi berhasil mencegat tiga drone yang memasuki wilayah udaranya.
Insiden ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke negara-negara produsen minyak utama di kawasan, sehingga meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.
Pertemuan Trump-Xi Belum Hasilkan Terobosan
Pertemuan dua hari antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping di Beijing pekan lalu belum menghasilkan langkah konkret untuk membantu meredakan konflik ataupun membuka kembali Selat Hormuz.
Di saat yang sama, pemerintah AS membiarkan pelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak Rusia berakhir, sehingga memperketat pasokan global dan semakin mendukung kenaikan harga minyak.
Iran Menilai AS Tidak Serius Berdamai
Media semi-resmi Iran, Mehr News Agency, melaporkan bahwa Washington belum menawarkan konsesi nyata dalam negosiasi. Menurut Teheran, AS hanya berupaya memperoleh konsesi strategis yang gagal diraih melalui jalur militer.
Trump mengakui bahwa proposal terbaru Iran belum memenuhi harapan Washington dan menegaskan bahwa konsekuensinya akan sangat besar jika Iran tidak mengubah posisinya.
Pergerakan Harga Minyak
Pada perdagangan pagi ini, Brent kontrak Juli 2026 naik 1,1% menjadi US$110,43 per barel. WTI kontrak Juni 2026 yang berakhir pada Selasa naik 1,7% menjadi US$107,26 per barel, sementara kontrak Juli yang lebih aktif meningkat 1,3% menjadi US$102,34 per barel.
Dampak terhadap Inflasi Global
Secara fundamental, lonjakan harga minyak di atas US$110 per barel meningkatkan risiko inflasi global melalui kenaikan biaya transportasi, logistik, dan energi. Kondisi ini memperbesar kemungkinan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada akhirnya dapat memperkuat dolar AS dan menekan aset-aset emerging markets.

