[Medan | 4 Mei 2026] Badan Pusat Statistik (BPS) merilis dua data utama pada 4 Mei 2026, yaitu inflasi April dan neraca dagang Maret.
Inflasi April 2026
| Indikator |
Angka |
| Inflasi Bulanan (MoM) |
+0.13% |
| Inflasi Tahunan (YoY) |
+2.42% |
| Inflasi Tahun Kalender (YtD) |
+1.06% |
Turunnya inflasi dari 3,48% ke 2,42% bukan karena ekonomi membaik atau daya beli masyarakat menguat. Ini semata-mata efek musiman, dimana Ramadan dan Lebaran selesai, permintaan turun, harga ikut melandai. Ini terjadi setiap tahun dan sudah sepenuhnya bisa diprediksi.
Sementara itu, inflasi inti tercatat berada di 2,44% YoY, turun dari 2,52% pada Maret 2026. Meskipun menurun, angka ini belum kembali ke level rendah pertengahan 2025. Komoditas pendorong utama inflasi inti adalah emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, dan biaya pendidikan tinggi, seluruhnya merupakan komponen yang pergerakannya bersifat sticky dan tidak mudah turun dalam jangka pendek.
Risiko Inflasi ke Depan
Meskipun inflasi April melandai, terdapat sejumlah faktor risiko yang berpotensi mendorong kembali tekanan harga pada Mei–Juni 2026:
Faktor pendorong inflasi ke atas:
- Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan LPG nonsubsidi yang sudah berlaku
- Normalisasi tarif angkutan udara pasca-periode mudik
- Pelemahan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.300-17.400 per dolar AS yang meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi
- Tekanan harga minyak global akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah
Komoditas penyumbang inflasi YoY terbesar:
| Komoditas |
Andil YoY |
| Emas Perhiasan |
+0.70% |
| Ikan Segar |
+0.22% |
| Daging Ayam Ras |
+0.20% |
| Beras |
+0.18% |
| Tarif Angkutan Darat |
+0.13% |
Emas perhiasan menjadi penyumbang tunggal terbesar, andilnya sebesar 0,70% berarti hampir sepertiga dari seluruh inflasi tahunan berasal dari satu komoditas ini. Hal ini mencerminkan lonjakan harga emas global sepanjang 12 bulan terakhir yang ditransmisikan ke pasar domestik.
Komoditas penyumbang inflasi MoM terbesar:
| Komoditas |
Andil MoM |
| Tarif Angkutan Udara |
+0.11% |
| Minyak Goreng |
+0.05% |
| Tomat |
+0.03% |
| Beras |
+0.02% |
| Nasi dengan Lauk |
+0.02% |
Tarif angkutan udara menjadi penyumbang dominan inflasi bulanan. Ini mencerminkan berakhirnya periode diskon tarif penerbangan pasca-Lebaran yang diterapkan maskapai selama musim mudik, sehingga tarif kembali ke level komersial normal.
Neraca Dagang Maret 2026
| Indikator |
Maret 2026 |
Maret 2025 |
Perubahan YoY |
| Ekspor |
US$ 22.526,8 juta |
US$ 23.247,3 juta |
-3,10% |
| Impor |
US$ 19.205,8 juta |
US$ 18.920,0 juta |
+1,51% |
| Surplus |
US$ 3.321,0 juta |
US$ 4.327,3 juta |
-23,3% |
Neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 kembali mencatat surplus sebesar US$3,32 miliar, memperpanjang tren surplus yang telah berlangsung selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Meskipun begitu, nilai surplus bulan ini turun 23,3% dibandingkan Maret 2025 yang mencatat US$4,33 miliar. Dan jika dibandingkan kumulatif Q1, gambaran itu jauh lebih mencolok.
Surplus kumulatif Q1-2026: US$5,55 miliar.
Surplus kumulatif Q1-2025: US$10,91 miliar.
Dalam satu tahun, surplus perdagangan kumulatif Indonesia turun hampir 49%, hampir separuhnya hilang. Ini bukan fluktuasi bulanan biasa. Ini perubahan tren yang struktural.
Ekspor: Kontraksi di Semua Sektor
| Sektor |
Maret 2026 (Juta US$) |
Maret 2025 (Juta US$) |
| Industri Pengolahan |
17.924,5 |
18.153,1 |
| Pertambangan & Lainnya |
3.000,2 |
3.066,2 |
| Migas |
1.280,9 |
1.452,9 |
| Pertanian, Kehutanan, Perikanan |
321,2 |
575,1 |
Seluruh empat sektor ekspor mengalami penurunan dibanding Maret 2025. Yang paling mencolok adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang turun 44,1% dari US$575 juta menjadi US$321 juta. Sektor migas juga turun 11,8%, mencerminkan penurunan produksi minyak domestik yang sudah berlangsung bertahun-tahun.Industri pengolahan, yang menyumbang 79,6% dari total ekspor, hanya turun 1,3%, namun dalam nilai absolut ini tetap berarti hilangnya US$228 juta pendapatan ekspor dibanding tahun lalu.
