IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Pidato Powell di Harvard: The Fed Belum Perlu Naikkan Suku Bunga Imbas Perang Iran-AS

By Aurelia 5 months ago Ekonomi
Image source: AP/ cnbc.com
SHARE

[Medan | 31 Maret 2026] Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa bank sentral AS belum melihat kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga, meskipun terjadi lonjakan harga minyak akibat konflik Iran-AS. Dalam pidatonya di Harvard University, Powell menyampaikan bahwa dampak penuh dari shock energi terhadap inflasi dan pertumbuhan masih belum dapat diukur secara pasti, sehingga kebijakan saat ini dinilai masih berada di posisi yang tepat. Ia juga menegaskan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga (well anchored), meskipun inflasi telah berada di atas target 2% selama beberapa tahun terakhir.

Contents
Oil Shock Dinilai Bersifat SementaraReaksi Pasar: Yield Turun, Ekspektasi BerubahRisiko Tambahan: Private Credit Mulai TertekanLonjakan Harga Minyak Perbesar Risiko GlobalAnalisa & Implikasi Pasar

Oil Shock Dinilai Bersifat Sementara

Powell menekankan bahwa lonjakan harga minyak saat ini lebih merupakan supply shock, bukan dorongan dari sisi permintaan. Dalam kondisi seperti ini, The Fed cenderung tidak terburu-buru merespons dengan kenaikan suku bunga karena efek kebijakan moneter memiliki jeda waktu (lag). Ia memperingatkan bahwa pengetatan yang terlalu cepat justru berisiko menekan ekonomi ketika dampak lonjakan harga energi mulai mereda. Dengan kata lain, The Fed memilih pendekatan wait and see dan cenderung “look through” shock jangka pendek tersebut.

Reaksi Pasar: Yield Turun, Ekspektasi Berubah

Pasar keuangan langsung merespons pernyataan tersebut dengan penguatan di pasar obligasi. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun dan 10 tahun turun sekitar 10 basis poin, mencerminkan meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga. Investor mulai mengurangi taruhan terhadap skenario pengetatan lanjutan dan kembali membuka peluang pemangkasan suku bunga ke depan. Pergeseran ini menunjukkan perubahan fokus pasar dari kekhawatiran inflasi menuju risiko perlambatan ekonomi.

Risiko Tambahan: Private Credit Mulai Tertekan

Selain isu inflasi, Powell juga menyinggung sektor private credit yang nilainya mencapai sekitar US$3 triliun. Ia mengakui adanya peningkatan default dan penarikan dana oleh investor, namun menilai kondisi tersebut masih dalam tahap koreksi dan belum menunjukkan tanda-tanda risiko sistemik terhadap sektor perbankan. Hal ini memberikan sinyal bahwa stabilitas sistem keuangan secara umum masih terjaga.

Lonjakan Harga Minyak Perbesar Risiko Global

Dalam satu bulan terakhir, harga minyak telah melonjak lebih dari 45% seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan gangguan di jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz. Kenaikan ini berpotensi mendorong inflasi dalam jangka pendek, namun di saat yang sama juga menekan pertumbuhan ekonomi global melalui peningkatan biaya produksi dan penurunan daya beli.

Analisa & Implikasi Pasar

Secara keseluruhan, pidato Powell menegaskan bahwa The Fed tidak ingin bereaksi berlebihan terhadap tekanan inflasi yang berasal dari faktor eksternal. Fokus kebijakan kini mulai bergeser ke menjaga keseimbangan antara inflasi dan pertumbuhan. Hal ini memberikan sentimen positif bagi pasar obligasi global, meskipun volatilitas tetap tinggi akibat faktor geopolitik.

 

You Might Also Like

Inflasi AS Juli Sesuai Ekspektasi, Fed Punya Ruang Pangkas Suku Bunga?

Siap-siap! Prabowo Bakal Pidato APBN 2027 Besok (14/8)

Prabowo Bakal Resmikan Ekosistem Motor Listrik Nasional Hari Ini

Bank Sentral China Borong 20 Ton Emas di Juli, Terbesar Sejak Tahun 2023

Pos Indonesia Minta Restrukturisasi Sukuk Usai Gagal Bayar

TAGGED: powell pidato, suku bunga AS
Aurelia March 31, 2026 March 31, 2026
Previous Article Trump Ancam Hancurkan Pulau Kharg Jika Tak Sepakat Akhiri Perang, Bursa Asia Siap Melemah?
Next Article Pemerintah Akan Umumkan Kebijakan Baru dari WFH Hingga B50 Hari Ini
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?