[Medan | 1 September 2026] Harga minyak mentah kembali melanjutkan kenaikan setelah melonjak paling besar dalam tiga pekan pada perdagangan Senin (31/8/2026). Kenaikan dipicu kembali pecahnya permusuhan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan berkepanjangan pada arus energi melalui Selat Hormuz.
Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober 2026 naik 0,6% menjadi US$86,25 per barel pada pukul 06.03 waktu Singapura. Sementara itu, Brent untuk kontrak November ditutup melonjak 2,7% menjadi US$90,49 per barel pada perdagangan Senin.
AS dan Iran Kembali Saling Serang
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah pasukan AS menyerang sebuah pulau di Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Yordania. Pertukaran serangan tersebut menjadi eskalasi pertama antara kedua pihak dalam sekitar satu bulan dan kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga menepis kekhawatiran bahwa konflik tersebut mulai menguras kemampuan militer AS. Trump bahkan menyebut konflik tersebut sebagai “perang kecil”. Kondisi tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan apabila ketegangan terus meningkat dan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu lebih lama.
Selat Hormuz Jadi Fokus Pasar
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia melewati jalur perairan tersebut. Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker berpotensi memperketat pasokan minyak global dan mendorong harga lebih tinggi. Bart Melek, kepala strategi komoditas global TD Securities, mengatakan pelaku pasar mulai mengurangi posisi neto minyak mentah karena masih terdapat ketidakpastian mengenai perkembangan konflik Iran.
“Kami masih memperkirakan harga minyak mentah akan bergerak lebih tinggi karena belum ada tanda-tanda bahwa lalu lintas normal melalui Selat Hormuz akan kembali dalam waktu dekat,” kata Melek.
Meski demikian, arus ekspor minyak masih berlangsung melalui jalur tersebut. Sejumlah kapal tanker bahkan dilaporkan mematikan transponder untuk menghindari deteksi ketika melintasi kawasan tersebut. Beberapa produsen minyak utama di kawasan Teluk Persia, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, dan Irak, juga masih mampu mengirimkan sebagian produksi mereka melalui jalur tersebut.
Harga Minyak Berpotensi Kembali Naik
Harga minyak hanya mencatat kenaikan tipis sepanjang Agustus setelah bergerak volatil akibat perkembangan konflik AS-Iran dan ketidakpastian upaya perdamaian. Namun, kembali meningkatnya ketegangan pada awal September berpotensi memberikan tekanan baru terhadap harga energi. Pasar kini akan mencermati apakah konflik kembali meluas atau kedua pihak mampu mencegah gangguan terhadap lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz.
Jika gangguan berlangsung berkepanjangan, risiko kenaikan harga minyak akan semakin besar. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan menjadi faktor penting bagi bank sentral dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

