[Medan | 10 September 2026] Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi perhatian pasar setelah muncul kabar bahwa pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam tengah mengajukan penawaran untuk membeli saham mayoritas perusahaan. Di tengah kabar tersebut, investor asing dan sejumlah broker institusi tercatat melakukan aksi jual saham BYAN.
Investor Asing Catat Jual Bersih BYAN
Berdasarkan data bursa, investor asing mencatatkan jual bersih saham BYAN sebesar Rp10,06 miliar di pasar reguler pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Dalam sebulan terakhir, akumulasi jual bersih asing terhadap BYAN mencapai sekitar Rp94,09 miliar, setelah kabar mengenai rencana pengambilalihan saham oleh Haji Isam mulai beredar di kalangan pelaku pasar. Tekanan jual juga datang dari sejumlah broker institusi lokal yang melakukan distribusi dalam jumlah cukup besar.
Sejumlah Broker Ikut Lepas Saham
PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG), yang terafiliasi dengan Garibaldi “Boy” Thohir, tercatat menjual sekitar 23,6 ribu lot saham BYAN dengan nilai Rp35,2 miliar dalam sebulan terakhir. Transaksi tersebut dilakukan pada harga rata-rata sekitar Rp15.044 per saham.
CGS International (YU) dan Maybank Sekuritas (ZP) juga melepas masing-masing sekitar 19,8 ribu lot dan 16,1 ribu lot, dengan nilai divestasi masing-masing sekitar Rp30,3 miliar dan Rp26 miliar. Sementara itu, DBS Vickers Sekuritas (DP) menjual sekitar 6,7 ribu lot saham BYAN dengan nilai Rp10,7 miliar pada harga rata-rata Rp15.510 per saham.
Saham BYAN Bergerak Fluktuatif
Di lantai bursa, pergerakan BYAN berlangsung cukup volatil pada perdagangan Rabu. Saham sempat turun hingga Rp13.300 per saham, sebelum kembali ke level pembukaan di sekitar Rp13.775 per saham. Setelah tekanan jual tersebut, kapitalisasi pasar BYAN berada di sekitar Rp459,16 triliun. Jumlah saham beredar mencapai sekitar 33,33 miliar lembar dengan tingkat free float sebesar 21,29%. Saat ini, sekitar 40,25% saham BYAN dimiliki Low Tuck Kwong, sementara sekitar 22% lainnya dikuasai putrinya, Elaine Low.
Haji Isam Tawar US$3 Miliar
Kabar mengenai aksi korporasi tersebut muncul setelah Haji Isam disebut menawarkan sekitar US$3 miliar secara tunai untuk mengakuisisi 62% saham Bayan Resources. Sebagian pembayaran berpotensi dilakukan secara bertahap. Jika transaksi tersebut terealisasi pada nilai yang diberitakan, harga penawaran akan mencerminkan diskon sekitar 80% terhadap harga pasar saham BYAN saat ini.
Besarnya perbedaan tersebut menjadi perhatian pasar karena saham BYAN memiliki free float yang relatif terbatas dan likuiditas perdagangan yang tidak terlalu besar. Kondisi tersebut dapat membuat harga saham di pasar publik berada jauh di atas nilai yang bersedia dibayarkan untuk blok saham pengendali dalam transaksi privat.
Prospek Batu Bara Jadi Pertimbangan
Selain struktur kepemilikan dan likuiditas saham, kondisi industri batu bara juga menjadi salah satu pertimbangan dalam valuasi Bayan Resources. Prospek jangka panjang batu bara termal menghadapi tekanan seiring peralihan menuju sumber energi yang lebih bersih. Di dalam negeri, kebijakan pemerintah mengenai kuota produksi batu bara juga membatasi ruang produksi sejumlah perusahaan tambang.
Bayan menjadi salah satu perusahaan yang terdampak cukup besar oleh kebijakan pengurangan kuota produksi tersebut. Kondisi ini turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi valuasi perusahaan di tengah tekanan terhadap industri batu bara.
Negosiasi Masih Berlangsung
Pembicaraan antara pihak Haji Isam dan keluarga Low hingga kini masih berlangsung dan belum ada kepastian bahwa transaksi akan mencapai kesepakatan. Jika seluruh persyaratan dapat disepakati, transaksi tersebut berpotensi rampung sebelum akhir tahun. Haji Isam disebut berpeluang memperoleh pendanaan dari bank-bank milik negara Indonesia untuk mendukung rencana akuisisi tersebut. Jika berhasil, transaksi ini akan menjadikan Isam sebagai salah satu pengusaha batu bara terbesar di Asia Tenggara.
Bayan Tetap Jadi Pemain Batu Bara Besar
Bayan Resources memiliki sejumlah aset penting, termasuk operasi pertambangan dan pelabuhan di Indonesia. Perseroan menjual sekitar 68 juta metrik ton batu bara pada tahun lalu dengan pendapatan sekitar US$3,4 miliar. Di sisi lain, Jhonlin Group milik Haji Isam juga merupakan salah satu pemain besar di industri batu bara Indonesia dan sebelumnya mengajukan kuota produksi sekitar 60 juta ton untuk tahun ini.
Jika akuisisi BYAN benar-benar terealisasi, transaksi tersebut akan menjadi perubahan besar dalam struktur kepemilikan salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Namun, selama negosiasi belum final, aksi jual maupun volatilitas saham BYAN masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan informasi mengenai harga penawaran, pendanaan, serta peluang tercapainya kesepakatan.

