[Medan | 19 Oktober 2026] China mengusulkan pembatasan ekspor teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) canggih, termasuk model AI berukuran besar, kode sumber, bobot model, desain chip, dan klaster komputasi. Kebijakan ini bertujuan memperkuat kendali Beijing atas teknologi strategis di tengah meningkatnya persaingan dengan Amerika Serikat (AS).
Rancangan tersebut mencakup 23 teknologi AI yang berpotensi masuk dalam daftar pengendalian ekspor. Pembatasan akan berlaku untuk teknologi yang memenuhi kriteria tertentu, termasuk model dengan kemampuan tinggi dan teknologi yang dinilai sensitif bagi keamanan nasional.
Langkah ini menjadi perhatian karena perusahaan AI China semakin kompetitif dan mulai memperluas bisnis ke pasar internasional. Pembatasan ekspor berpotensi memengaruhi strategi perusahaan-perusahaan tersebut dalam memasarkan model AI dan menyediakan teknologi bagi pengembang di luar negeri.
China Makin Kompetitif di Industri AI
Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan AI China menunjukkan kemajuan dalam mengejar ketertinggalan dari pemain utama AS. Model seperti Kimi K3 dari Moonshot AI dan versi terbaru DeepSeek menawarkan harga yang lebih kompetitif.
Sejumlah perusahaan China juga mengadopsi pendekatan berbagi bobot model (open-weight), yang memungkinkan pengembang mengunduh dan menyesuaikan model untuk membangun aplikasi mereka sendiri. Strategi ini membantu memperluas penggunaan teknologi AI China di kalangan pengembang global.
Perusahaan China juga mulai menjangkau pasar internasional melalui penyedia layanan komputasi awan. Salah satunya Z.AI Co., yang menyediakan produknya melalui layanan cloud AS seperti Amazon Web Services.
Namun, jika usulan pembatasan diterapkan, perusahaan dapat menghadapi persyaratan perizinan ketika mengirimkan teknologi tertentu ke luar negeri. Hal ini berpotensi memperlambat ekspansi internasional dan mengurangi fleksibilitas perusahaan dalam mendistribusikan model AI mereka.
Model AI Berukuran Besar Berpotensi Terdampak
Usulan tersebut mencakup teknologi inti untuk model yang dilatih menggunakan data sensitif dan memiliki setidaknya 2 triliun parameter, atau model yang masuk dalam 10 besar dunia berdasarkan indikator seperti kinerja, penggunaan, dan keamanan.
Parameter merupakan komponen yang dipelajari model selama proses pelatihan. Secara umum, jumlah parameter yang besar dapat mendukung kemampuan model dalam menangani tugas kompleks, meskipun kinerja AI tidak ditentukan oleh jumlah parameter semata. Kriteria tersebut berpotensi mencakup model seperti Kimi K3 dan Qwen3.8-Max milik Alibaba Group Holding Ltd., bergantung pada penerapan akhir aturan dan pemenuhan kriteria yang ditetapkan.
Dampaknya dapat semakin terasa ketika perusahaan berupaya mengembangkan model dengan kapasitas lebih besar. Bulan lalu, Alibaba mengumumkan rencana untuk mengembangkan model dengan 5 triliun hingga 10 triliun parameter guna menangani tugas yang lebih panjang dan kompleks.
Apabila pembatasan berlaku, pengiriman teknologi inti model-model tersebut ke luar negeri berpotensi membutuhkan izin dan proses tambahan. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya kepatuhan serta memperlambat pengembangan bisnis internasional.
Meski demikian, teknologi dan penelitian sumber terbuka yang telah berada di domain publik tidak akan tercakup dalam rancangan tersebut. Pemerintah China juga menyatakan akan menyediakan prosedur yang lebih sederhana, termasuk perizinan otomatis, untuk ekspor yang melibatkan teknologi AI sumber terbuka.
Beijing Perketat Pengendalian Teknologi Strategis
Pembatasan AI ini merupakan bagian dari usulan pengendalian terhadap 40 teknologi di sejumlah sektor industri yang dinilai strategis. Selain 23 teknologi AI, rancangan tersebut mencakup lima teknologi biomedis dan 12 teknologi tenaga surya, termasuk platform terapi sel dan gen serta teknologi produksi modul surya canggih tertentu.
Ryan Etzcorn, direktur senior di Ankura China Advisors, menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa China tetap berupaya memperkuat kendali atas teknologi yang menjadi keunggulan industrinya. “Ini lebih dari sekadar pemeliharaan rutin. Dengan menargetkan AI, tenaga surya, dan bioteknologi — sektor-sektor di mana Tiongkok memiliki keunggulan yang terus berkembang — Beijing memberi sinyal bahwa hubungan yang lebih stabil dengan Barat tidak berarti mereka akan berdiam diri,” kata Etzcorn.
China sebelumnya juga memperbarui daftar teknologi yang dilarang atau dibatasi untuk diekspor. Pada 2020, Beijing memasukkan algoritma ke dalam daftar pengendalian setelah pemerintahan pertama Donald Trump mengancam akan melarang TikTok di AS kecuali aplikasi tersebut menjual asetnya di negara itu kepada perusahaan Amerika.
Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa usulan terbaru bertujuan menjaga keamanan dan memastikan teknologi tersebut tetap dapat dikendalikan. Pemerintah menyoroti risiko penyalahgunaan AI untuk menyerang infrastruktur kritis, industri pertahanan, dan sistem inti pemerintahan.
Menurut kementerian, pengendalian diperlukan untuk memperkuat keamanan, mencegah penyalahgunaan teknologi, memastikan AI tetap berada di bawah kendali manusia, serta mendorong tata kelola AI di tingkat internasional.
Ketidakpastian bagi Industri AI Global
Usulan pembatasan tersebut berpotensi menambah ketidakpastian bagi industri AI yang telah menghadapi berbagai hambatan, mulai dari kontrol konten yang ketat di China, sistem perizinan, hingga risiko sanksi dari AS.
Dalam rancangan itu, penerapan model AI yang masuk kategori pembatasan di luar negeri akan diperlakukan sebagai ekspor teknologi. Sementara itu, penerapan pada infrastruktur luar negeri milik penyedia layanan China berpotensi memenuhi syarat untuk memperoleh perizinan otomatis. Bagi perusahaan AI China, ketentuan ini dapat memengaruhi cara mereka menawarkan produk, bekerja sama dengan mitra asing, dan mengembangkan pasar internasional. Bagi perusahaan global,

