[Medan | 11 Mei 2026] Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan. Penolakan tersebut memupus harapan pasar bahwa konflik segera mereda dan Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu dekat.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social pada Minggu (11/5/2026), Trump menyebut respons Teheran terhadap proposal damai AS sebagai sesuatu yang “SAMA SEKALI TIDAK BISA DITERIMA.” Pernyataan itu langsung memicu lonjakan harga minyak karena investor kembali memperhitungkan risiko terganggunya pasokan energi global.
Iran sebelumnya menyampaikan proposal balasan yang mencakup penghentian perang di seluruh front, kompensasi atas kerusakan akibat konflik, jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi AS, dan pemulihan ekspor minyak Iran. Namun seluruh poin tersebut ditolak oleh Washington.
Harga Brent dan WTI Rebound Tajam
Pasca penolakan tersebut, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli melonjak hingga 3,5% ke level tertinggi intraday US$104,80 per barel. Pada perdagangan pagi di Asia, Brent masih diperdagangkan di sekitar US$103,95 per barel, naik 2,6%.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni menguat 2,6% ke US$97,93 per barel, mendekati kembali level psikologis US$100.
Kenaikan harga terjadi setelah Brent sempat terkoreksi tajam sepanjang pekan lalu seiring optimisme bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Selat Hormuz Tetap Jadi Titik Risiko Utama
Pasar energi global masih berfokus pada Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia dan sebagian besar ekspor LNG dari Qatar. Penutupan selat sejak akhir Februari telah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam beberapa dekade.
Meski beberapa kapal mulai berhasil melintasi kawasan tersebut, arus pelayaran masih jauh dari normal. Qatar baru berhasil mengirim satu kargo LNG untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga secara terbatas berhasil mengeluarkan sejumlah kapal tanker.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan dunia masih kehilangan sekitar 14 juta barel minyak per hari akibat konflik tersebut.
Ketegangan Keamanan Masih Tinggi
Situasi keamanan di kawasan juga tetap rapuh. Dalam beberapa hari terakhir, drone dilaporkan menyerang kapal kargo di perairan Qatar, sementara Uni Emirat Arab dan Kuwait mengonfirmasi berhasil mencegat sejumlah drone bermusuhan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perang belum berakhir dan masih diperlukan langkah lanjutan untuk melucuti program nuklir Iran. Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah pada tekanan asing.
Dengan kedua pihak tetap bersikeras, prospek tercapainya kesepakatan damai jangka pendek semakin mengecil.
Saudi Aramco: Pasar Bisa Normal Kembali pada 2027
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lebih lama, pasar minyak global mungkin baru benar-benar kembali normal pada 2027.
Aramco telah mengalihkan sebagian ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, namun kapasitas jalur alternatif tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan volume ekspor yang biasanya melewati Hormuz.

