[Medan | 14 Oktober 2026] International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,1% pada 2026 dan 2027. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan tetap stabil dalam dua tahun ke depan, meskipun ketidakpastian global masih membayangi aktivitas ekonomi.
Berdasarkan laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2026, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil Indonesia diperkirakan mencapai 5,1% pada 2026, sama dengan proyeksi untuk 2027.
Inflasi Diperkirakan Meningkat pada 2026
Di sisi harga, IMF memperkirakan inflasi konsumen Indonesia meningkat menjadi 3,3% pada 2026, dibandingkan 1,9% pada 2025. Namun, tekanan inflasi diproyeksikan mereda menjadi 2,8% pada 2027.
Kenaikan inflasi pada 2026 menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan ruang kebijakan moneter. Sementara itu, proyeksi penurunan inflasi pada 2027 mengindikasikan bahwa tekanan harga diperkirakan lebih terkendali, meskipun realisasinya tetap bergantung pada perkembangan ekonomi domestik dan global.
Defisit Transaksi Berjalan Diperkirakan Melebar
Dari sisi eksternal, IMF memperkirakan Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sebesar 1,6% dari PDB pada 2026, lebih besar dibandingkan defisit 0,1% pada 2025. Pada 2027, defisit tersebut diproyeksikan menyempit menjadi 1,0% dari PDB.
Sementara itu, kondisi pasar tenaga kerja diperkirakan membaik secara bertahap. Tingkat pengangguran Indonesia diproyeksikan turun dari 4,9% pada 2025 menjadi 4,7% pada 2026 dan bertahan pada level yang sama pada 2027.
Pertumbuhan Ekonomi Global Masih Dibayangi Ketidakpastian
Secara global, IMF memperkirakan ekonomi dunia tumbuh 3,1% pada 2026 dan meningkat menjadi 3,4% pada 2027. Proyeksi pertumbuhan 2026 tidak berubah dari perkiraan sebelumnya, sedangkan proyeksi 2027 direvisi naik secara moderat dibandingkan laporan April 2026.
Meski demikian, IMF memperingatkan bahwa ketahanan ekonomi global menghadapi tekanan yang semakin besar. Konflik di Timur Tengah dan ketegangan perdagangan masih membayangi aktivitas ekonomi, sementara investasi pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi salah satu penopang permintaan global.
Menurut IMF, dampak berbagai tekanan tersebut berbeda antarnegara. Negara yang memiliki keterkaitan kuat dengan rantai pasok teknologi dan relatif terlindungi dari guncangan energi cenderung memiliki penyangga pertumbuhan yang lebih baik. Sebaliknya, negara pengimpor energi dengan keterlibatan terbatas dalam rantai nilai teknologi menghadapi risiko kenaikan biaya impor, tekanan nilai tukar, serta penurunan pendapatan riil masyarakat.
IMF Tekankan Pentingnya Penyesuaian Fiskal
Untuk menjaga ketahanan ekonomi, IMF menekankan perlunya kebijakan fiskal yang kredibel, termasuk upaya meningkatkan penerimaan negara dan mengefisienkan belanja pemerintah. “Pemerintah perlu menerapkan rencana penyesuaian fiskal yang kredibel dengan mengombinasikan peningkatan penerimaan negara dan rasionalisasi belanja, yang didukung oleh perbaikan kelembagaan,” tulis IMF dalam laporannya, dikutip Rabu (14/10/2026).
IMF juga memperkirakan pertumbuhan volume perdagangan dunia melambat pada 2026 dan stabil pada 2027. Perkembangan tersebut dipengaruhi tekanan tarif, penyesuaian rantai produksi, serta kuatnya aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan teknologi.
Dampak terhadap Pasar Keuangan Indonesia
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1% selama dua tahun berturut-turut memberikan gambaran bahwa aktivitas ekonomi nasional diperkirakan tetap terjaga. Bagi pasar saham, prospek pertumbuhan yang stabil dapat mendukung ekspektasi pendapatan perusahaan dan konsumsi domestik. Namun, kinerja saham tetap akan dipengaruhi oleh realisasi pertumbuhan, daya beli masyarakat, serta sentimen global.
Bagi pasar obligasi, kenaikan inflasi yang diproyeksikan pada 2026 perlu dicermati karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Jika inflasi meningkat lebih tinggi dari perkiraan, ruang pelonggaran moneter dapat menjadi lebih terbatas dan berpotensi menekan harga obligasi. Sebaliknya, jika inflasi tetap terkendali dan pertumbuhan ekonomi stabil, kondisi tersebut dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap aset domestik.
Defisit transaksi berjalan yang diperkirakan melebar juga menjadi faktor penting untuk diperhatikan. Apabila pelebaran defisit meningkatkan kebutuhan pembiayaan eksternal, rupiah berpotensi menghadapi tekanan, terutama jika disertai penguatan dolar AS dan arus keluar modal asing. Dampaknya terhadap yield SUN akan bergantung pada perkembangan nilai tukar, kebijakan BI, kondisi fiskal, serta permintaan investor.
Kesimpulan: IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,1% pada 2026 dan 2027, tetapi kenaikan inflasi dan pelebaran defisit transaksi berjalan pada 2026 menjadi risiko yang perlu dipantau. Bagi investor, fokus utamanya adalah apakah pertumbuhan yang stabil dapat dipertahankan tanpa memicu tekanan inflasi dan eksternal yang lebih besar.

