[Medan | 1 Oktober 2026] Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak hingga 5,306% secara intraday, level tertinggi sejak Mei 2002 atau dalam 24 tahun terakhir. Kenaikan tersebut terjadi meski data inflasi PCE AS Agustus berada di bawah perkiraan dan menurunkan peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Tekanan terhadap pasar obligasi justru datang dari data ekonomi AS yang tetap kuat serta aksi jual Treasury yang semakin meluas. Sepanjang September, yield Treasury 10 tahun bahkan melonjak lebih dari 50 basis poin, pergerakan yang tergolong tidak biasa di pasar Treasury senilai US$32 triliun.
Yield Treasury 10 Tahun Tembus 5,3%
Yield Treasury 10 tahun menembus level 5,3% untuk pertama kalinya dalam 24 tahun dan menjadi perhatian karena instrumen tersebut merupakan salah satu benchmark utama pasar keuangan global. Pada perdagangan terakhir, yield 10 tahun sempat mencapai 5,306%, melampaui level 5,303% yang tercatat pada 2007, sebelum krisis keuangan global. Kenaikan juga terjadi pada tenor lainnya. Yield Treasury 30 tahun mencapai 5,652%, sementara yield 2 tahun yang lebih sensitif terhadap kebijakan The Fed berada di level 4,899%.
Pergerakan tersebut terjadi di tengah data inflasi yang sebenarnya lebih rendah dari ekspektasi. Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks PCE Agustus naik 3,4% secara tahunan, di bawah konsensus pasar 3,7%. Core PCE yang mengecualikan komponen makanan dan energi tumbuh 3,0%, juga lebih rendah dari perkiraan 3,3%.
Dengan indikator inflasi pilihan The Fed menunjukkan tanda stabilisasi, probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober berdasarkan CME FedWatch Tool turun dari sekitar 51% sehari sebelumnya menjadi sekitar 37% secara intraday. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa The Fed memiliki urgensi yang lebih rendah untuk kembali memperketat kebijakan dalam waktu dekat.
Data Ekonomi AS Justru Tetap Kuat
Di sisi lain, sejumlah indikator pertumbuhan memberikan gambaran berbeda. Pertumbuhan PDB AS kuartal II direvisi naik menjadi 2,2% secara tahunan dari estimasi sebelumnya sebesar 1,5%. Pasar tenaga kerja juga menunjukkan ketahanan. Data ADP mencatat payroll sektor swasta AS bertambah 90.000 pada September, jauh di atas konsensus 68.000.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan inflasi yang masih berada di atas target membuat tekanan terhadap yield jangka panjang tetap tinggi. Pasar kini kembali mencermati apakah ketahanan ekonomi AS dapat membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih ketat meskipun inflasi mulai melandai.
Aksi Jual Treasury Makin Meluas
Kenaikan yield semakin tajam karena aksi jual Treasury yang awalnya dipicu kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS dan inflasi kini berkembang menjadi aksi jual berantai. Ketika yield menembus level tertentu, sejumlah dana investasi harus menjual Treasury untuk memenuhi batasan mandat pengelolaan portofolio. Penjualan tersebut kemudian mendorong yield semakin tinggi dan memicu aksi jual tambahan.
Priya Misra, portfolio manager J.P. Morgan Asset Management, menggambarkan kondisi tersebut sebagai sebuah siklus yang sulit diputus. Menurutnya, tekanan tersebut masih dapat berlanjut karena pelaku pasar enggan mengambil posisi berlawanan ketika aksi jual sedang berlangsung. Upaya Treasury Secretary Scott Bessent untuk memperluas pembelian Treasury juga belum mampu menghentikan tekanan jual.
Faktor Teknis Ikut Memperbesar Tekanan
Faktor teknis di pasar juga memperkuat aksi jual. Matthew Scott, global head of trading di AllianceBernstein, mengatakan hedge fund dan REIT yang memiliki posisi besar pada mortgage-backed securities (MBS) menjual Treasury tenor panjang dalam jumlah besar. Ketika suku bunga naik, pembayaran kembali KPR dapat melambat sehingga durasi MBS menjadi lebih panjang. Kondisi tersebut mendorong pemegang MBS untuk menjual obligasi berdurasi panjang lainnya guna menyeimbangkan kembali eksposur portofolio.
