[Medan | 20 Mei 2026] Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan ke level 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 19-20 Mei 2026. Selain itu, BI juga memutuskan untuk menaikkan suku bunga deposit facility di level 4,25% dan lending facility di level 6,00%.
Keputusan ini menjadi kenaikan suku bunga pertama BI dalam dua tahun terakhir, setelah terakhir kali bank sentral mengkerek bunga acuan pada April 2024. Adapun tekanan terhadap nilai tukar Rupiah menjadi alasan utama dibalik keputusan ini. Rupiah yang ditutup pada level Rp 17.700 per dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5) dinilai sebagai sinyal bahwa tekanan eksternal mulai menjalar lebih luas ke pasar keuangan domestik. Rupiah telah melemah sekitar 5% sejak konflik geopolitik AS-Israel versus Iran dimulai pada 28 Februari, meskipun Bank Indonesia rutin melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Meskipun cadangan devisa telah terkuras lebih dari US$10 miliar dalam empat bulan terakhir untuk intervensi valas, penguatan kebijakan lewat suku bunga dinilai menjadi opsi paling realistis saat ini. Intervensi tunggal di pasar spot terbukti tidak cukup untuk meredam tekanan struktural yang datang dari luar.
Inflasi Terkendali, tapi Bukan Alasan untuk Diam
Paradoks dalam pengambilan keputusan kali ini adalah kondisi inflasi domestik yang justru melandai. Inflasi umum telah turun ke level 2,42% secara tahunan pada April 2026, sebagian besar disebabkan oleh keputusan pemerintah untuk menahan harga BBM bersubsidi. Artinya, kenaikan suku bunga ini bukan respons terhadap inflasi yang memanas, melainkan murni langkah stabilisasi nilai tukar.
Tekanan terhadap rupiah saat ini didominasi oleh faktor eksternal, terutama meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah inflasi AS melampaui ekspektasi pasar dan harga minyak bertahan tinggi. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menegaskan bahwa kenaikan kecil yang terukur dapat dipandang sebagai biaya stabilisasi untuk mencegah tekanan yang lebih besar di kemudian hari, seperti lonjakan biaya impor dan tergerusnya margin keuntungan dunia usaha.
Dampak ke Pasar
Keputusan ini memberi sentimen positif jangka pendek ke rupiah yang berpotensi rebound ke kisaran Rp17.300–17.500, karena pasar membaca BI tidak tinggal diam. Di sisi obligasi, yield SBN 10Y yang sudah di kisaran 6,82–6,86% akan lanjut naik ke 6,90–7,10% sehingga harga obligasi di pasar sekunder terkoreksi, menyakitkan bagi trader, tapi entry point menarik bagi investor baru. IHSG menanggung beban terberat: sektor properti, teknologi, dan konstruksi tertekan karena biaya modal naik, sementara perbankan besar relatif mixed karena repricing kredit bisa menjaga NIM.

