[Medan | 27 Agustus 2026] Komisi XI DPR RI akan mengumumkan hasil fit and proper test calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti, calon Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman, serta calon Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori pada Kamis (27/8/2026). Pengumuman dilakukan setelah seluruh rangkaian uji kepatutan dan kelayakan selesai. Penetapan pimpinan BI selanjutnya dijadwalkan dibawa ke rapat paripurna DPR pada 1 September 2026.
Destry Damayanti: Jaga Stabilitas Sambil Dukung Pertumbuhan
Destry Damayanti menjadi calon yang paling diperhatikan pasar karena akan menempati posisi Gubernur BI. Sebagai calon tunggal yang diajukan Presiden Prabowo Subianto, visi Destry akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan bank sentral dalam beberapa tahun ke depan.
Fokus utama Destry adalah menjaga keseimbangan antara stabilitas Rupiah, pengendalian inflasi, stabilitas sistem keuangan, dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. Tantangan tersebut semakin kompleks karena BI harus menghadapi tekanan eksternal seperti tingginya yield US Treasury, pergerakan dolar AS, arus modal asing serta ketidakpastian geopolitik.
Bagi pasar, pertanyaan terbesar adalah seberapa besar ruang yang akan diberikan BI untuk mendukung pertumbuhan melalui suku bunga dan likuiditas tanpa mengorbankan stabilitas Rupiah. Kebijakan yang terlalu longgar dapat meningkatkan tekanan terhadap Rupiah, sementara kebijakan yang terlalu ketat berpotensi menahan pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi.
Aida S. Budiman: Perkuat Bauran Kebijakan BI
Aida S. Budiman merupakan calon tunggal Deputi Gubernur Senior BI. Dengan pengalaman sebelumnya sebagai Deputi Gubernur BI, Aida dinilai akan berperan penting dalam menjaga kesinambungan kebijakan bank sentral.
Fokus kebijakannya berkaitan dengan penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial dan stabilitas sistem keuangan. Pendekatan ini menjadi semakin penting karena efektivitas kebijakan BI tidak hanya bergantung pada BI Rate, tetapi juga pada bagaimana likuiditas mengalir melalui sistem perbankan dan diteruskan menjadi kredit bagi perekonomian.
Dengan posisi sebagai Deputi Gubernur Senior, Aida juga akan menjadi bagian penting dalam koordinasi internal BI dan memastikan kebijakan moneter serta kebijakan makroprudensial dapat berjalan secara selaras.
Solikin M. Juhro: Dorong Kredit dan Intermediasi Perbankan
Solikin M. Juhro merupakan calon Deputi Gubernur BI yang memiliki latar belakang kuat di bidang kebijakan makroprudensial. Saat ini, Solikin menjabat sebagai Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Fokus utamanya adalah menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus meningkatkan fungsi intermediasi perbankan. Artinya, kebijakan makroprudensial tidak hanya diarahkan untuk mencegah risiko sistemik, tetapi juga memastikan likuiditas yang tersedia dapat masuk ke sektor riil melalui penyaluran kredit.
Bagi pasar, kebijakan tersebut akan berkaitan erat dengan pertumbuhan kredit, likuiditas perbankan, kualitas aset dan kemampuan sektor keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Anwar Bashori: Perkuat Sistem Pembayaran
Sementara itu, M. Anwar Bashori merupakan calon Deputi Gubernur BI dengan pengalaman di bidang pengelolaan uang Rupiah dan sistem pembayaran. Saat ini Anwar menjabat sebagai Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI.
Fokus Anwar lebih banyak berkaitan dengan penguatan pengelolaan uang Rupiah, efisiensi sistem pembayaran dan pengembangan infrastruktur pembayaran nasional. Penguatan sistem pembayaran menjadi semakin penting seiring meningkatnya transaksi digital dan kebutuhan terhadap sistem keuangan yang semakin cepat, aman dan efisien.
Meskipun kebijakan ini tidak berdampak langsung terhadap BI Rate atau yield obligasi seperti kebijakan moneter, penguatan sistem pembayaran tetap menjadi bagian penting dari pendalaman dan efisiensi sistem keuangan Indonesia.
Apa Dampaknya ke Pasar Obligasi?
Bagi investor obligasi, Destry akan menjadi nama yang paling diperhatikan. Pasar akan mencermati apakah kepemimpinan baru BI memberikan ruang bagi pelonggaran moneter dan peningkatan likuiditas, terutama jika inflasi dan Rupiah berada dalam kondisi terkendali.
Apabila pasar melihat peluang penurunan suku bunga semakin besar, ekspektasi tersebut dapat mendorong kenaikan harga SBN dan penurunan yield, terutama pada tenor menengah dan panjang. Sebaliknya, apabila BI lebih berhati-hati dan menempatkan stabilitas Rupiah sebagai prioritas utama, ruang penurunan suku bunga dapat menjadi lebih terbatas. Yield SBN berpotensi tetap tinggi karena investor masih membutuhkan kompensasi atas risiko Rupiah dan kondisi eksternal.
Rupiah Juga Akan Jadi Perhatian
Kepemimpinan baru BI juga akan diuji dalam menjaga stabilitas Rupiah. Investor asing akan melihat apakah bank sentral mampu mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter ketika dolar AS dan yield US Treasury masih tinggi.
Kepemimpinan yang dianggap konsisten dan kredibel dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap aset Indonesia. Sebaliknya, apabila pasar melihat adanya perubahan arah kebijakan yang terlalu agresif tanpa dukungan fundamental, tekanan terhadap Rupiah dapat meningkat.
Investor Menanti Kebijakan Konkret
Secara keseluruhan, keempat calon memiliki fokus yang saling melengkapi. Destry akan menjadi figur utama dalam menentukan arah kebijakan moneter dan stabilitas Rupiah, Aida berperan memperkuat koordinasi serta stabilitas sistem keuangan, Solikin berfokus pada makroprudensial dan intermediasi kredit, sedangkan Anwar menangani pengelolaan uang dan sistem pembayaran.
Namun, hasil fit and proper test hari ini belum tentu langsung menjadi katalis besar bagi pasar. Investor kemungkinan akan lebih memperhatikan kebijakan konkret setelah pimpinan BI terpilih dan dilantik, terutama terkait BI Rate, likuiditas, stabilitas Rupiah dan strategi mendorong pertumbuhan kredit.
Untuk pasar obligasi, pesan mengenai arah suku bunga dan likuiditas akan menjadi perhatian utama. Jika BI mampu memberikan sinyal pelonggaran tanpa mengorbankan stabilitas Rupiah, kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi SBN. Sebaliknya, jika tekanan eksternal masih tinggi, BI kemungkinan tetap berhati-hati sehingga penurunan yield obligasi dapat berlangsung lebih terbatas.