Amrut Nashikkar, analis Barclays, menambahkan bahwa leveraged funds dengan posisi besar di pasar Treasury futures juga melakukan rebalancing portofolio. Daniel Gottlander, head of North America swaps trading di Citigroup, menjelaskan bahwa ketika aksi jual terjadi, pelaku pasar harus mengurangi risiko di bagian lain portofolio sehingga berbagai transaksi dapat terjadi secara bersamaan. Ia juga mencatat bahwa pembeli yang biasanya muncul untuk memanfaatkan harga obligasi yang lebih murah belum terlihat dalam jumlah yang cukup untuk menahan tekanan jual.
Harga Energi dan Utang AS Jadi Beban
Lonjakan yield juga tidak terlepas dari kenaikan harga energi sejak perang Iran dimulai pada Februari yang memperburuk tekanan inflasi. Di saat yang sama, kebutuhan pembiayaan perusahaan-perusahaan besar di sektor artificial intelligence (AI) serta utang nasional AS yang telah melampaui US$40 triliun turut menjadi faktor yang mendorong yield lebih tinggi.
Inflasi AS yang telah berada di atas target The Fed sebesar 2% selama lima tahun berturut-turut juga masih menjadi beban bagi pasar. Kondisi tersebut sebelumnya turut mendorong bank sentral melakukan kenaikan suku bunga pertamanya dalam tiga tahun.
Oktober Berpotensi Jadi Bulan Berat bagi Obligasi
Tekanan terhadap pasar obligasi juga memasuki Oktober setelah Bloomberg US Aggregate Bond Index turun lebih dari 2,5% sepanjang September. Berdasarkan rata-rata imbal hasil bulanan sejak 2000, Oktober mencatat kinerja terburuk untuk indeks tersebut dengan rata-rata -0,11%, disusul September sebesar -0,04%. Pada 2016, 2018, serta periode 2020-2023, indeks juga mencatat penurunan berturut-turut pada September dan Oktober.
Guy LeBas, bond strategist di Janney, mengingatkan agar pola musiman tidak ditafsirkan secara berlebihan. Namun, perubahan jangka panjang dalam kondisi ekonomi dapat bertahan selama beberapa bulan. Di tengah tekanan tersebut, sebagian investor mulai melihat kenaikan yield sebagai peluang. Andrew Cray, chief investment officer Crescent Grove, mengatakan yield 5%, 6%, hingga 7% mulai terlihat menarik setelah reli panjang di pasar saham. Kenaikan yield juga mendorong lebih banyak pertanyaan dari investor terkait investasi obligasi. Yield yang lebih tinggi memberikan potensi pendapatan bunga yang lebih besar secara berkala, yang dapat membantu mengimbangi kerugian mark-to-market apabila suku bunga kembali naik.
Wall Street Ditutup Bervariasi, Minyak Naik
Pergerakan pasar obligasi turut mewarnai perdagangan saham AS. Dow Jones Industrial Average turun 443,87 poin atau 0,86% menjadi 50.906,05. S&P 500 melemah 19,30 poin atau 0,25% menjadi 7.651,54, sementara Nasdaq Composite justru naik 63,52 poin atau 0,24% ke 26.861,06.
Sejumlah saham teknologi berkapitalisasi besar masih mencatat penguatan. Apple naik 1,10%, Nvidia 0,80%, Amazon 1,01%, dan Alphabet 0,93%. Hewlett Packard Enterprise (HPE) juga naik sekitar 4% setelah menaikkan prospek pertumbuhan pendapatan jangka panjang bisnis networking dan mengumumkan kontrak senilai US$1,2 miliar dengan penyedia cloud Vultr. Sebaliknya, Meta turun 1,84%, sementara Moderna melemah lebih dari 5% setelah Citi menurunkan rekomendasinya.
Di pasar komoditas, harga minyak kembali menguat setelah negosiasi AS-Iran mengalami kebuntuan. Brent November di ICE Futures London naik US$0,94 atau 0,92% menjadi US$103,53 per barel. WTI November di New York Mercantile Exchange naik US$1,04 atau 1,16% menjadi US$90,42 per barel.
Pasar Menunggu Data Ketenagakerjaan AS
Perhatian pasar selanjutnya beralih ke laporan ketenagakerjaan AS September yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Jika data tenaga kerja kembali menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga The Fed dapat kembali menjadi perhatian meskipun inflasi mulai melandai. Bagi pasar global, salah satu fokus utama berikutnya adalah apakah volatilitas di pasar Treasury akan semakin merambat ke pasar saham.

