[Medan | 8 April 2026] Harga minyak dunia anjlok tajam setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran selama dua minggu, seiring kesepakatan sementara pembukaan kembali Selat Hormuz. Langkah ini langsung meredakan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi global.
Koreksi Tajam, Volatilitas Ekstrem
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh hingga 19%—penurunan harian terbesar sejak 2020—ke kisaran US$91 per barel, sebelum stabil di sekitar US$94. Sementara itu, Brent bertahan di kisaran US$109 per barel. Penurunan ini mencerminkan unwind dari risk premium yang sebelumnya mendorong harga melonjak tajam akibat penutupan jalur distribusi utama dunia.
Pemicu Utama: Pembukaan Hormuz Sementara
Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan jalur pelayaran mulai dibuka secara terbatas melalui koordinasi militer. Sebelumnya, penutupan hampir total Selat Hormuz—yang mencakup sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global—telah memicu disrupsi besar pada pasar energi dan mendorong lonjakan harga hingga lebih dari 40% sejak konflik dimulai.
Supply Shock Belum Sepenuhnya Hilang
Meski harga terkoreksi, risiko pasokan masih membayangi. Estimasi menunjukkan lebih dari 9 juta barel per hari produksi sempat terganggu selama April. Normalisasi supply tidak akan instan karena proses reaktivasi sumur, logistik tanker, hingga rebuilding inventory membutuhkan waktu berbulan-bulan. Artinya, downside minyak masih terbatas dan potensi rebound tetap ada jika distribusi kembali terganggu.
Pasar Masuk Fase “Relief Rally”, Bukan Stabil Permanen
Penurunan harga saat ini lebih mencerminkan relief jangka pendek dibanding perbaikan fundamental penuh. Kesepakatan masih bersifat sementara (dua minggu), dengan negosiasi lanjutan dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Risiko headline-driven tetap tinggi, terutama jika pembicaraan gagal atau tensi kembali meningkat.

