[Medan | 19 Oktober 2026] Bank Indonesia (BI) berpeluang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang apabila pelemahan rupiah berlanjut dan tekanan arus keluar modal meluas ke pasar keuangan domestik. Namun, keputusan tersebut akan bergantung pada perkembangan nilai tukar, inflasi, arus modal, serta kondisi cadangan devisa Indonesia.
Menurut Banjaran, tekanan terhadap rupiah belakangan ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen domestik, terutama arus keluar modal setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Tekanan tersebut dinilai lebih dominan dibandingkan persoalan perbedaan imbal hasil. Artinya, pelemahan rupiah tidak hanya berkaitan dengan daya tarik suku bunga Indonesia dibandingkan negara lain, tetapi juga dengan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap pasar keuangan domestik.
Intervensi Rupiah Masih Menjadi Pilihan Utama
Banjaran menilai intervensi di pasar valuta asing dapat menjadi instrumen yang lebih efektif untuk meredam tekanan jangka pendek terhadap rupiah dibandingkan langsung menaikkan suku bunga. BI dapat mengoptimalkan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF), serta menggunakan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Melalui intervensi tersebut, BI berupaya menjaga kestabilan nilai tukar dan mengurangi gejolak yang berlebihan. Sementara itu, kenaikan suku bunga merupakan instrumen yang lebih luas dampaknya karena dapat memengaruhi biaya pinjaman, konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi. Karena itu, selama tekanan rupiah masih dapat dikelola melalui intervensi dan inflasi tetap berada dalam sasaran, BI memiliki alasan untuk menahan suku bunga sambil memantau perkembangan pasar.
Mengapa BI Belum Tentu Langsung Menaikkan Suku Bunga?
Inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy), masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5% ± 1%. Selain itu, kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 100 bps pada Mei–Juni masih dalam proses transmisi ke suku bunga perbankan. Artinya, dampak pengetatan kebijakan sebelumnya terhadap biaya kredit dan aktivitas ekonomi belum sepenuhnya terlihat.
Menaikkan suku bunga kembali dalam waktu relatif berdekatan berpotensi memperketat kondisi keuangan domestik. Biaya pinjaman bagi rumah tangga dan perusahaan dapat meningkat, sementara permintaan kredit serta investasi berpotensi melambat.
Di sisi lain, BI tetap perlu menjaga daya tarik aset rupiah. Jika pelemahan nilai tukar semakin tajam, kenaikan suku bunga dapat dipertimbangkan untuk memperkuat respons kebijakan, terutama apabila tekanan mulai menyebar dari pasar saham ke pasar surat berharga negara (SBN). Dengan begitu, keputusan BI akan bergantung pada keseimbangan antara kebutuhan menjaga stabilitas rupiah dan risiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Rupiah Tembus Rp18.000 dan Cadangan Devisa Jadi Perhatian
Banjaran menyoroti kemungkinan rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS sebagai perkembangan yang perlu mendapat perhatian utama BI. Tekanan eksternal juga masih berlangsung karena ekspektasi kenaikan lanjutan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan tingginya imbal hasil US Treasury dapat memengaruhi arus modal global.
Apabila aset berdenominasi dolar AS menawarkan imbal hasil menarik, investor dapat memilih mengalihkan sebagian dananya ke pasar AS. Jika pada saat yang sama risiko investasi di Indonesia meningkat, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar. Kondisi tersebut membuat cadangan devisa menjadi salah satu indikator penting yang dipantau pasar. Cadangan devisa Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar dan dinilai masih relatif kuat untuk membantu menjaga stabilitas rupiah.
Namun, jika tekanan berkepanjangan membuat kebutuhan intervensi meningkat dan cadangan devisa terus berkurang, ruang BI untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar dapat semakin terbatas. Dalam situasi tersebut, penguatan respons kebijakan moneter berpotensi menjadi semakin relevan.
Kapan BI Berpotensi Menaikkan Suku Bunga?
Menurut Banjaran, BI cenderung mengambil langkah antisipatif ketika pelemahan rupiah melampaui perkiraan. Meski suku bunga diperkirakan tetap pada Oktober, peluang pengetatan kebijakan pada pertemuan berikutnya masih terbuka. “Apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut dan arus keluar mulai meluas ke pasar SBN, kenaikan 25 bps berpotensi ditempuh pada RDG bulanan berikutnya,” ujar Banjaran.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah saja belum tentu cukup untuk mendorong kenaikan suku bunga. BI juga akan mencermati apakah tekanan telah meluas ke pasar obligasi pemerintah, yang dapat tercermin melalui penjualan SBN oleh investor dan kenaikan imbal hasil.
Selain itu, arah kebijakan The Fed, perkembangan arus modal asing di pasar saham dan SBN, serta inflasi Oktober akan menjadi indikator penting. Tekanan harga pangan dan imported inflation, kenaikan harga barang impor yang dapat terjadi akibat pelemahan rupiah maupun kenaikan harga global, juga perlu diperhatikan.
Dampak Potensial bagi Saham, Obligasi, dan Rupiah
Jika BI menaikkan suku bunga sebesar 25 bps, dampaknya terhadap pasar keuangan dapat berbeda-beda.
- Rupiah: Kenaikan suku bunga berpotensi membantu menopang rupiah dengan meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada sentimen global dan kepercayaan investor terhadap Indonesia.
- Obligasi: Imbal hasil SBN berpotensi naik dan harga obligasi tertekan apabila pasar menilai suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Obligasi tenor pendek biasanya lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga kebijakan, meskipun pergerakan aktual juga dipengaruhi faktor lain.
- Saham: Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan dan mengurangi daya tarik saham relatif terhadap instrumen berbunga. Sektor yang sensitif terhadap biaya kredit, seperti properti dan pembiayaan, berpotensi menghadapi tekanan, sementara dampak pada masing-masing emiten tetap bergantung pada kondisi fundamentalnya.
Namun, kenaikan suku bunga juga dapat dipandang positif apabila berhasil meredakan tekanan nilai tukar dan membantu memulihkan kepercayaan investor. Sebaliknya, jika tekanan pasar terutama berasal dari ketidakpastian MSCI, kenaikan suku bunga saja belum tentu cukup untuk membalikkan arus modal.
Kesimpulan: Perhatikan Perkembangan Rupiah dan Arus Modal
Untuk saat ini, BI masih memiliki pilihan untuk mengutamakan intervensi pasar valuta asing sambil mengevaluasi dampak kebijakan sebelumnya. Namun, apabila rupiah terus melemah, arus keluar modal meluas ke SBN, dan tekanan inflasi meningkat, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada RDG berikutnya dapat terbuka.
Investor perlu memantau tiga indikator utama: pergerakan rupiah terhadap dolar AS, arah imbal hasil SBN, dan perkembangan inflasi domestik. Ketiganya akan membantu menunjukkan apakah tekanan pasar masih terbatas pada sentimen jangka pendek atau mulai memerlukan respons moneter yang lebih kuat.
Pada akhirnya, keputusan BI tidak hanya ditentukan oleh level rupiah, tetapi juga oleh seberapa luas tekanan menyebar dan apakah stabilitas nilai tukar dapat dipertahankan tanpa pengetatan kebijakan tambahan.

