Dalam sepekan terakhir market Indonesia mengalami gejolak akibat tekanan dari ketegangan geopolitik dan ketakutan investor akan adanya outflow asing dari IHSG itu sendiri. ketakutan ini diakibatkan oleh adanya sinyal dari indeks MSCI yang berpotensi mengurangi porsi kepemilikan saham Indonesia dalam list indeks MSCI. Hal ini mengakibatkan kepanikan market akan keluar nya dana asing sehingga banyak yang merespon hal negative ini sehingga IHSG mengalami trading halt sebanyak 2 kali dalam kurun waktu 2 hari berturut.
Buntut dari kasus MSCI ini para petinggi dari Self-Regulatory Organization melakukan aksi “mundur massal” sebagai bentuk tanggung jawab mereka akan “lalai” merespons masukan MSCI yang telah diberikan sejak bulan September tahun lalu. Kemudian, seberapa pentingkah indeks MSCI ini bagi Indonesia?.
Apa itu MSCI?
MSCI (Morgan Stanley Capital Internasional) dikenal sebagai indeks acuan bagi para big fund global. Sebagai indeks yang dinilai sangat transparan dan terstruktur dari segi penyesuaian indeks MSCI cukup di percaya oleh banyak big fund ternama secara global. MSCI ini sendiri punya klasifikasi dalam menentukan indeks yang terbagi diantaranya yakni developed market, emerging market dan frontier market. Saat ini Indonesia berada pada golongan emerging market dimana komposisi bobot yang di investasikan lebih sedikit dibandingkan dengan developed market. Kemudian untuk bobot persentase yang di investasikan terbagi sebagai berikut; Americas 75%, EMEA 17% dan APAC 8% (termasuk Indonesia).
Menurut pandangan analis, bobot APAC yang hanya 8% membuat persaingan antar negara Asia dalam menarik dana global menjadi sangat ketat. Artinya, ketika MSCI memberi sinyal negatif terhadap Indonesia, dana asing tidak serta-merta hilang, melainkan berpotensi berpindah ke market lain yang dinilai lebih stabil dan ramah investor.
Analis juga menilai MSCI bukan hanya melihat performa IHSG, tetapi juga aspek market accessibility, seperti konsistensi regulasi, perlindungan investor, efisiensi settlement, hingga stabilitas likuiditas. Jika faktor-faktor ini dinilai memburuk, Indonesia akan dianggap memiliki risiko regulasi yang lebih tinggi, dan hal tersebut menjadi perhatian utama investor institusi global.
Lebih lanjut, analis mengingatkan bahwa potensi dampak terbesar datang dari dana pasif (ETF/index fund) yang mengikuti MSCI. Jika bobot Indonesia turun atau terjadi pengurangan saham Indonesia di indeks, maka bisa memicu forced selling yang mempercepat outflow asing dan meningkatkan volatilitas pasar. Kondisi ini yang membuat market bereaksi agresif bahkan sebelum keputusan MSCI benar-benar diumumkan, sehingga tekanan jual membesar dan memicu panic selling. Karena itu, menurut analis, isu MSCI harus dipandang sebagai alarm penting bagi market Indonesia. Jika respons regulator tidak cepat dan kredibel, maka risiko penurunan minat investor global akan semakin besar dan tekanan terhadap IHSG dapat berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Kedepan analis menilai IHSG akan mempertimbangkan untuk kembali pada sektor yang ber fundamental kuat dan teruji secara tahunan. Adapun rekomendasi saham yang dapat di pantau ditengah ketidak pastisan dana asing saat ini sebagai berikut:
Technical analysis
- BBCA

Buy on Weakness
Entry : 7300-7200
TP 1 : 7625
TP 2 : 8000
TP 3 : 8300
SL< 6900
- BBRI

Buy on Breakout
Entry : 3800-3860
TP 1 : 4000
TP 2 : 4150
TP 3 : 4300
SL< 3750
- BMRI

Buy on Weakness
Entry : 4680-4750
TP 1 : 5000
TP 2 : 5200
TP 3 : 5950
SL< 4610
Disclaimer on
Buletin ini dimaksudkan untuk tujuan informasi dan bukan sebagai dasar untuk membeli dan menjual keputusan. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Klien harus mengetahui dan memahami risiko di Pasar Modal dan memahami isi buletin sebelum mengambil tindakan terkait. Oleh karena itu, PT Fawz Finansial Indonesia tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung yang diderita oleh klien sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam buletin ini.
By Zikri Fawz Finansial Indonesia

