[Medan | 2 September 2026] Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia kembali membukukan surplus sebesar US$120 juta pada Juli 2026. Capaian tersebut relatif sesuai dengan perkiraan konsensus ekonom dan analis yang sebelumnya memperkirakan neraca perdagangan berada di sekitar titik impas, setelah mencatat defisit dalam dua bulan sebelumnya.
Meski kembali surplus, ekonom menilai kinerja perdagangan Indonesia masih perlu dicermati karena pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor membuat surplus menjadi relatif tipis dan rentan terhadap perubahan kondisi global.
Surplus Tipis di Tengah Lonjakan Impor
Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan PT Bank Permata Tbk, Faisal Rachman, menilai neraca perdagangan Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko. Kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan diperkirakan menjaga permintaan domestik tetap kuat sehingga mendorong peningkatan impor. “Permintaan domestik yang tetap kuat diperkirakan mendukung pertumbuhan impor yang lebih tinggi,” ujar Faisal dalam keterangan tertulis yang diperoleh Bloomberg Technoz, Selasa (1/9/2026).
Pandangan serupa disampaikan Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz. Ia menyoroti pertumbuhan impor yang mencapai 27,0% secara tahunan (year on year/yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 6,1% yoy.
Menurut Irman, kondisi tersebut menunjukkan semakin besarnya ketergantungan siklus pertumbuhan ekonomi saat ini terhadap barang dan bahan dari luar negeri. Impor mesin, peralatan dan input produksi yang meningkat dapat menjadi sinyal bahwa aktivitas investasi domestik masih berjalan, tetapi pada saat yang sama membuat surplus perdagangan menjadi lebih mudah tergerus.
Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Risiko
Selain tingginya impor, kondisi geopolitik global juga menjadi risiko bagi neraca perdagangan Indonesia. Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah dapat mendorong harga minyak dunia lebih tinggi dan meningkatkan nilai impor migas Indonesia. Tekanan tersebut menjadi semakin relevan ketika harga minyak global kembali mendekati US$95 per barel. Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya impor energi Indonesia akan meningkat dan berpotensi mempersempit surplus perdagangan.
Sebaliknya, harga minyak yang lebih rendah dapat memberikan sedikit ruang bagi neraca perdagangan. Namun, menurut Irman, tingginya impor barang modal dan barang antara membuat penyangga perdagangan Indonesia tetap relatif tipis.
Kondisi ini membuat neraca eksternal Indonesia menjadi lebih sensitif terhadap dua faktor utama, yaitu harga energi global dan penerimaan ekspor komoditas. Bagi pasar keuangan, surplus perdagangan yang tipis berarti ruang perlindungan terhadap tekanan eksternal juga lebih terbatas, sehingga pergerakan rupiah dan aset domestik akan lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global.
Ekspor Berpotensi Melambat
Di sisi ekspor, pertumbuhan diperkirakan menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan global serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan. Faisal menilai ketidakpastian tersebut dapat mengganggu rantai pasok global dan mendorong sejumlah negara menerapkan kebijakan yang lebih proteksionis. Kondisi tersebut berpotensi menekan permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.
Indonesia juga dinilai belum memperoleh manfaat besar dari pertumbuhan perdagangan semikonduktor dan cip yang berkaitan dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Keterlibatan Indonesia yang masih terbatas dalam rantai pasok dengan nilai tambah tinggi membuat dampak langsung terhadap ekspor nasional diperkirakan belum signifikan. Dengan pertumbuhan ekspor yang lebih lambat sementara impor masih kuat, surplus perdagangan Indonesia berpotensi tetap tipis dalam beberapa periode ke depan.
CAD Diperkirakan Melebar
Kondisi perdagangan tersebut turut meningkatkan perhatian terhadap transaksi berjalan atau current account. Faisal memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia dapat melebar menjadi 2,49% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026, dibandingkan hanya 0,09% dari PDB pada 2025.
Sementara itu, Irman memperkirakan CAD 2026 berada di sekitar 1,5% dari PDB. Meski terdapat perbedaan proyeksi, keduanya melihat arah yang sama, yakni neraca eksternal Indonesia berpotensi mengalami tekanan seiring impor yang tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan Bank Indonesia karena pelebaran defisit transaksi berjalan dapat meningkatkan kebutuhan pembiayaan eksternal dan membuat rupiah lebih sensitif terhadap perubahan arus modal global.
Apa Artinya bagi Pasar dan Investor?
Surplus perdagangan tetap menjadi kabar positif karena menunjukkan ekspor masih mampu menutupi impor. Namun, surplus yang hanya US$120 juta memberikan bantalan yang relatif tipis. Dengan impor tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor, perubahan kecil pada harga minyak atau penerimaan ekspor komoditas dapat dengan cepat mengubah posisi neraca perdagangan.
Bagi pasar obligasi, kondisi eksternal yang lebih rentan dapat membuat investor lebih memperhatikan pergerakan rupiah dan yield global. Jika harga minyak terus tinggi, dolar AS menguat dan defisit transaksi berjalan melebar, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat dan ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas. Situasi tersebut membuat investor SBN lebih baik mengutamakan tenor pendek-menengah untuk memperoleh carry, sembari menunggu kondisi eksternal lebih stabil sebelum meningkatkan eksposur pada tenor panjang.
Di pasar saham, pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku tetap dapat dilihat sebagai indikasi bahwa aktivitas investasi dan produksi domestik berjalan. Namun, investor perlu membedakan antara impor yang produktif dan impor yang meningkatkan tekanan eksternal. Sektor yang berorientasi ekspor dan memiliki penerimaan dalam valuta asing berpotensi lebih resilien apabila rupiah melemah, sementara sektor yang sangat bergantung pada bahan baku atau barang modal impor dapat menghadapi tekanan margin.
Ke depan, investor perlu mencermati perkembangan harga minyak, ekspor komoditas, pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku, serta pergerakan rupiah. Selama impor masih tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor, surplus perdagangan Indonesia kemungkinan tetap ada tetapi belum cukup kuat untuk menjadi bantalan utama terhadap risiko eksternal.

