IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

AS-Iran Saling Serang Lagi, Harga Minyak Tembus US$95!

By Aurelia 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ abcnews.com
SHARE

[Medan | 2 September 2026] Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Selasa waktu setempat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang. Eskalasi terbaru meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, terutama akibat rendahnya aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.

Mengutip Investing.com, Rabu (2/9/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 5% menjadi US$95,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober melonjak 5,7% menjadi US$90,68 per barel.

AS dan Iran Kembali Terlibat Aksi Militer

Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Selasa menyatakan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Media pemerintah Iran secara terpisah melaporkan serangan tersebut menghantam sebuah pabrik di Qeshm serta sejumlah target nonmiliter di wilayah Hormozgan.

Ketegangan kedua negara meningkat setelah sebelumnya terjadi kebuntuan terkait kendali atas Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump sempat mengubah pendekatan dari aksi militer menuju tekanan ekonomi, namun operasi militer kembali berlangsung pada Minggu untuk pertama kalinya sejak Juli.

CENTCOM menyebut serangan tersebut sebagai tindakan terbatas dan tepat terhadap pasukan IRGC yang diduga memasang ranjau di Selat Hormuz. Iran kemudian merespons dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania. Media pemerintah Yordania melaporkan delapan rudal berhasil dicegat dan dihancurkan.

Trump mengatakan serangan terbaru AS merupakan respons terhadap dugaan upaya peletakan ranjau di Selat Hormuz serta serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania. Iran kemudian kembali melaporkan serangan IRGC menggunakan rudal balistik terhadap Camp Titin, pangkalan Marinir AS di Yordania.

Kembalinya aksi militer secara langsung membuat pasar kembali memasukkan risiko geopolitik ke dalam harga minyak. Selama ketegangan terus berlangsung, investor cenderung mempertahankan premi risiko lebih tinggi terhadap aset energi dan pasar keuangan secara umum.

Selat Hormuz Jadi Titik Risiko Utama

Kekhawatiran terbesar pasar bukan hanya mengenai serangan militer, tetapi potensi terganggunya arus perdagangan minyak dunia melalui Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute energi terpenting dunia, sementara lalu lintas kapal di kawasan tersebut saat ini sudah berada pada tingkat yang sangat rendah.

Kpler mencatat hanya lima penyeberangan kapal yang terkonfirmasi melalui Selat Hormuz pada Senin. United Kingdom Maritime Trade Operations juga melaporkan sebuah kapal tanker dihantam tiga proyektil tak dikenal ketika keluar dari selat tersebut. Kondisi tersebut meningkatkan risiko pasokan apabila gangguan pelayaran berlangsung lebih lama. Karena itu, harga minyak berpotensi tetap mendapatkan dukungan meskipun negara-negara produsen berusaha meningkatkan produksi.

Bagi pasar keuangan, kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat kembali mendorong inflasi global. Jika harga energi bertahan di level tinggi, bank sentral akan memiliki ruang yang lebih terbatas untuk memangkas suku bunga. Kondisi tersebut berpotensi menjaga yield obligasi tetap tinggi dan meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.

OPEC+ Tambah Produksi, tetapi Risiko Pasokan Tetap Tinggi

Kekhawatiran terhadap pasokan minyak sebagian menutupi langkah negara-negara produsen yang tergabung dalam OPEC+ untuk meningkatkan produksi. Kelompok tersebut menyetujui tambahan kuota produksi sekitar 188 ribu barel per hari mulai September, sekaligus menyelesaikan rencana pengurangan produksi sukarela sebelumnya.

Tambahan produksi tersebut secara teori dapat membantu meningkatkan pasokan global dan menahan kenaikan harga minyak. Namun, efektivitasnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan kemampuan minyak untuk tetap mengalir melalui jalur perdagangan utama. Dengan demikian, pasar saat ini lebih banyak memperhatikan risiko gangguan pasokan dibandingkan tambahan produksi OPEC+. Selama risiko terhadap Selat Hormuz belum mereda, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil.

Rusia Perpanjang Larangan Ekspor Diesel

Tekanan terhadap pasar energi juga datang dari Rusia. Pemerintah Rusia pada akhir pekan lalu memutuskan memperpanjang larangan ekspor diesel hingga 30 September. Kebijakan tersebut menambah kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan bakar olahan di pasar global. Di sisi lain, Presiden Trump pada Minggu mengatakan minyak yang diperoleh melalui kesepakatan baru dengan Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).

Cadangan minyak strategis AS saat ini berada pada level terendah dalam 44 tahun. Namun, masih belum jelas seberapa cepat kesepakatan dengan Venezuela dapat menghasilkan tambahan pasokan minyak mentah bagi AS. Kondisi tersebut membuat pasar energi menghadapi kombinasi antara risiko pasokan akibat geopolitik dan upaya penambahan produksi dari sejumlah negara. Selama pasokan alternatif belum mampu menggantikan potensi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi.

Apa Dampaknya bagi Pasar dan Investor?

Kenaikan Brent menuju US$95 per barel kembali meningkatkan risiko inflasi global. Jika harga minyak terus bergerak menuju US$100 atau bahkan lebih tinggi, tekanan terhadap inflasi dapat semakin besar dan berpotensi membuat bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.

Bagi pasar obligasi, kondisi tersebut cenderung negatif karena ekspektasi suku bunga tinggi dapat menjaga yield obligasi tetap elevated. Obligasi tenor panjang menjadi yang paling sensitif terhadap perubahan ekspektasi inflasi dan suku bunga, sehingga investor perlu lebih selektif dalam menambah durasi.

Di Indonesia, kenaikan harga minyak juga dapat memberikan tekanan melalui inflasi dan nilai tukar rupiah. Apabila yield global ikut meningkat, SBN berpotensi menghadapi tekanan tambahan. Dalam kondisi seperti ini, investor dapat lebih mengutamakan obligasi tenor pendek hingga menengah untuk memperoleh carry dengan risiko durasi yang lebih rendah, sementara tenor panjang dapat dikumpulkan secara bertahap ketika terjadi kenaikan yield yang memberikan valuasi lebih menarik.

Di pasar saham, sektor komoditas dan energi berpotensi mendapatkan sentimen positif dari kenaikan harga minyak, sementara sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan biaya energi dapat menghadapi tekanan. Investor juga perlu mencermati perkembangan Selat Hormuz karena perubahan intensitas konflik akan menjadi faktor utama yang menentukan apakah kenaikan harga minyak bersifat sementara atau berlanjut.

 

You Might Also Like

Neraca Dagang Surplus, Tapi Ekonom Sebut Masih Rentan

Yield Obligasi Global Naik Tajam, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Inflasi Naik Tapi Neraca Dagang Kembali Surplus, Apa Artinya Bagi Ekonomi RI?

PMI Manufaktur RI Agustus 2026 Kembali Kontraksi ke 49,8

AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Tembus US$ 90 per Barel

TAGGED: harga minyak, Iran-AS
Aurelia September 2, 2026 September 2, 2026
Previous Article Yield Obligasi Global Naik Tajam, Apa Dampaknya ke Indonesia?
Next Article Neraca Dagang Surplus, Tapi Ekonom Sebut Masih Rentan
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?