Secara kumulatif Q1-2026, ekspor hanya tumbuh 0,34% YoY, praktis stagnan.Yang lebih mengkhawatirkan adalah komposisi ekspor yang tidak berubah. Tiga komoditas teratas, besi dan baja, CPO, batu bara, masih menyumbang 28,53% dari total ekspor nonmigas kumulatif. Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas mentah yang harganya ditentukan pasar global, bukan oleh kita.
Impor: Naik Tipis, Didorong Barang Modal
| Sektor |
Maret 2026 (Juta US$) |
Maret 2025 (Juta US$) |
| Bahan Baku Penolong |
13.766,9 |
13,477.2 |
| Barang Modal |
3.885,4 |
3,701.1 |
| Barang Konsumsi |
1.553,5 |
1,741.7 |
Kenaikan impor barang modal +5,0% MoM mengindikasikan adanya aktivitas pembelian mesin dan peralatan, sinyal ekspansi kapasitas industri yang pada umumnya positif untuk pertumbuhan jangka menengah. Secara kumulatif Q1, kenaikan barang modal bahkan mencapai 24,02% YoY.
Namun penurunan impor barang konsumsi sebesar 10,8% justru mengkhawatirkan. Ini bisa diinterpretasikan sebagai cerminan daya beli domestik yang tertekan, dimana masyarakat membeli lebih sedikit barang konsumsi impor, bukan karena substitusi produk lokal, melainkan karena kemampuan belanja yang menurun.
Mitra Dagang Utama Maret 2026
Tujuan Ekspor Nonmigas Terbesar:
| Negara |
Nilai (US$ Juta) |
| Tiongkok |
6.039,0 |
| Amerika Serikat |
2.289,1 |
| India |
1.390,1 |
| Jepang |
1,206.9 |
Asal Impor Nonmigas Terbesar:
| Negara |
Nilai (US$ Juta) |
| Tiongkok |
6,333.0 |
| Australia |
1,074.9 |
| Jepang |
902,0 |
| Amerika Serikat |
754,9 |
Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Indonesia dari kedua sisi, namun posisinya tidak seimbang. Indonesia mengekspor US$6,04 miliar ke Tiongkok, tetapi mengimpor US$6,33 miliar dari Tiongkok, menghasilkan defisit bilateral sekitar US$294 juta. Ini adalah satu-satunya mitra besar yang membuat neraca Indonesia negatif.
Dalam konteks ketegangan perdagangan global saat ini, ketergantungan ini adalah faktor risiko. Jika permintaan Tiongkok melambat, misalnya akibat resesi properti yang berkepanjangan atau dampak tarif AS terhadap ekonomi Tiongkok, ekspor Indonesia akan terdampak langsung, sementara impor dari Tiongkok cenderung lebih sulit disubstitusi dalam jangka pendek.
Inflasi & Neraca Dagang: Apa Artinya Untuk Ekonomi Indonesia?Dua data hari ini, dibaca secara terpisah, tampak aman. Dibaca bersamaan dan dibandingkan dengan tren satu tahun ke belakang, keduanya mengirimkan sinyal yang sama: ekonomi Indonesia sedang bergerak menuju posisi yang lebih rentan.
Inflasi terkendali di 2,42%, namun bukan karena daya beli menguat. Ini efek musiman yang setiap tahun terjadi dan tidak memberikan informasi baru tentang kesehatan ekonomi. Inflasi inti yang masih di 2,44% dan risiko energi yang belum selesai menunjukkan bahwa tekanan harga belum benar-benar mereda.
Neraca dagang surplus US$3,32 miliar, namun surplus kumulatif Q1-2026 hanya separuh dari Q1-2025. Ekspor berkontraksi, basis ekspor tidak berubah, dan Januari 2026 hampir mengakhiri rekor surplus 70 bulan beruntun. Rebound Maret belum cukup untuk mengubah tren jangka menengah.
Inflasi yang kembali ke kisaran tengah target memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter. Namun, dengan nilai tukar rupiah yang masih tertekan di kisaran Rp17.300–17.400 dan surplus neraca dagang yang menyusut, ruang tersebut terbatas. Penurunan suku bunga yang terlalu agresif berisiko memperlemah rupiah lebih lanjut dan mendorong capital outflow. Bank Indonesia kemungkinan akan mempertahankan posisi wait-and-see dalam rapat kebijakan berikutnya, sembari menunggu konfirmasi data inflasi Mei dan perkembangan nilai tukar.a