[Medan | 1 Oktober 2026] Presiden China Xi Jinping menilai perekonomian negaranya tetap tangguh di tengah berbagai tekanan. Xi juga menyerukan agar pemerintah terus berupaya mencapai target ekonomi 2026 sekaligus memastikan pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15 dapat dimulai dengan baik.
“Perekonomian negara kita terus berkembang meskipun menghadapi tekanan,” kata Xi dalam resepsi untuk memperingati 77 tahun berdirinya Republik Rakyat China, Rabu (30/9). Pernyataan tersebut menjadi pidato besar pertama Xi setelah pertemuan puncak dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dalam kesempatan itu, Xi menekankan pentingnya menjaga stabilitas sekaligus mendorong kemajuan ekonomi.
“Kita harus tetap berpegang pada prinsip umum untuk mendorong kemajuan dengan tetap menjaga stabilitas, serta menerapkan filosofi pembangunan baru secara menyeluruh dan konsisten.”
China Siapkan Stimulus untuk Pulihkan Ekonomi
Pernyataan Xi disampaikan ketika pemerintah China tengah berupaya mengembalikan momentum pertumbuhan ekonomi yang mulai melemah. Pada pekan ini, pemerintah meluncurkan sejumlah kebijakan untuk mendukung perekonomian, termasuk paket stimulus terbesar sejak 2024.
China menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5%-5% pada 2026. Namun, pertumbuhan pada kuartal sebelumnya telah berada di bawah kisaran target tersebut, sehingga pemerintah meningkatkan dukungan kebijakan untuk menjaga aktivitas ekonomi.
Sejumlah langkah yang diumumkan mencakup pemberian subsidi kredit pemilikan rumah (KPR) serta perluasan fasilitas pinjaman dari bank sentral untuk sektor infrastruktur, teknologi, dan sejumlah sektor prioritas lainnya. Kebijakan tersebut diarahkan untuk membantu meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus mendukung pencapaian target pertumbuhan tahun ini.
Xi dan Trump Perpanjang Gencatan Tarif
Pernyataan Xi juga disampaikan setelah pertemuan puncak dengan Trump di Washington. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin kembali menegaskan kerangka kerja untuk mengelola persaingan antara China dan AS sebagai dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia.
Kedua pihak sepakat memperpanjang gencatan tarif perdagangan hingga Januari. Selain itu, tarif terhadap barang senilai US$60 miliar yang tidak tergolong sensitif akan dipangkas. China dan AS juga sepakat membentuk mekanisme komunikasi untuk membahas berbagai risiko yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari upaya kedua negara mengelola hubungan perdagangan dan ekonomi setelah ketegangan tarif sebelumnya menekan prospek perdagangan bilateral.
Xi Kembali Soroti Isu Taiwan
Dalam pidatonya pada Rabu, Xi juga menyerukan peningkatan pertukaran dan kerja sama lintas Selat Taiwan. Pada saat yang sama, dia menyerukan tindakan terhadap kelompok yang mendukung “kemerdekaan Taiwan”, menurut laporan kantor berita resmi Xinhua. Xi juga kembali menegaskan kebijakan luar negeri China yang mengedepankan perdamaian.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa agenda ekonomi domestik tetap berjalan bersamaan dengan prioritas China dalam hubungan luar negeri, termasuk hubungan dengan AS dan isu Taiwan.

