[Medan | 23 Juni 2026] Pemerintah optimistis tekanan harga energi domestik akan mulai mereda seiring dengan koreksi harga minyak mentah dunia pasca membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, berpotensi turun dalam waktu mendatang apabila tren pelemahan harga minyak global berlanjut.
Pernyataan tersebut muncul setelah harga Pertamax sebelumnya mengalami kenaikan menjadi Rp16.250 per liter akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di tengah kenaikan tersebut, pemerintah memilih mempertahankan harga BBM bersubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat dan menahan tekanan inflasi domestik.
Perdamaian AS-Iran Redakan Tekanan Harga Minyak
Purbaya menilai perkembangan positif dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran mulai mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Meskipun ketidakpastian masih membayangi, risiko terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz mulai berkurang dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
Optimisme tersebut diperkuat oleh meningkatnya aktivitas ekspor minyak Iran. Dalam perkembangan terbaru, para eksportir minyak Iran dilaporkan memangkas harga jual minyak mentah ke pembeli utama di China setelah aliran ekspor kembali meningkat pasca tercapainya kesepakatan damai sementara dengan Amerika Serikat.
Kargo minyak mentah ringan Iran untuk pengiriman Juli ditawarkan dengan diskon antara US$2,50 hingga US$5 per barel terhadap harga acuan Brent. Diskon tersebut jauh lebih besar dibandingkan periode sebelum tercapainya kesepakatan, yang hanya berada di kisaran US$1 per barel.
Data pelayaran internasional juga menunjukkan sedikitnya 11 kapal tanker yang membawa sekitar 20 juta barel minyak telah meninggalkan pelabuhan Chabahar dalam beberapa hari terakhir. Bertambahnya pasokan minyak ke pasar global meningkatkan ekspektasi bahwa risiko kekurangan pasokan energi mulai mereda.
Mengapa Harga Pertamax Berpotensi Turun?
Harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax pada dasarnya mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia dan harga produk kilang internasional. Ketika harga minyak global meningkat, biaya pengadaan energi Pertamina ikut naik sehingga mendorong penyesuaian harga jual.
Sebaliknya, apabila harga minyak mentah dunia terus mengalami koreksi dan bertahan pada level yang lebih rendah, maka biaya pengadaan energi berpotensi menurun. Kondisi tersebut membuka ruang bagi penyesuaian harga BBM nonsubsidi ke level yang lebih rendah.
Meski demikian, besaran penurunan harga Pertamax tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi, serta kebijakan pemerintah terkait stabilitas energi nasional.
Dampak terhadap Inflasi dan Daya Beli Masyarakat
Penurunan harga BBM nonsubsidi berpotensi memberikan dampak positif terhadap inflasi nasional. Selama beberapa bulan terakhir, kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang mendorong ekspektasi inflasi, terutama pada kelompok transportasi dan logistik.
Apabila harga Pertamax turun, biaya operasional sektor transportasi berpotensi berkurang sehingga tekanan harga barang dan jasa dapat mereda. Dampak tersebut penting mengingat konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dari sisi masyarakat, penurunan harga BBM nonsubsidi juga dapat meningkatkan disposable income atau pendapatan yang dapat dibelanjakan, khususnya bagi kelompok menengah yang menggunakan Pertamax sebagai bahan bakar utama kendaraan.
Dampak terhadap APBN dan Subsidi Energi
Koreksi harga minyak dunia turut memberikan ruang yang lebih besar bagi pemerintah dalam menjaga kesehatan fiskal. Selama periode harga minyak tinggi, risiko peningkatan subsidi dan kompensasi energi menjadi salah satu tantangan utama bagi APBN.
Dengan harga minyak yang lebih rendah, tekanan terhadap anggaran subsidi energi berpotensi menurun sehingga pemerintah memiliki ruang fiskal yang lebih besar untuk mendukung program pembangunan maupun stimulus ekonomi lainnya.
Selain itu, risiko pelebaran defisit fiskal akibat lonjakan harga energi juga menjadi lebih terkendali dibandingkan ketika harga minyak berada dalam tren naik.

