[Medan | 2 Februari 2026] Harga emas dunia kembali mencatat penurunan tajam pada perdagangan Senin (2/2/2026) pagi waktu Asia, melanjutkan koreksi terdalam dalam lebih dari satu dekade terakhir. Tekanan jual juga melanda perak setelah reli ekstrem dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot sempat anjlok hingga 4 persen di awal perdagangan. Perak turut melemah sekitar 4 persen dan pada sesi sebelumnya bahkan mencatat penurunan intraday hingga 12 persen, menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.
Pada pukul 07.16 waktu Singapura, harga emas tercatat turun 3,2 persen ke level 4.742,73 dolar AS per ons. Sementara itu, harga perak merosot 7,7 persen ke posisi 78,64 dolar AS per ons.
Penguatan Dolar Tekan Logam Mulia
Tekanan pada harga emas dan perak terjadi seiring penguatan dolar AS. Indeks Spot Dolar Bloomberg naik 0,9 persen pada sesi sebelumnya, mencerminkan menguatnya permintaan terhadap mata uang AS. Kondisi ini menekan harga logam mulia yang diperdagangkan dalam denominasi dolar.
Koreksi Setelah Reli Berlebihan
Penurunan harga ini juga dipandang sebagai koreksi teknikal setelah reli yang dinilai terlalu agresif. Harga emas dan perak sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang 2025, didorong oleh ketidakpastian geopolitik, pelemahan mata uang global, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS.
Memasuki Januari 2026, lonjakan harga kian tajam hingga mendorong posisi beli yang sangat padat di pasar, membuat logam mulia rentan terhadap aksi ambil untung.
Sentimen Fed Berubah Arah
Sentimen negatif menguat setelah Presiden AS Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve. Warsh dikenal memiliki pandangan kebijakan moneter yang cenderung ketat dan agresif dalam menekan inflasi.
Ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, terutama bagi investor yang sebelumnya mengandalkan pelemahan dolar sebagai katalis utama kenaikan harga.
Faktor Teknis dan Derivatif
Volatilitas ekstrem juga diperparah oleh aktivitas di pasar derivatif. Lonjakan pembelian opsi beli (call option) dalam jumlah besar sebelumnya mendorong harga emas naik secara mekanis. Untuk mengimbangi risiko, penjual opsi melakukan lindung nilai dengan membeli emas fisik, yang memperkuat reli.
Namun, saat arah pasar berbalik, mekanisme yang sama justru mempercepat tekanan jual, membuat harga emas dan perak mengalami koreksi tajam dalam waktu singkat.

