[Medan | 19 Oktober 2026] Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dijadwalkan menggelar pertemuan virtual dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin sore (19/10/2026). Pertemuan tersebut bertujuan memperoleh penjelasan langsung mengenai rencana perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, membenarkan agenda pertemuan tersebut. Ia menyampaikan bahwa BEI dan MSCI akan membahas berbagai aspek teknis secara menyeluruh melalui rapat daring menggunakan Zoom. Hasil pembahasan rencananya akan disampaikan kepada publik melalui konferensi pers.
“Rencana Senin [19/10/2026] sore melalui rapat virtual dengan Zoom. Hasilnya akan kami sampaikan langsung lewat konferensi pers,” ujar Iding setelah menghadiri dialog konsolidasi industri di Gedung BEI, Jakarta, Minggu (18/10/2026).
BEI dan OJK Pertanyakan Dasar Evaluasi MSCI
Pertemuan ini menjadi langkah bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk memahami alasan dan pertimbangan di balik pengumuman terbaru MSCI. BEI dan OJK ingin memperoleh kejelasan mengenai indikator, data, serta faktor-faktor yang mendasari munculnya wacana perubahan klasifikasi tersebut.
Salah satu hal yang akan diklarifikasi adalah waktu pengumuman. Menurut Iding, pengumuman tersebut muncul di luar perkiraan karena evaluasi sebelumnya diperkirakan baru berlangsung pada November 2026.
Selain itu, arah pengumuman terbaru dinilai berbeda dari pembahasan dalam evaluasi pada Juni 2026. Wacana perubahan status menjadi Standalone Market pun menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap aksesibilitas dan daya tarik pasar saham Indonesia.
BEI dan OJK juga akan meminta penjelasan mengenai komunikasi yang selama ini berlangsung dengan MSCI. Menurut otoritas, hubungan kedua pihak sebelumnya berjalan konstruktif, dan MSCI disebut sempat mengapresiasi perkembangan reformasi pasar modal Indonesia. Melalui pertemuan ini, otoritas berharap dapat memahami secara lebih terperinci persoalan yang masih menjadi perhatian MSCI serta langkah-langkah yang diperlukan untuk menindaklanjutinya.
OJK dan BEI Kumpulkan Analis serta Pelaku Pasar
Sebelum pertemuan dengan MSCI, OJK bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) telah menggelar dialog konsolidasi dengan sejumlah analis, ekonom, pelaku industri, pengamat keuangan, hingga financial influencer pada Minggu (18/10/2026).
Forum tersebut dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, serta Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi.
Dalam diskusi tersebut, sejumlah peserta menyampaikan keterkejutan atas wacana perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. Para peserta juga berupaya menelusuri sumber data dan pihak-pihak yang menjadi rujukan MSCI dalam menyusun penilaiannya.
Berdasarkan informasi dari peserta forum, beberapa manajer investasi dan investor institusi bahkan mempertimbangkan untuk mengirimkan surat klarifikasi langsung kepada MSCI. Namun, pihak-pihak yang akan mengambil langkah tersebut masih dalam tahap finalisasi.
Hasil Pertemuan Menjadi Perhatian Investor
Pertemuan BEI dan OJK dengan MSCI menjadi penting karena ketidakpastian mengenai status pasar Indonesia dapat memengaruhi keputusan investasi, khususnya bagi pengelola dana global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan.
Jika perubahan klasifikasi benar-benar diterapkan, sebagian dana yang mengikuti indeks pasar berkembang berpotensi menyesuaikan alokasi investasinya. Namun, besarnya dampak akan bergantung pada keputusan akhir MSCI, kebijakan masing-masing pengelola dana, serta respons pasar terhadap perkembangan tersebut. Perlu ditegaskan bahwa pertemuan ini belum berarti MSCI telah membatalkan rencana evaluasinya. Fokus utama saat ini adalah memperoleh kejelasan mengenai dasar penilaian, indikator yang perlu diperbaiki, dan tahapan proses selanjutnya.
Karena itu, investor perlu mencermati hasil pertemuan dan konferensi pers yang dijadwalkan setelahnya. Penjelasan yang lebih terperinci dapat membantu pasar menilai apakah ketidakpastian akan berkurang atau masih diperlukan langkah reformasi lebih lanjut. Pada akhirnya, pemulihan kepercayaan investor tidak hanya bergantung pada hasil komunikasi dengan MSCI, tetapi juga pada kejelasan data pasar, transparansi kepemilikan saham, kualitas free float, dan konsistensi pelaksanaan reformasi pasar modal Indonesia.

