[Medan | 13 April 2026] Pemerintah China mulai menunjukkan pendekatan yang lebih lunak terhadap Taiwan dengan mengumumkan 10 langkah insentif baru, menyusul pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan pemimpin oposisi Taiwan dari Kuomintang (KMT), Cheng Li-wun.
Langkah-langkah tersebut mencakup pelonggaran pembatasan pariwisata, pembukaan kembali jalur penerbangan, hingga kemudahan akses bagi produk makanan dan perikanan Taiwan ke pasar China. Selain itu, Beijing juga membuka peluang penayangan konten hiburan asal Taiwan, seperti drama dan dokumenter, selama dinilai memiliki “orientasi yang tepat”.
Kebijakan ini juga mencakup rencana pembentukan mekanisme komunikasi reguler antara Partai Komunis China dan KMT—sebuah sinyal penting bahwa Beijing berupaya membangun jalur diplomasi alternatif di luar pemerintahan resmi Taiwan.
Namun, pendekatan ini tetap disertai syarat politik yang tegas, yakni komitmen untuk menolak kemerdekaan Taiwan. Pemerintah China juga masih menolak berkomunikasi dengan Presiden Taiwan saat ini, Lai Ching-te, yang dianggap sebagai tokoh pro-kemerdekaan oleh Beijing.
Langkah “soft approach” ini mencerminkan strategi China untuk menggabungkan tekanan politik dengan insentif ekonomi guna menarik simpati publik dan pelaku usaha di Taiwan. Di satu sisi, Beijing ingin meredakan ketegangan dan membuka kembali hubungan ekonomi, namun di sisi lain tetap mempertahankan posisi keras terkait kedaulatan.
Bagi pasar, dinamika ini menjadi sinyal penting. Jika insentif ini berhasil membuka kembali arus perdagangan dan pariwisata lintas selat, maka potensi pemulihan aktivitas ekonomi regional akan meningkat. Namun, karena komunikasi resmi dengan pemerintah Taiwan masih buntu, risiko geopolitik tetap tinggi dan berpotensi kembali memanas sewaktu-waktu.

