[Medan | 26 Oktober 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah mencatat reli selama empat hari berturut-turut pada pekan lalu. Indeks sempat turun 1,5% ke level 5.349 pada Sesi I, di tengah tekanan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dan berlanjutnya ketidakpastian di pasar.
IHSG bergerak dalam rentang 5.453 hingga 5.349 pada perdagangan pagi. Namun, tekanan mulai mereda. Pada pukul 10.25 WIB, IHSG tercatat melemah 0,62% ke level 5.404,37.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi mencapai Rp5,22 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 13,5 miliar saham dan frekuensi transaksi 809 ribu kali. Sebanyak 423 saham melemah, sementara 207 saham menguat dan 157 saham bergerak stagnan.
Saham Big Caps Jadi Pemberat IHSG
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, infrastruktur, dan transportasi yang masing-masing melemah 2,19%, 1,29%, dan 1,17%. Pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar turut menyeret indeks karena memiliki bobot signifikan dalam perhitungan IHSG.
Mengacu pada data Bloomberg, sejumlah saham yang menjadi pemberat indeks antara lain:
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): kontribusi negatif 11,85 poin.
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): 7,21 poin.
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): 5,55 poin.
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): 5,03 poin.
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN): 4,94 poin.
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA): 3,85 poin.
- PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA): 2,79 poin.
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): 2,73 poin.
- PT Astra International Tbk (ASII): 2,44 poin.
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): 1,98 poin.
Tekanan Asing dan Ketidakpastian MSCI Masih Membayangi
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pergerakan IHSG masih dibayangi derasnya aksi jual bersih investor asing (foreign net sell) serta ketidakpastian terkait rebalancing indeks MSCI. Pelaku pasar juga mencermati efektivitas reformasi pasar modal yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI. Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah rencana mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Di luar faktor domestik, volatilitas harga minyak mentah dunia dan pelemahan rupiah yang berada di atas Rp18.100 per dolar AS turut memengaruhi persepsi risiko investor. Pasar juga masih memperhitungkan dinamika pasar global serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Phintraco Sekuritas turut mengingatkan investor untuk mencermati dampak kenaikan harga minyak, koreksi harga emas, dan depresiasi rupiah. “Secara teknikal IHSG berpeluang menguji level resistance 5.500–5.600. Namun waspadai sentimen negatif dari eksternal dan profit taking,” tulis Phintraco Sekuritas dalam catatan terbarunya.
Profit Taking Setelah Reli Hampir 9%
Aksi ambil untung (profit taking) berpotensi menjadi salah satu faktor yang menjelaskan koreksi IHSG hari ini. Pada pekan lalu, indeks mencatat kenaikan selama empat hari perdagangan berturut-turut dengan akumulasi penguatan hampir 9%. Kenaikan tajam dalam waktu relatif singkat dapat mendorong sebagian investor merealisasikan keuntungan, terutama ketika pasar masih menghadapi tekanan dari investor asing dan ketidakpastian terkait MSCI.
Meski demikian, koreksi IHSG tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan profit taking. Tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar, pelemahan rupiah, serta sentimen eksternal masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk menilai arah pergerakan indeks selanjutnya.

