[Medan | 8 Mei 2026] AS dan Iran kembali terlibat bentrokan di Selat Hormuz yang langsung memicu eskalasi risiko geopolitik global, setelah sebelumnya pasar sempat optimistis terhadap potensi kesepakatan damai. Ketegangan ini kembali menegaskan bahwa proses de-eskalasi konflik belum berjalan stabil dan masih sangat rentan terhadap kejadian lapangan.
Reaksi Pasar Saham Global dan Asia
Pasar saham Asia langsung merespons negatif dengan indeks MSCI Asia Pasifik turun sekitar 0,9% pada awal perdagangan, sementara bursa AS bergerak cenderung datar setelah volatilitas meningkat di sesi sebelumnya. Investor mulai kembali melakukan risk-off terbatas, meski pelemahan belum sebesar fase awal konflik karena masih ada ekspektasi negosiasi damai tetap terbuka.
Harga Minyak Kembali Rebound
Harga minyak menjadi aset paling sensitif terhadap eskalasi ini, dengan Brent naik sekitar 2,3% menembus di atas US$102 per barel. Kenaikan terjadi karena kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz kembali meningkat, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute utama ekspor minyak global yang sangat krusial bagi keseimbangan supply dunia.
Sentimen Dolar, Yield, dan Arah Safe Haven
Di tengah ketidakpastian, dolar AS menguat dan yield US Treasury bertahan di level tinggi, mencerminkan meningkatnya permintaan aset aman. Sentimen pasar menunjukkan bahwa investor masih berada dalam mode “wait and see”, dengan pergerakan harga lebih banyak dipicu oleh headline geopolitik dibanding fundamental ekonomi.
Prospek Pasar ke Depan
Secara keseluruhan, pasar kembali masuk fase volatil setelah sempat mengabaikan risiko geopolitik dalam beberapa sesi terakhir. Arah harga ke depan sangat bergantung pada apakah konflik AS–Iran akan kembali terkendali melalui diplomasi atau justru memasuki fase eskalasi lanjutan yang berpotensi mengganggu suplai energi global lebih dalam.

