[Medan | 31 Maret 2026] Bursa saham Asia diperkirakan melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (31/3), mengikuti tekanan dari Wall Street di tengah meningkatnya eskalasi konflik Iran setelah ancaman terbaru dari Donald Trump.
Kontrak berjangka indeks saham di Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong bergerak di zona negatif, sementara Australia hanya naik tipis. Di AS, indeks S&P 500 ditutup di level terendah sejak Agustus dan kini hanya sekitar <1% dari zona koreksi (turun 10%), sedangkan Nasdaq 100 telah terkoreksi sekitar 12% dari puncaknya.
Tekanan pasar dipicu kombinasi lonjakan harga minyak + risiko perang berkepanjangan, yang meningkatkan kekhawatiran stagflasi (inflasi naik, pertumbuhan turun).
Obligasi Mulai Rebound, Ekspektasi The Fed Berubah
Di sisi lain, pasar obligasi mulai menunjukkan pemulihan. Imbal hasil US Treasury turun setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih “terjangkar dengan baik”, meskipun ada tekanan energi dalam jangka pendek.
Pernyataan ini memicu perubahan besar di pasar:
- Ekspektasi kenaikan suku bunga mulai ditinggalkan
- Probabilitas pemangkasan suku bunga kembali meningkat
- Yield obligasi global (termasuk Australia & NZ) ikut turun
Artinya, pasar mulai melihat risiko utama bukan lagi inflasi semata, tetapi perlambatan ekonomi akibat shock energi.
Eskalasi Baru: Target Energi Iran
Ketegangan meningkat setelah Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran, termasuk fasilitas di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz.
Ancaman ini krusial karena:
- Pulau Kharg menyumbang mayoritas ekspor minyak Iran
- Gangguan di titik ini = shock suplai global langsung
- Berpotensi mendorong harga minyak ke skenario ekstrem (>US$120–150)

