IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Bisnis

IHSG Anjlok 1% Lebih Lagi, Terkena Aksi Profit Taking?

By Aurelia 3 hours ago Bisnis
Image source: AP/ kabarbursa.com
SHARE

[Medan | 26 Oktober 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah mencatat reli selama empat hari berturut-turut pada pekan lalu. Indeks sempat turun 1,5% ke level 5.349 pada Sesi I, di tengah tekanan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dan berlanjutnya ketidakpastian di pasar.

IHSG bergerak dalam rentang 5.453 hingga 5.349 pada perdagangan pagi. Namun, tekanan mulai mereda. Pada pukul 10.25 WIB, IHSG tercatat melemah 0,62% ke level 5.404,37.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi mencapai Rp5,22 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 13,5 miliar saham dan frekuensi transaksi 809 ribu kali. Sebanyak 423 saham melemah, sementara 207 saham menguat dan 157 saham bergerak stagnan.

Saham Big Caps Jadi Pemberat IHSG

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, infrastruktur, dan transportasi yang masing-masing melemah 2,19%, 1,29%, dan 1,17%. Pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar turut menyeret indeks karena memiliki bobot signifikan dalam perhitungan IHSG.

Mengacu pada data Bloomberg, sejumlah saham yang menjadi pemberat indeks antara lain:

  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): kontribusi negatif 11,85 poin.
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): 7,21 poin.
  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): 5,55 poin.
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): 5,03 poin.
  • PT Bayan Resources Tbk (BYAN): 4,94 poin.
  • PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA): 3,85 poin.
  • PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA): 2,79 poin.
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): 2,73 poin.
  • PT Astra International Tbk (ASII): 2,44 poin.
  • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): 1,98 poin.

Tekanan Asing dan Ketidakpastian MSCI Masih Membayangi

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pergerakan IHSG masih dibayangi derasnya aksi jual bersih investor asing (foreign net sell) serta ketidakpastian terkait rebalancing indeks MSCI. Pelaku pasar juga mencermati efektivitas reformasi pasar modal yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI. Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah rencana mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.

Di luar faktor domestik, volatilitas harga minyak mentah dunia dan pelemahan rupiah yang berada di atas Rp18.100 per dolar AS turut memengaruhi persepsi risiko investor. Pasar juga masih memperhitungkan dinamika pasar global serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Phintraco Sekuritas turut mengingatkan investor untuk mencermati dampak kenaikan harga minyak, koreksi harga emas, dan depresiasi rupiah. “Secara teknikal IHSG berpeluang menguji level resistance 5.500–5.600. Namun waspadai sentimen negatif dari eksternal dan profit taking,” tulis Phintraco Sekuritas dalam catatan terbarunya.

Profit Taking Setelah Reli Hampir 9%

Aksi ambil untung (profit taking) berpotensi menjadi salah satu faktor yang menjelaskan koreksi IHSG hari ini. Pada pekan lalu, indeks mencatat kenaikan selama empat hari perdagangan berturut-turut dengan akumulasi penguatan hampir 9%. Kenaikan tajam dalam waktu relatif singkat dapat mendorong sebagian investor merealisasikan keuntungan, terutama ketika pasar masih menghadapi tekanan dari investor asing dan ketidakpastian terkait MSCI.

Meski demikian, koreksi IHSG tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan profit taking. Tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar, pelemahan rupiah, serta sentimen eksternal masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk menilai arah pergerakan indeks selanjutnya.

 

You Might Also Like

BUMI Akuisisi 100% Tambang Tembaga Australia Senilai US$22 Juta

BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari Perhitungan IHSG Mulai 2 November

Setelah Sempat Anjlok Sesaat, IHSG Balik Arah Naik 1% Lebih

Usai Periksa BREN hingga DSSA, OJK Kembali Selidiki 31 Saham HSC

Belum Kuat Bertahan, IHSG Turun 1% Lebih Lagi

Aurelia October 26, 2026 October 26, 2026
Previous Article Agenda Padat Pekan Ini, Ada Rapat Suku Bunga The Fed, ECB, BoJ
Next Article BUMI Akuisisi 100% Tambang Tembaga Australia Senilai US$22 Juta
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?